Sore hari yang sejuk memang sangat cocok untuk diisi dengan aktivitas ringan. Itulah yang dilakukan kedua gadis remaja saat ini, mereka menggelar tikar piknik dan mengisi waktu dengan obrolan ringan.
"Setelah ini, kamu kembali kesana?" Fiyya menatap Naya yang sedang asik meminum matcha nya.
"Iya, kan ini hanya libur semester fii" Naya menatap Fiyya sepenuhnya, ada yang ingin ia bicarakan pada sosok yang sudah ia anggap adik nya sendiri, tapi beribu pertanyaan memenuhi isi kepalanya.
Fiyya mengernyitkan dahinya saat melihat Naya yang terus menerus menatapnya seperti menatap emas batangan di tengah jalan.
"Kenapa? biasa aja natap nya." Fiyya melirik Naya yang hingga saat ini tidak melepaskan pandangannya. Fiyya menghela nafas, bingung apa yang kaka nya ini pikirkan? berhutang kah dirinya ini sehingga ditatap sedemikian rupa?
"Kenapa kaa? dari tadi natap aku segitunya, aku ga habis maling loh serius." Fiyya mengangkat dua jarinya sebagai dukungan untuk ucapannya sendiri, padahal memang tidak maling hanya saja saat Naya sedang asik menatapnya, ia sedikit mencomot cake matcha kesukaan gadis itu.
Naya menghela nafas, "Ada yang mau Kaka bilang ke kamu." Setelah ia pikirkan, sepertinya pikirannya terlalu jauh.
"Ya ampun, dari tadi kamu natap aku segitunya hanya karena ini?" Fiyya bertanya dengan ekspresi jengah, dirinya kira ada apa tadi, sudah hampir jatuh jantungnya ke mata kaki.
Naya tersenyum konyol, "Kaka mau ngenalin kamu sama seseorang." Naya memperhatikan ekspresi gadis dihadapannya itu, seperti biasa jiwa kepo nya langsung berkobar bagaikan kritikan netizen akibat BBM naik.
"Wowww, siapa siapa? cowo cewe?" Fiyya menaik turunkan kedua alisnya dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Naya dengan cengiran khasnya itu. Naya jengah mendorong tubuh Fiyya untuk menjauh sedikit.
Naya mengusap wajah konyol Fiyya, jadi merinding sendiri dia melihat ekspresi gadis dihadapannya itu, "Biasa aja itu muka, jangan kaya orang mau dapat uang Tujuh Miliar aja lu." Fiyya yang mendengar itu bergedik horor.
"Cowo, tapi tenang hijau neon dia matcha matcha." Naya tersenyum menggoda Fiyya. Fiyya yang mendengar itu hanya membulatkan bibir nya ber-oh ria saja.
"Ohhh, siapa?" Tanya Fiyya, lagi pula mau hijau, mau merah, mau kuning, atau mau biru sekalipun seperti Avatar Fiyya tidak memperdulikan itu, dia hanya ingin berteman itu saja.
"Adik gue, tahun ini baru lulus, satu sekolah dengan kita, tapi memang jarang keluar." Naya menerangkan sosok yang ingin ia kenalkan itu, Naya harap mereka berdua bisa akrab dilihat dari sifat mereka yang sama, iya sama selalu membuatnya jengkel dan jantungan setengah mati.
"OHH, siapa namanya?" Fiyya memang tau jika Naya memiliki adik, tapi dia tidak pernah tau siapa nama adik nya itu.
"Rargha. Gue harap kalian bisa akrab, dan berteman dengan baik." Naya tersenyum tulus.
"Tenang aja ka, kita pasti akrab dan akur percaya itu." Fiyya tersenyum untuk meyakinkan Naya bahwa mereka bisa berteman dengan baik, lagi pula gadis dihadapannya ini sangatlah membuat dirinya nyaman, jadi ada kemungkinan adiknya pun bisa membuatnya nyaman.
~★~
Langit jingga yang indah kini semakin menggelap, menandakan bahwa hari sudah semakin malam. Kedua gadis itu kini saling berhadapan setelah mereka merapihkan tempat piknik ala-ala nasi Padang.
Naya menatap Fiyya yang saat ini sedang menatap langit, ia ikut memusatkan perhatiannya keatas sana, gelap tapi juga indah.
"Indah ya ka? langitnya... gue suka." Fiyya menatap langit penuh takjub, langit itu menenangkan, apapun keadaannya ia sangat suka memandang langit seperti ini.
YOU ARE READING
RARGHAFIYYA
FanfictionApa yang akan terjadi ketika dua remaja yang sama-sama memiliki masalah kepercayaan tentang cinta bertemu dan menjalin hubungan yang selama ini menjadi pantangan untuk mereka? Akankah semua berjalan dengan mulus atau tidak? Niarfi Qawiyya sosok gad...
