Bel kecil di pintu toko Nainshi berbunyi lebih halus dari bel di toko Hamura-nadanya benar, disetel, seperti pemiliknya masih peduli soal hal-hal kecil semacam itu.
Toko ini kecil, penuh sesak dengan cara yang rapi-rak-rak kertas disusun menurut warna, bukan ukuran, botol tinta berjejer di jendela seperti kaca patri kecil yang menyaring cahaya sore jadi ungu dan hijau di lantai kayu. Di sudut, tumpukan kotak berlabel tulisan tangan menunggu diangkut ke Arsip Distrik-barang-barang orang lain yang sudah berhenti diperlukan, menunggu giliran dicatat sebelum dilupakan secara resmi.
Nainshi mendongak dari meja kerjanya, penuh gulungan kertas dan botol tinta berbagai warna, dan ekspresinya berubah begitu cepat-dari terkejut, ke lega, ke curiga-sehingga Fuyuki nyaris menyesal sudah datang sebelum sempat bicara sepatah kata pun.
"Kamu masih hidup," katanya, nadanya setengah bercanda, setengah tidak.
"Masih."
"Duduk. Kamu keliatan kayak abis lewat sesuatu yang nggak enak diliat."
Dia tidak duduk. Tapi dia juga tidak pergi, yang, untuk seseorang seperti Fuyuki, adalah bentuk kompromi paling jauh yang bisa dia tawarkan.
"Ada sesuatu di gang itu," dia bilang, akhirnya, memilih kalimat paling pendek yang masih bisa menjelaskan sesuatu. "Namanya VANN."
Tangan Nainshi berhenti di tengah gerakan mengaduk tinta. "Gang yang mana."
"Yang kemarin. Yang bikin aku lupa nama sendiri."
"Kamu BALIK ke sana?" Suaranya naik satu oktaf, mirip Sielha, meski dia jelas tidak tahu itu. "Fuyuki, aku-oke. Oke. Cerita. Semuanya."
Dia tidak menceritakan semuanya. Dia menceritakan cukup-gang itu, sosok berbentuk lipatan kertas, cara bicaranya seperti mengoreksi naskah, pertanyaan soal ayahnya, dan apa yang terjadi setelahnya. Dia tidak menceritakan foto itu secara langsung. Dia hanya menyentuh sisi tasnya sebentar, tanpa sadar, dan Nainshi, yang sudah cukup lama mengenalnya untuk membaca gerakan sekecil itu, tidak bertanya lebih jauh soal itu.
"Wajah ayahmu," Nainshi ulang, pelan, seperti mengetes berat kalimat itu di mulutnya sendiri. "Fuyuki. Itu bukan simbol. Itu bukan angka. Itu-"
"Aku tau."
"Kamu TAU tapi kamu tetep balik ke sana."
"Aku mau tau apa itu."
"Sekarang kamu tau. Puas?"
Dia tidak menjawab, karena jujur, jawabannya rumit, dan dia tidak punya energi untuk kalimat yang rumit hari ini.
Nainshi berdiri, tanpa bilang apa-apa, dan menuang sesuatu dari teko kecil di sudut meja kerjanya ke dalam cangkir yang sudah agak retak di pinggirnya. Dia sodorkan ke Fuyuki tanpa bertanya apakah dia mau.
"Minum. Bukan buat nyembuhin apa pun. Cuma biar tanganmu ada kerjaan sebentar selain megangin tali tas."
Dia terima cangkir itu, tidak minum, hanya menggenggamnya, hangat di telapak tangan yang baru sadar sudah cukup lama dingin.
Nainshi menghela napas, panjang, menahan sesuatu yang kelihatannya ingin dia lempar-buku, botol tinta, mungkin kemarahan itu sendiri-tapi tidak jadi. Dia duduk kembali, lebih pelan dari sebelumnya, seperti energi marahnya sudah habis lebih cepat dari biasanya.
"Ada nama yang kamu sebut tadi," dia bilang. "VANN. Aku pernah denger nama itu. Sekali. Dari orang yang sekarang cuma duduk di bangku sepanjang hari di Ash Parade, ngomong sendiri, atau ngomong ke banyak orang sekaligus, tergantung lagi versi mana yang dia."
"Versi?"
"Namanya Morino." Nainshi ragu sebentar sebelum lanjut, jarinya mengetuk-ngetuk pinggir meja tanpa sadar, seperti kebiasaan yang muncul cuma saat dia gugup. "Orang-orang bilang dia nggak bisa mati. Aku nggak tau itu bener atau cuma cerita yang keburu jadi kebenaran karena keseringan diulang. Tapi kalau ada yang tau soal apa yang terjadi kalau kamu kehabisan hal buat hilang... mungkin dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tertoreh
AksiAda kota yang belum selesai dibangun. Ada orang-orang yang seharusnya sudah dilupakan. Ada jalan yang tidak pernah tercatat. Dan ada seorang anak laki-laki yang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Fuyuki tinggal di Velmire, kota tempat keanehan sud...
