Gelak tawa yang sempat membahana di ruang keluarga seluas delapan kali enam meter itu perlahan-lahan menyurut. Suasana yang tadinya bising oleh seloroh kekeluargaan kini bertransformasi menjadi sebuah keheningan yang tenang-sebuah kehangatan kasatmata yang seolah membalut dan memeluk erat ketiga insan di dalamnya. Sisa-sisa aroma minyak kayu putih dan teh melati yang hangat masih mengambang di udara, berpadu dengan hembusan pendingin ruangan yang berhembus konstan.
Vano, yang helai-helai rambut hitamnya masih sedikit berantakan akibat ulah jemari Julian beberapa saat lalu, mendumel pelan. Dengan gerakan agak kikuk, anak laki-laki itu membetulkan posisi duduknya yang sedikit meluncur turun di sofa. Pipi pucatnya-yang beberapa hari ini lebih mirip kertas kalkir-masih menyisakan semburat kemerahan tipis akibat ledekan tanpa ampun dari kedua orang tuanya.
"Lagian Papa ngaco," gumam Vano serak. Suaranya terdengar agak parau di pangkal tenggorokan, efek dari meminum bergelas-gelas air hangat dan kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih. Ia menyandarkan kembali kepalanya di dada bidang Julian, menikmati dentam detak jantung sang ayah yang selalu menjadi tempat berlabuh paling aman sejak ia kecil. "Siapa juga yang udah mau lulus? Abang ini baru kelas sebelas, Pa! Masa tiba-tiba dikerek naik ke kelas dua belas, lulus aja belum. Bikin kepala makin muter aja."
Julian kembali terkekeh pelan. Dada pria paruh baya itu bergetar halus, memberi sensasi nyaman bagi Vano yang sedang bersandar di sana. Jemari Julian yang kasar dan hangat mengusap bahu putranya-sebuah usapan perlahan yang justru membuat Julian menelan ludah dengan getir saat menyadari betapa bahu itu terasa semakin kurus, menonjolkan tulang belikat yang tak lagi terlapisi daging setebal dulu.
"Ya lagian gaya kamu mikirnya ketinggian, Bang," sahut Julian dengan nada menggoda namun terselip kelembutan yang dalam. "Masih kelas sebelas aja pusingnya udah kayak orang dewasa mau nyari modal nikah. Sok-sokan mau menanggung beban dunia sendirian, padahal badan cuma selebar papan begini."
"Tahu tuh si Abang," timpal Karin gemas. Wanita berparas anggun itu menggeser posisi duduknya di atas karpet bulu, mendekat ke arah sofa. Ia mementang senyum manis yang sanggup meruntuhkan segala bentuk kecanggihan argumen anak laki-lakinya. "Masih kelas sebelas SMA aja udah melamunkan masa depan yang jauh-jauh. Lagian, ujian semester aja belum lewat, Bang. Perjalanan Abang di SMA Garuda tuh masih panjang. Koridor sekolah masih luas buat ditarisi, teman-teman Abang juga masih setia nemenin."
Vano terdiam sejenak. Kalimat yang mengalir tenang dari bibir mamanya bagaikan anak panah yang menancap tepat di sudut hatinya yang paling dalam. Memang benar. Ia terlalu jauh melompat ke dalam kecemasan yang belum tentu terjadi. Ia baru berada di pertengahan masa putih-abu-masa-masa yang seharusnya diisi dengan kenakalan remaja, kebersamaan, dan riuh tawa. Baru kelas sebelas. Masih banyak hari-hari berdebu di koridor sekolah yang harus ia lewati bersama Daffa yang absurd, Davan yang selalu sibuk dengan gawai, Bagas yang sok tangguh, Reno yang lugu, dan tentunya... Aura.
Mengingat gadis Ketua OSIS dengan sorot mata tajam namun berhati lembut itu, dada Vano mendadak berdesir hangat. Bayangan wajah Aura yang tadi sore menatapnya penuh kekhawatiran berkelebat cepat di ingatan. Rasa bersalah dan sesak yang sempat mencengkeram dadanya kini perlahan melumer, berganti menjadi sebuah tekad tipis namun tajam yang mulai mengakar di dalam dasar hatinya.
"Tapi Ma... Pa..." gumam Vano pelan. Suaranya terdengar sangat hati-hati, seolah-olah jika ia menaikkan intonasinya satu oktaf saja, kehangatan di ruangan itu akan pecah berkeping-keping. Tatapan mata sayunya yang dibingkai lingkaran hitam memandang lurus ke arah ujung selimut tebal yang menutupi kakinya. "Besok... Abang boleh sekolah, kan?"
Karin dan Julian seketika saling bertukar pandang di atas kepala Vano. Keheningan mendadak menyergap kembali ruangan tersebut. Raut cemas dan rasa ragu yang sempat terhalau oleh kehangatan obrolan santai tadi, kini perlahan kembali membayangi wajah kedua orang tua itu. Senyum di bibir Karin perlahan memudar, berganti dengan guratan tebal kekhawatiran di dahinya.
