"Semuanya, saatnya kita pamit kepada para pembaca kita." Ucap Cyrene sambil mengusap halaman terakhir buku yang ada di pangkuannya. "Kita sudah sampai di halaman terakhir, jangan sampai ada penyesalan ya!" Sambungnya.
Mereka semua tersenyum sambil bertukar tatap satu sama lain. Tidak ada sedikitpun kesedihan yang terlihat di wajah mereka. Mereka paham jika inilah akhir bahagia yang mereka nantikan selama ini.
Satu persatu mereka menuliskan kata-kata terakhir mereka. Kata-kata yang mereka mereka harapkan sampai ke hati para pembaca. Kata-kata yang mereka sampaikan tidak selalu penuh dengan keseriusan. Terkadang ada gurauan tentang isi kamus, selera berpakaian, bahkan sebuah lelucon gelap tentang takdir seseorang penyelamat.
"Huh?"
Cyrene kebingungan begitu ia membuka kelopak matanya. Ini terlalu jauh dari ekspektasinya. Jauh, bahkan terlalu jauh sampai ia kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikannya.
Para Chrysos heir tiba-tiba berada di Okhema, tepat berada aula di hadapan kephale.
Burung-burung berkicau, langit biru dengan sedikit berawan. Matahari yang bersinar terang dengan udara sejuk khas Okhema. Semuanya nampak normal seeprti sebelumnya.
Mereka semua saling bertukar pandang. Kecuali Phainon yang sejak awal terdiam mematung menghadap kephale.
"Uh.. Cyrene, bukanya cerita kita sudah selesai?" Tanya Tribios dengan nada khawatir.
Cyrene terdiam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan keatas dan ke bawah. Ia mencoba memastikan semuanya yang ia lihat itu nyata dan bukna ilusi semata.
"Hah, bahkan penulisnya pun kebingungan. Dia tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu." Sahut Mydeimos.
Sementara itu,
"Aglaea, jangan kau pikir kau bisa lolos dariku."
Disisi lain, Anaxagoras sepertinya memiliki urusan lain yang belum selesai.
"Kenapa kau malah muncul setelahku? Seharusnya kamu yang muncul terakhir sebagai penutup cerita ini!"
"Profesor, kurasa bukan itu yang harus kita khawatirkan saat ini.." Hyacine berusaha menenangkannya.
Aglaea terdiam membuang wajahnya, kedua tanganya terlipat dengan anggun. Sudah jelas jika itu bukanlah inti masalahnya kali ini, namun tetap saja hal itu menarik perhatian pada Chrysos Heirs yang lain.
Dibalik sosoknya yang anggun itu, ternyata menyimpan kejutan tak terduga. Wajah Aglaea memerah seperti tomat. Seolah ia tengah merasakan rasa malu yang luar biasa dalam hidupnya.
"Uhhh.. Anaxagoras, bu-bukanya ada ha-hal lain yang harus kita khawatirkan saat ini?" Jawab Aglaea dengan gugup.
Sikap Aglaea yang aneh itu tentu memicu perhatian dari Chrysos Heirs yang lain. Sebagian dari mereka baru pertama kali mendengar Aglaea gugup seperti itu, mengingat setegas apa ia sebelumnya.
"Aglaea!" Anaxagoras melangkah menghampirinya.
"Tu-tunggu bocah mata satu! Ini bukan saatnya untuk berdebat!" Ciphera mencoba menengahi mereka.
"Wanita kucing, kau tahu aku tidak menyukaimu. Tapi harusnya kau mempertanyakan hal yang sama denganku." Anaxagoras malah melotot kearah Ciphera.
"I-iya aku tahu! Aku sempat menyanggahnya! Ta-tapi.."
"Hentikan, memperdebatkan hal konyol semacam ini. Kau seharusnya malu Anaxagoras!" Kaisar Cerydra menyahut. Disebelahnya berdiri Hysilens yang hanya tersenyum dan tidak mempermasalahkan apapun saat itu.
Anaxagoras menatap tajam kearah Aglaea. Karena menyadari ada sesuatu yang janggal ia mulai memperhatikan wajah Aglaea dari samping karena Ciphera menghalangi jalannya.
Setelah beberapa saat ia spontan terkejut, ia sadar akan sesuatu. Sebuah fakta mencengangkan yang bahkan ia sendiri butuh waktu untuk memprosesnya.
"Aglaea, kau mendapatkan 'kemanusiaan'mu kembali..?"
Aglaea terkejut mendengar perkataan dari Anaxagoras. Wajahnya makin memerah sampai-sampai ia harus menutupnya dengan kedua telapak tangannya.
Ia mengangguk pelan, Aglaea mengakuinya. Anaxa semakin kaget dan bingung. Namun Tribios, Hyacine dan Castorice tersenyum sambil memperhatikan mereka karena alasan yang berbeda.
Selang beberapa saat, Castorice menyadari ada hal yang aneh pada Phainon. Sejak awal ia berdiri mematung membelakangi teman-temannya. Ia berdiri menghadap patung Kephale tanpa bergeming sedikitpun.
"Tuan Phainon?" Panggil Castorice pelan.
Spontan seluruh perhatian mereka kini tertuju kepada Phainon.
"Oi penyelamat, mau sampai kapan kau terdiam begitu?"
"Bocah penyelamat, apa kamu sakit?"
"Emm, Phainon, ada apa? Kamu membuat kami khawatir.." Cyrene mulai melangkah menghampiri Phainon.
Tidak ada jawaban yang terdengar dari Phainon. Namun selang beberapa saat, terdengar hembusan pelan nafasnya yang sedikit berat.
"Phainon, penyelamat, bocah penyelamat, sudah lama sekali sejak terakhir aku mendengar panggilan-panggilan itu.." Suara Phainon terdengar lebih dalam dan berat dari biasanya.
"Eh?"
"Ja-jangan-jangan..!" Mydeimos spontan memasang kuda-kuda bertarungnya.
Perlahan ia melirik kearah teman-temannya. Suasana pun langsung berubah menjadi tegang. Mereka semua spontan mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk bertarung.
"Mulai sekarang, aku adalah.." Phainon melanjutkan kata-katanya. Ia merogoh sesuatu di balik jubahnya kemudian mengeluarkan sebuah tongkat baseball. "Phainon sang Trailblazer! (Perintis). Ahaha." Sambungnya sambil tertawa kecil.
"Lihat ini Cyrene! Trailblazer memberikan tongkat pemukul ini kepadaku! Dia memberikan ini agar kita serasi sebagai rekan sejawat! Bukanya ini hebat!?" Ujar Phainon sambil memamerkan tongkat baseballnya itu.
Seketika mereka pun menghela nafas lega. Para Chrysos Heirs pun menyingkirkan senjata senjata mereka dan ikut tersenyum melihat tingkah Phainon.
Namun berbeda dengan yang lain, Anaxagoras dan Aglaea langsung menghampiri Phainon dan langsung menjewer kupingnya.
"Phainon! Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, jangan membuat ucapanmu terdengar ambigu! Susun kata-katanya dengan benar!"
"Jantungku hampir berhenti! Kenapa kamu mengatakanya dengan cara seperti itu!?"
Phainon meringis pelan. Namun bukan karena kesakitan, tapi untuk menyesuaikan dirinya dengan suasana ini.
"Ahaha, maaf, maaf, Professor Anaxa, Aglaea."
"Humph!" Aglaea dan Anaxagoras mendengus bersamaan.
Cyrene dan yang lainnya hanya bisa tersenyum penuh arti.
"Mereka berdua seperti orang tuanya saja." Batin Cyrene dan yang lainnya.
To be continued.
YOU ARE READING
Amphoreus Epilogue Fanfict
FanfictionKelanjutan cerita setelah perpisahan Trailblazer dengan Chrysos Heirs. Sementara Trailblazer kembali melanjutkan perintisan ke planet berikutnya, kisah para Chrysos Heirs kembali berlanjut di "As I Written".
