"Apa aku boleh minta satu hal, Sa?" tanya Melodi dengan kepala terangkat untuk kemudian bisa menatap wajah Taksa yang lebih sering terlihat pucat. Tatapannya penuh harap. Senyumnya yang tipis cukup menggambarkan kekhawatirannya.
Taksa menabrakkan tatapannya dengan sepasang iris hitam bersih milik Melodi. Lalu, ia menarik kedua sudut bibirnya untuk membalas senyum tipis sang kekasih. Tangannya terangkat dan ia mainkan dengan lembut di puncak kepala perempuan manis berlesung pipi itu.
"Asal jangan minta digendong. Aku sudah nggak kuat," jawab Taksa setengah bercanda dengan tawa kecilnya. Apa yang dikatakan adalah gambaran kondisinya yang tak lagi sama seperti dulu.
Bibirnya boleh tersenyum, tetapi hatinya terasa tercubit. Melodi merasakan kesedihan yang bahkan diungkapkan saja takkan bisa menguranginya. Hanya saja, ia selalu mencoba untuk tidak menampakkan itu. Sebab, Melodi tahu, bahwa Taksa tak menyukai kesedihannya.
Melodi menggeleng pelan.
"Memangnya mau minta apa?" tanya Taksa dengan nada suara lembut selembut embusan angin danau yang menyapa kulit.
"Kamu harus janji satu hal sama aku."
Melodi menjeda ucapannya. Ia menatap intens laki-laki berparas gagah yang tengah duduk di sampingnya. "Kembalilah dengan kondisi baik."
Tidak ada suara yang terdengar dari bibir Taksa. Jantungnya berdegup kencang mendengar permintaan Melodi. Rasanya sangat berat menjanjikan satu hal yang Taksa sendiri tidak tahu kemungkinannya.
"Kenapa? Kamu nggak mau?"
Hanya untuk membayar kekhawatiran yang tak pernah hilang dari Melodi, Taksa memaksa kepalanya mengangguk. "Aku janji akan segera kembali dengan kondisi baik-baik saja," ucapnya pasti.
"Ready?"
Taksa tersentak ketika suara Tristan-sang asisten-tiba-tiba terdengar. Kepingan peristiwa di pertemuan terakhirnya dengan Melodi buyar dalam sekejap mata. Ia menatap tajam Tristan seraya menahan rasa kesalnya. Sudah menjadi kebiasaan laki-laki yang bertaut umur dua tahun di atasnya itu membuatnya kaget.
"Sorry! Nggak sengaja," ucap Tristan seraya mempertontonkan cengiran kudanya. Ucapan yang selalu ia perdengarkan ketika membuat kaget tuannya itu.
"Penerbangan jam berapa?" tanya Taksa masih dengan kondisi meredam rasa kesal pada Tristan. Ia menyeruput jus terakhirnya.
"Jam sembilan ini."
Taksa langsung melirik smartwatch yang selalu melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Masih ada waktu," balasnya santai dan menyandarkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu.
"Lebih cepat, lebih baik," sahut Tristan cepat. Ia tidak ingin terburu-buru.
"Lebih cepat ke airport nggak bikin kita lebih cepat sampai Indo juga, kan, Tris?"
Tristan kehilangan kata. Jawaban Taksa memang ada benarnya. Tidak merasa dikejar-kejar waktu jauh lebih baik baginya. Namun, bukan Taksa namanya jika tidak membuatnya tergesa.
"Kamu tahu, kan, kalau sampai telat?" Tristan menatap Taksa yang masih santai dengan gawai di tangan. "Artinya, kamu juga nunda waktu ketemu Melodi."
Seperti sebelum-sebelumnya, perhatian Taksa akan teralihkan jika sudah menyangkut Melodi. Ia menatap Tristan yang berdiri dengan posisi tangan terlipat di dada.
"Bagaimana?"
Taksa mendengus kesal. "Aish! Kamu tahu saja senjata buat bisa ngalahin aku."
"Lho, memang tujuan pulangmu Melodi, kan? Salahnya di mana?"
Hanya senyum tipis yang diperlihatkan Taksa. Tidak ada yang salah dengan ucapan Tristan. Apa yang diucapkan Tristan tak bisa terbantahkan. Ya, karena tujuannya kembali adalah Melodi. Meskipun ada janji yang tak bisa ia tepati.
Seakan lupa akan segera berangkat. Tristan mendaratkan bokongnya di samping Taksa. Ia duduk dengan posisi lebih santai dari tuannya-kaki bersilang dan tangan yang menyangga kepala dengan posisi tubuh bersandar.
"Tapi, aku nggak yakin kalau kamu benar-benar sudah siap ketemu Melodi," ucapnya terlalu santai. Ia melirik Taksa dengan ekor mata. Laki-laki itu bergeming.
"Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah penantian tanpa kabar dan kejelasan."
Taksa tidak perlu menunggu penjelasan lebih rinci terkait ucapan Tristan tadi. Ia sudah tahu lebih jelas tentang semuanya. Sebab itulah, ia memilih diam.
"Kalau aku jadi Melodi, aku sudah milih buat cari laki-laki lain." Tristan tak berniat memancing emosi. Tristan hanya ingin mencandai Taksa yang ekspresi wajahnya sudah mulai berubah.
"Jadi, aku harus pulang atau nggak?"
Kening Tristan mengkerut mendengar pertanyaan Taksa. Candaannya ternyata cukup membuat Taksa ragu atas keputusannya.
"Kenapa malah jadi ragu?"
Taksa tak menjawab.
"Harusnya siap nggak siap, mau nggak mau kamu harus terima dong resikonya. Bukannya ini semua salahmu, Sa? Kamu yang menutup semua akses untuk Melodi. Kamu yang nggak mau Melodi tahu tentang apapun yang menyangkut kamu."
Tristan sedikit kesal. Ia menghela napas panjang dan berat.
"Ok! Aku yang salah. Tapi, kamu nggak perlu sampai marah-marah kayak gitu."
"Kesal aku, Sa, sama kamu."
Taksa menahan tawanya untuk menghindari kemarahan Tristan yang bisa saja menjadi-jadi. "Mau lanjut marah atau kita berangkat sekarang?"
"Berangkat sekarang. Aku nggak mau dikejar waktu," jawab Tristan cepat.
Taksa mengangguk dan bangkit dari sofa. Ia menarik paksa Tristan dari posisinya. Lalu, mendorong pelan tubuh Tristan untuk berjalan lebih dulu seraya menyeret koper.
Baru saja Tristan menyentuh handel pintu. Tangan Taksa menyentuh pundak Tristan hingga pergerakan laki-laki itu terhenti.
"Kenapa?"
"Kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan kalau sudah sampai Indo?" tanya Taksa dengan nada serius. Begitu juga dengan tatapan yang menghujam Tristan sangat intens.
Tristan terdiam sejenak dengan wajah datarnya. Namun, detik selanjutnya ia mengangguk dan mengulum senyum paksa.
Melihat itu, ada beban yang terhempas di dada Taksa. Hingga kakinya bisa melaju dengan tenang meninggalkan bangunan yang menemaninya selama tiga tahun terakhir.
"Amsterdam, sampai jumpa di lain waktu."
KAMU SEDANG MEMBACA
(BUKAN) CINTA SEGITIGA
RomancePULANG. Satu kata yang selalu dijadikan rindu oleh Taksa. Pulang bukan hanya sebatas pulang. Namun, menemui kembali sepotong hati yang ia tinggalkan berbalut janji akan segera kembali dalam keadaan baik. Tepat di tahun ketiga. Taksa membawa langkah...
