Sebelum Kelulusan

11 3 2
                                        

Bel berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Suara riuh langsung memenuhi lorong-lorong sekolah. Para siswa berhamburan keluar kelas, sebagian menuju kantin untuk mengisi perut, sementara sebagian lainnya memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Namun, Gavin tetap berada di tempatnya.

Ia lebih memilih menyantap bekal yang telah disiapkan ibunya daripada membeli makanan di kantin. Gavin memang jarang membeli jajanan atau makan di luar. Bukan karena tidak mampu, tetapi ia terbiasa menyisihkan uang yang dimilikinya untuk ditabung. Menurutnya, uang itu akan lebih berguna suatu hari nanti-entah untuk keperluan mendadak atau sekadar membiayai hobinya mendaki gunung.

"Hellow, Gavinnn..."

Suara ceria itu terdengar dari pintu kelas. Seorang perempuan berjalan menghampiri meja Gavin dengan langkah santai.

Gavin hanya melirik sekilas sebelum kembali melanjutkan makan.

Itu Ruka.

Ruka adalah teman Gavin sejak sekolah dasar. Gadis itu dikenal ceria, cerewet, dan cukup manis. Ia juga menjadi salah satu teman Gavin dalam beberapa perjalanan mendaki gunung. Berbeda dengan Gavin yang terbiasa hidup hemat, Ruka berasal dari keluarga berada dan cukup suka berfoya-foya.

"Vin, lu mau nggak pergi ke Pantai Banyuara habis kelulusan? Kita rayain kelulusan kita," tanya Ruka.

"Sama siapa aja?" Gavin balik bertanya.

"Gue, lu, Rahen, sama ceweknya Rahen, Iris," jawab Ruka.

Gavin terdiam sejenak sebelum mengangkat bahu.

"Nanti gue pikirin lagi."

Bel kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat telah berakhir. Ruka pun kembali ke kelasnya.

Kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung. Kali ini, suara Pak Tio yang mengajar mata pelajaran fisika memenuhi ruang kelas. Para siswa duduk tenang di tempat masing-masing, mendengarkan penjelasan yang diberikan.

Hingga akhirnya, pembelajaran selesai dan para siswa mulai bersiap untuk pulang.

"Gavin," panggil Pak Tio.

Gavin yang hendak beranjak menghentikan langkahnya.

"Bapak mau bicara sebentar sama kamu. Tunggu bapak di luar, ya," lanjut Pak Tio.

"Baiklah, Pak," jawab Gavin.

Gavin kemudian menunggu di luar kelas, sementara Pak Tio masih sibuk membereskan peralatan pembelajaran. Tidak lama kemudian, Rahen menghampirinya.

"Gavin, lu kok belum pulang?" tanya Rahen.

Gavin belum sempat menjawab ketika Pak Tio keluar dari kelas.

"Gavin, kamu mau ikut lomba fisika nggak? Yang diselenggarakan di Universitas Cendekia Nusantara?"

Gavin mengernyitkan dahi. Ia merasa sedikit bingung. Beberapa bulan lagi dirinya akan lulus, dan setahunya siswa kelas 12 sudah jarang mengikuti perlombaan seperti itu.

"Bukannya anak kelas 12 nggak ikut lomba lagi, ya, Pak?"

"Sebenarnya iya. Tapi syarat perlombaan ini memang untuk siswa kelas 12. Kalau kamu menang, kamu bakal mendapatkan beasiswa di universitas itu, sekaligus uang tunai, sertifikat, dan trofi," jelas Pak Tio.

Mendengar penjelasan tersebut, Gavin mulai tertarik. Beasiswa itu terdengar seperti kesempatan yang tidak boleh ia lewatkan. Terlebih lagi, ia tidak ingin terus membebani kedua orang tuanya untuk biaya pendidikannya nanti.

"WOHOOOO! Lu harus ikut, sih, Vin! Mana tahu lu menang dan dapat beasiswa di universitas top, coy! Universitas yang terkenal dengan mahasiswa-mahasiswinya yang berprestasi!" seru Rahen dengan penuh semangat.

SEARCHING FOR THE WORLD, FINDING HOMEStories to obsess over. Discover now