BAB 1 : IBU PERGI🥀

2 1 0
                                        

Raka masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.

Hari ketika ia pertama kali memahami bahwa dunia bisa berubah hanya dalam satu hari.

Saat itu Raka masih duduk di kelas 3 SD. Usianya baru sembilan tahun. Ia masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan, terlalu polos untuk mengerti mengapa orang-orang di rumahnya menangis, dan terlalu muda untuk mengetahui bahwa seseorang yang pergi untuk selamanya tidak akan pernah kembali meskipun kita menunggunya sepanjang hidup.

Pagi itu sebenarnya terlihat seperti pagi-pagi biasanya.

Ibu mengantarkan Raka ke sekolah dengan sepeda motor tua mereka. Tas kecil berwarna biru tergantung di punggungnya. Rambutnya sedikit berantakan karena terkena angin.

"Jangan lupa makan bekal yang Ibu kasih," kata Ibu sebelum Raka turun.

Raka mengangguk.

"Iya, Bu." Ucap raka"Terus kalau pulang jangan langsung main." Ucap sang ibu "Iya." Ucap raka dengan singkat "Belajar dulu." Ucap ibu "Iya, Ibu."jawab Raka dengan senyum paksa. Ibu tersenyum "Anak pintar." Raka tertawa kecil.

Sebelum masuk ke gerbang sekolah, Raka sempat berbalik. "Ibu!" Panggil Raka "Kenapa?"tanya sang ibu "Nanti jemput, kan?"tanya Raka dengan alis yang naik.
Ibu tersenyum sambil menganggukkan kepala "Iya. Ibu jemput."

Itulah percakapan terakhir Raka dengan ibunya.

Saat itu ia tidak tahu.

Ia tidak tahu bahwa janji sederhana itu adalah janji terakhir yang tidak akan pernah bisa ditepati.

..

Pelajaran pertama berlangsung seperti biasa.

Raka duduk di bangku kedua dari belakang. Ia mengeluarkan buku tulis dan pensil dari tas.

Namun entah mengapa, hari itu pikirannya terasa tidak tenang.

Beberapa kali ia melihat keluar jendela.

Langit terlihat mendung.

Guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas ketika tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.

Seorang guru lain masuk. "Raka?"panggil guru itu, Raka mengangkat kepala."Iya, Bu?"jawab Raka dengan heran."Ikut Ibu sebentar."ucap sang ibu dan membuat Raka bingung. "Kenapa bu?" Tanya Raka namun guru itu tidak langsung menjawab, Ia hanya tersenyum tipis. "Ada yang mau menemui kamu."

Raka berdiri dan ia berjalan keluar kelas dengan perasaan aneh. Di koridor, ia melihat ayahnya, Ayah berdiri diam dengan wajahnya pucat, matanya terlihat merah. Raka yang melihat itu langsung berlari. "Ayah!"panggil raka. Ayah berjongkok dan memeluknya. Pelukan itu terasa berbeda, sangat erat. Raka yang awalnya tersenyum perlahan berhenti.

"Ayah kenapa?" Tanya Raka. Namun, sang ayah tidak menjawab. Raka melepaskan pelukannya sedikit. "Ibu mana?"tanya Raka. Pertanyaan itu membuat sang ayah menunduk. Raka menunggu jawaban dari ayahnya "Ayah..." Suara ayah terdengar bergetar. "Raka..."ucap ayah dengan ragu. "Ibu mana?"tanya Raka.

Ayah memejamkan mata. "Ibu sudah pergi."ucap sang ayah. Raka mengerutkan kening "Pergi ke mana?"tanya raka namun, sang ayah tidak menjawab. "Kan Ibu bilang mau jemput Raka."ucap raka dengan nada kecewa. Ayah menarik napas panjang "Raka..."ucap sang ayah dengan ragu "Ibu di rumah?"tanya Raka. Ayah menggeleng "Di rumah sakit?"tanya raka

Ayah kembali menggeleng "Terus di mana?"tanya Raka dengan nada yang gelisah. Air mata ayah jatuh dan saat itulah Raka mulai takut. "Ibu sudah meninggal, Nak."

Kalimat itu terasa seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh. Raka menatap ayahnya, ia tidak mengerti juga tidak percaya.

"Enggak."ucap raka dengan gemetar. Ayah memegang bahunya. "Raka..."panggil sang ayah "Enggak!" Raka menarik tangannya. "Ibu cuma pergi sebentar!"ucap raka lalu ia berlari.
Namun ayah mengejarnya dan memeluknya kembali.

Raka menangis.

"Ibu bilang mau jemput aku!"

Tangisnya semakin keras.

"Ibu janji!"

Ayah tidak mampu berkata apa-apa.

Karena untuk pertama kalinya, seorang ayah harus menjelaskan kepada anaknya bahwa ada janji yang tidak bisa ditepati bukan karena seseorang mengingkarinya, tetapi karena hidup memiliki akhir yang tidak bisa kita pilih.

...

Hari pemakaman terasa seperti mimpi bagi Raka. Banyak orang yang datang, dan semua memakai pakaian gelap. Semua berbicara dengan suara pelan. Semua terlihat sedih. Tetapi Raka hanya mencari satu orang yaitu Ibunya. Ia berdiri di antara kerumunan. Matanya menatap ke depan "Ibu di mana?" Ucapnya dengan suara pelan namun tidak ada yang menjawab.

Raka melihat ayahnya."Ayah..."panggil raka. Sang Ayah menggenggam tangannya. "Jangan lihat ke sana."ucap sang ayah "Tapi aku mau lihat Ibu."ucap raka. Sang Ayah terdiam."Kenapa Ibu ditutup?" Raka bertanya polos. Tidak ada jawaban. Akhirnya ia menangis lagi.

Hari itu ia tidak memahami kematian.

Ia hanya memahami bahwa setelah hari itu, ibunya tidak akan lagi membangunkannya.

Tidak akan lagi membuatkan sarapan.

Tidak akan lagi memarahinya karena lupa belajar.

Tidak akan lagi mengantarnya ke sekolah.

Dan yang paling menyakitkan...

tidak akan pernah lagi menjawab ketika Raka memanggil namanya.

...

Malam pertama tanpa ibu terasa sangat panjang. Raka berbaring di kamar. Lampu sudah dimatikan. Namun matanya tidak bisa terpejam, Biasanya sebelum tidur, ibu akan masuk ke kamarnya, merapikan selimut, menyentuh dahinya. Kemudian berkata,
"

Selamat tidur, anak Ibu." Malam itu tidak ada siapa-siapa. Raka menatap pintu.

Menunggu.

Mungkin ibu akan masuk.

Mungkin semuanya hanya mimpi.

Mungkin besok pagi ketika ia bangun, ibu akan berada di dapur seperti biasanya. Raka menarik selimut sampai ke dada.
"Bu..."panggil raka namun tidak ada jawaban. "Bu, Raka belum tidur."panggil sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban.

Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. "Besok jemput Raka, ya."ucap raka dengan gemetar.

Hening.

"Raka janji bakal belajar." Tangisnya semakin deras. "Raka enggak nakal lagi."
Ia memeluk bantal, "Jangan pergi lama-lama, Bu."ucap raka dengan air mata yang terus turun, namun malam itu tidak ada seorang pun yang menjawab.

Dan tanpa Raka sadari, malam tersebut menjadi malam pertama dari ribuan malam yang akan ia lalui tanpa ibunya.





~~~ Raka ~~~

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun suatu hari nanti, kita akan belajar bahwa kehilangan bukan berarti hidup kita juga harus berhenti

Yaa,gimana gimana? Bagus gak?
Kali ini beda ya dari cerita cerita sebelumnya...

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Sep 05 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

18 tahunHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora