1

98 17 2
                                        

Malam itu, seorang pemuda bernama Lino berjalan gontai menyusuri trotoar. Rambutnya yang biasanya tertata kini berantakan diterpa angin malam. Kemejanya kusut, beberapa kancing bagian atas bahkan terbuka, seolah ia sudah terlalu lelah untuk peduli pada penampilannya sendiri.

Sudah tiga tahun Lino menganggur.
Selama itu pula ia berulang kali mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Ada yang tidak membalas sama sekali, ada yang menolaknya melalui pesan singkat, dan sisanya berakhir dengan kalimat yang sama, kami memilih kandidat lain. Lama-lama, penolakan itu terasa seperti tamparan yang datang setiap hari.

Yang lebih berat bukan hanya soal dirinya sendiri. Di rumah, ibunya hampir setiap hari mengomelinya karena belum juga mendapatkan pekerjaan.

Lino tahu ibunya tidak sepenuhnya salah. Ia juga tahu keadaan keluarga mereka tidak cukup baik untuk terus menopang seseorang yang sudah dewasa tetapi belum menghasilkan apa-apa. Namun mengetahui dirinya menjadi beban justru membuat dadanya semakin sesak.

Lino berhenti sejenak di bawah lampu jalan. Ia menatap kendaraan yang berlalu-lalang di hadapannya, kemudian mengusap wajah dengan kasar.

"Mau sampai kapan begini terus...?"

Ia kembali berjalan. Belum jauh dari tempatnya berdiri, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Lino mengeluarkannya dan menatap layar yang menyala, nama ibunya tertera di sana.

"Pasti nanyain kerja lagi," gumamnya lesu.

Panggilan itu terus berdering.
Akhirnya dengan enggan ia mengangkatnya."Halo, Bu?"

Suara ibunya langsung terdengar dari seberang. "Kamu di mana?"

"Masih di luar."

"Keluar terus. Sudah malam begini belum pulang?"

Lino menundukkan kepala sambil terus berjalan. "Iya, ini mau pulang."

"Mau pulang dari mana? Dari pagi kamu pergi, hasilnya apa?"
Ibunya menghela napas panjang.
"Lino, Ibu cuma mau kamu serius cari kerja. Sudah tiga tahun, Nak."

Jari Lino mengencang di sekitar ponselnya."iya, Bu. Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa sampai sekarang belum ada hasil?"

Pertanyaan itu membuat langkah Lino melambat. Ia ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa dirinya juga sudah berusaha, bahwa ia sudah berkali-kali mencoba, bahwa setiap penolakan sebenarnya juga membuatnya hancur. Tapi tidak satu pun keluar dari mulutnya.

"Maaf," hanya itu yang akhirnya mampu ia katakan.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara dari seberang. Lino menatap pantulan dirinya pada kaca sebuah toko yang sudah tutup. Wajahnya terlihat begitu lelah sampai ia sendiri hampir tidak mengenalinya. Malam itu Lino benar-benar merasa tidak tahu harus membawa dirinya ke mana.

Lino baru saja melanjutkan langkah ketika sebuah Pajero hitam perlahan menepi di samping trotoar. Suara mesinnya terdengar pelan sebelum mobil itu berhenti tepat beberapa meter di depannya.

Lino sempat melirik dengan malas. Ia tidak mengenali mobil itu, apalagi orang yang berada di balik kemudinya.

Pintu mobil kemudian terbuka.
Seorang pria turun dari dalamnya dengan penampilan yang jauh berbeda dari bayangan Lino tentang teman-teman masa kecilnya. Kemejanya rapi, rambutnya tertata, dan sebuah jam tangan berkilau melingkar di pergelangan tangannya. Bahkan dari cara ia berdiri saja, terlihat jelas kehidupannya jauh lebih baik daripada Lino saat ini.

Pria itu menatap Lino lalu wajahnya mendadak berubah cerah.
"Yo, Lino!"

Langkah Lino terhenti. Ia menatap pria itu lekat-lekat. Ada sesuatu yang terasa familiar dari wajah itu meskipun waktu telah mengubah banyak hal.
"Felix?"

PESUGIHAN [BANGINHO]Stories to obsess over. Discover now