Tentu. Kita bikin opening-nya langsung menghantam lewat dialog, tanpa narasi panjang di awal. Jadi pembaca langsung masuk ke momen ketika Raras mendengar suara yang paling ingin ia lupakan. Setelah itu baru pelan-pelan dibuka rasa sakit, kecanggungan Reksa, dan cliffhanger soal massa di rahimnya.
Penulisan
BAB 1 - DOKTER ITU MANTAN SUAMIKU
"Raras Ayuningtyas?"
Aku mengangkat kepala.
"Ya?"
"Silakan masuk. Dokter sudah menunggu."
Aku berdiri dari kursi ruang tunggu sambil merapikan ujung blouse yang sejak tadi kuremas tanpa sadar.
"Dokternya siapa?"
Perawat itu melihat layar tabletnya.
"Dr. Reksa Adhyatama."
Langkahku terhenti.
Nama itu seperti seseorang baru saja menarik paksa seluruh udara dari paru-paruku.
Reksa.
Tidak.
Tidak mungkin.
Aku menatap perawat itu beberapa detik, berharap dia akan mengatakan bahwa dirinya salah membaca nama.
Tapi tidak.
"Bu Raras?"
Aku memaksakan senyum.
"Iya."
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Aku masuk dengan kaki yang terasa berat.
Dan di sanalah dia.
Laki-laki yang selama tiga tahun terakhir berusaha kuhapus dari kepalaku.
Berdiri di belakang meja dengan jas putih.
Rambutnya tertata rapi.
Wajahnya masih sama.
Hanya saja kini ada garis lelah tipis di sekitar matanya.
Tangannya sedang memegang berkas.
Ketika pandangannya terangkat dan menemukan wajahku, dia membeku.
"Raras?"
Aku menggigit bagian dalam pipiku.
"Dokter Reksa."
Aku sengaja memanggilnya begitu.
Bukan Mas Reksa.
Bukan Reksa.
Dokter Reksa.
Aku melihat sesuatu berubah di matanya.
Entah kaget, sakit hati, atau mungkin malu.
Aku tidak peduli.
Setidaknya aku berusaha tidak peduli.
Dia meletakkan berkas di atas meja.
"Silakan duduk."
Aku duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Dia pun duduk.
Untuk beberapa detik, kami hanya saling diam.
Aneh.
Dulu kami bisa menghabiskan berjam-jam di ruangan yang sama tanpa kehabisan bahan pembicaraan.
Sekarang, duduk berhadapan selama beberapa detik saja terasa seperti hukuman.
Reksa mengambil berkas pasien.
"Nama?"
Aku hampir tertawa.
"Serius?"
Dia menatapku.
Aku mengangkat bahu.
"Namaku masih Raras."
Tangannya berhenti di atas kertas.
"Raras Ayuningtyas."
"Ya."
Dia mencatat.
Kemudian membaca data di layar.
"Usia dua puluh delapan?"
"Masih."
"Alamat?"
Aku menyebutkannya.
Dia kembali mencatat.
Tidak ada satu pun ekspresi di wajahnya.
Sangat profesional.
Seolah kami tidak pernah tidur di ranjang yang sama.
Seolah tiga tahun lalu aku tidak pernah berdiri di depannya sambil menangis dan memohon agar dia tidak mengakhiri pernikahan kami.
Seolah dia tidak pernah mencium keningku sambil mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang ingin dia jadikan istrinya seumur hidup.
Reksa menarik napas.
"Keluhan utama?"
Aku menatapnya.
"Nyeri."
"Di bagian mana?"
"Perut bawah."
"Sejak kapan?"
Aku diam.
Entah kenapa pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada seharusnya.
Sejak kapan?
Sejak kapan aku mulai sakit?
Sejak kapan aku kehilangan dia?
Sejak kapan hidupku berubah menjadi seperti ini?
Aku menelan ludah.
"Sejak saya menjadi janda."
Pena di tangan Reksa berhenti.
Matanya perlahan terangkat.
Kami saling menatap.
Aku tahu aku sudah keterlaluan.
Tapi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku ingin melihat apakah laki-laki ini masih bisa terluka oleh perkataanku.
Ternyata bisa.
Rahangnya mengeras.
Aku tersenyum tipis.
"Maaf."
Aku menunduk.
"Maksudku, sejak beberapa bulan lalu."
Reksa mengembuskan napas panjang.
"Nyeri terus-menerus?"
"Tidak."
"Datang dan pergi?"
"Iya."
"Seberapa sering?"
"Awalnya jarang. Sekarang hampir setiap minggu."
"Nyeri saat menstruasi?"
Aku mengangguk.
"Lebih sakit dari biasanya."
"Perdarahan?"
Aku diam.
Reksa kembali menatapku.
"Raras?"
"Ada."
"Sejak kapan?"
"Beberapa bulan."
"Jumlahnya?"
"Lebih banyak."
Dia mencatat.
Kemudian bertanya lagi.
"Apakah kamu sudah pernah memeriksakan ini sebelumnya?"
Aku menggeleng.
"Kenapa?"
Aku menatapnya.
"Takut."
Reksa terdiam.
"Apa yang kamu takutkan?"
Aku tersenyum kecil.
"Jawabannya."
Untuk beberapa saat, ruangan kembali hening.
Reksa menutup berkas.
"Kita perlu melakukan pemeriksaan."
"Apa?"
"USG."
Aku mengangguk.
"Baik."
Dia berdiri.
Aku ikut bangkit.
Kami berpindah ke ruangan pemeriksaan.
Aku mencoba bersikap biasa.
Tapi bagaimana mungkin aku biasa saja?
Laki-laki yang dulu tidur di sampingku kini berdiri beberapa langkah dariku dengan jas putih dan ekspresi profesional.
Aku ingin menangis.
Bukan karena takut pada pemeriksaan.
Aku takut pada kenangan.
"Raras."
Aku menoleh.
"Ya?"
Reksa tampak ragu.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman..."
"Aku nyaman."
"Kamu bahkan belum mendengar kelanjutannya."
Aku tersenyum tipis.
"Kalau aku tidak nyaman, aku akan bilang."
Dia mengangguk.
Aku berbaring di ranjang pemeriksaan.
Perawat membantu mempersiapkan alat.
Aku menarik napas panjang.
Ketika pemeriksaan dimulai, aku memejamkan mata.
Aku bisa mendengar suara alat.
Bisa mendengar langkah perawat.
Bisa mendengar napas Reksa yang sesekali terdengar lebih berat.
Aku membuka mata sedikit.
Reksa sedang menatap layar.
Wajahnya serius.
Sangat serius.
Tangannya bergerak hati-hati.
Terlalu hati-hati.
Dulu aku tahu semua kebiasaan laki-laki itu.
Aku tahu dia akan mengusap tengkuk kalau gugup.
Aku tahu dia akan menggigit bibir bagian dalam kalau sedang berpikir.
Aku tahu dia akan merapikan jam tangan kalau sedang berusaha mengendalikan emosi.
Dan sekarang...
Dia melakukan semuanya.
Tangannya bahkan sempat berhenti.
"Kenapa?"
Aku spontan bertanya.
Reksa menatapku.
"Sedikit sakit?"
Aku menggeleng.
"Bukan."
Dia kembali melihat layar.
Aku memperhatikannya dari sudut mata.
Entah kenapa aku merasa dia justru lebih gugup daripada aku.
"Raras."
"Hm?"
"Tarik napas pelan."
Aku menuruti.
Aku menarik napas.
Mengembuskannya.
Kemudian mataku bertemu dengan matanya.
Untuk sepersekian detik, ekspresi dokter di wajahnya menghilang.
Yang tersisa hanya Reksa.
Reksa yang dulu.
Suamiku.
Mantan suamiku.
Lalu dia segera mengalihkan pandangan.
Aku menelan ludah.
"Masih suka gugup?"
Dia menatapku.
"Apa?"
"Kalau sedang memeriksa pasien."
"Aku tidak gugup."
Aku hampir tersenyum.
"Berarti tanganku yang salah lihat?"
Dia melihat tangannya sendiri.
Kemudian diam.
Aku tidak tahu kenapa percakapan kecil itu justru membuat dadaku sakit.
Karena sesaat rasanya seperti kami kembali menjadi pasangan yang dulu.
Padahal tidak.
Tidak pernah lagi.
Pemeriksaan berlanjut.
Aku memandang langit-langit.
Berusaha tidak memikirkan apa pun.
Tapi tiba-tiba suara Reksa terdengar lebih pelan.
"Raras."
"Ya?"
"Ada sesuatu."
Jantungku langsung berdebar.
"Apa?"
Dia tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada monitor.
Aku berusaha melihat layar itu.
Hanya bayangan hitam putih yang tidak kupahami.
"Reksa?"
Dia menelan ludah.
"Dokter."
Aku sengaja mengoreksi panggilanku.
Dia memejamkan mata sesaat.
"Maaf."
Lalu kembali berbicara dengan suara profesional.
"Saya menemukan massa."
Aku terdiam.
"Massa?"
"Iya."
"Di mana?"
Reksa menatapku.
"Di rahimmu."
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Aku tidak bisa berkata-kata.
Untuk beberapa detik, aku hanya mendengar suara detak jantungku sendiri.
"Bahaya?"
"Kita belum bisa memastikan."
"Jadi?"
"Kita perlu pemeriksaan lanjutan."
Aku menatap wajahnya.
Wajah laki-laki yang dulu menceraikanku karena merasa aku tidak pantas berdiri di sampingnya.
Kini laki-laki itu menatapku dengan kecemasan yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Raras..."
Aku tersenyum.
Berusaha membuatnya tenang.
"Jangan khawatir."
Dia mengerutkan kening.
"Kamu harus diperiksa lebih lanjut."
"Aku akan periksa."
"Aku bisa mengatur-"
"Tidak."
Dia terdiam.
Aku duduk perlahan.
Kepalaku sedikit berkunang.
Tangannya refleks bergerak hendak menopang tubuhku.
Namun berhenti sebelum menyentuhku.
Dulu dia tidak pernah ragu menyentuhku.
Sekarang dia bahkan takut menyentuh lenganku.
Aku berdiri.
Merapikan pakaian.
"Terima kasih, Dokter."
"Raras."
Aku berhenti di depan pintu.
"Jangan pergi dulu."
Aku tidak berbalik.
"Kenapa?"
Suara Reksa terdengar berat.
"Aku ingin bicara."
Aku tersenyum getir.
"Dokter dan pasien tidak seharusnya membicarakan masa lalu."
"Aku bukan sedang bicara sebagai dokter."
Aku menggenggam gagang pintu semakin erat.
"Lalu sebagai apa?"
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Kemudian suara itu terdengar.
"Sebagai laki-laki yang pernah menjadi suamimu."
Mataku langsung panas.
Aku memejamkannya rapat-rapat.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku berusaha membenci laki-laki ini.
Tiga tahun aku belajar bahwa hidup tanpa Reksa memang menyakitkan, tetapi masih bisa dijalani.
Dan hari ini...
Aku kembali berdiri di hadapannya.
Dengan tubuh yang sakit.
Dengan hati yang belum sepenuhnya sembuh.
Dan dengan sebuah massa di rahimku yang belum diketahui apakah akan menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Aku akhirnya menoleh.
"Maaf, Dok."
Senyumku bergetar.
"Suamiku sudah meninggal tiga tahun lalu."
Wajah Reksa langsung pucat.
Aku membuka pintu.
Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Meninggalkan seorang dokter yang mungkin baru saja menyadari bahwa kehilangan seorang istri ternyata jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang pasien.
Dan aku?
Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tangan menekan perut bagian bawah.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut.
Bukan lagi tentang Reksa.
Bukan tentang perceraian kami.
Bukan tentang keluarganya.
Tapi tentang satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Kalau massa itu ternyata ganas... apakah aku masih punya cukup waktu untuk membuktikan kepada diriku sendiri bahwa hidupku tetap berharga meskipun Reksa pernah meninggalkanku?
CITEȘTI
Jangan Menyalahkan Takdir
Dragoste"Sayang ...." Aku berbalik perlahan. "Jangan." Reksa menatapku. "Jangan panggil aku begitu lagi." Reksa diam. Aku berusaha tersenyum, meskipun bibirku terasa bergetar. "Aku bukan sayangmu lagi."
