Suara dentuman dan jeritan dimana-mana membuat suasana semakin ricuh. Tangan-tangan kecil yang dipaksa untuk melepaskan tangan hangat yang memohon untuk tidak dipisahkan.
Tangisan yang meraung-raung di setiap sudut pemukiman kecil bagian Utara membuat langit mengabu. Beberapa jet yang bertebaran di atas menambah hias langit sore di hari ini.
"Demi kemajuan negara Utera, kami diperintahkan untuk membawa beberapa dari golongan diantara penduduk Utara." Suara dari audiovisual yang digenggam oleh pria berseragam serba putih dengan pangkat tertinggi, tertaut di dada kanannya.
Aku termenung. Ayah meminta untuk segera bersembunyi. Aku bertanya, "dimana aku harus bersembunyi?" dan ayah membalas, dimana pun asal aku aman.
Aku menggenggam tangannya yang kasar, "ayah, tidak ada tempat yang aman untuk kita."
Rambut ayah berantakan. Muka ayah terlihat lelah berburu seharian kini berganti menjadi cemas. Pasukan berseragam putih hampir menguasai seluruh pemukiman Utara. Ayah menggenggam tanganku.
"Kau benar. Tapi membiarkanmu di bawa orang-orang gila itu suatu kebodohan, Nak."
Aku mengangguk. Ayah mulai kembali sibuk merapihkan alat berburunya ke dalam Cooper hole. Sebuah tempat penyimpanan tanpa limite, yang hanya dapat dibuka dengan face scanner yang terdaftar.
Ayah kembali bersuara, "kau tau rute menuju pemukiman selatan?"
Sekali lagi aku mengangguk. Ayah tersenyum tipis, kerutan di wajahnya semakin terlihat di ujung matanya. Ayah kini berganti menggegam tanganku, "temui tuan Hoard di sana. Katakan bahwa kau putri dari seorang pemburu dari Utara,"
"Mengerti?" Ayah memastikan bahwa aku memahami perintahnya.
"Akan ku lakukan semua, asal itu bersamamu." Ucap ku tegas.
Suasana ruang emergency di rumah kami kini menghening. Sayangnya, lapisan tembaga yang telah kami buat bersama-sama tidak dapat meredam suara kericuhan di luar sana. Dahi ku mengerut.
Ayah menggenggam kedua bahu ku, cukup kencang. "Tidak kali ini, Rula. Pergilah tanpa ayah."
Kepedihan 'kami' seperti bukan hal tabu lagi dari golongan bawah seperti kami. perasaan meninggalkan dan ditinggalkan seakan bukan persoalan yang penting lagi.
Aku menggeleng keras, "apa sulitnya menuju selatan? Kita hanya berdua saja dan aku pun sudah mampu berlari kencang. Aku bukan anak kecil ayah, aku sudah 16 tahun."
Perasaan pedih yang masih tidak dapat ku terima hingga detik ini.
Ayah memejamkan matanya sesaat, genggaman ditangannya kian mengendur. Ia menghela nafasnya perlahan, seakan mencoba mengatur nafasnya yang sudah tak teratur lagi.
Tangannya kembali menggenggam tanganku lembut, seperti yang biasa ayah lakukan.
Kedua mata ayah kian meredup, "tidak semua orang dapat lari dari pemukiman ini, Rula."
"Program yang mereka lakukan sudah puluhan tahun dilakukan. Sejak kamu dilahirkan, mereka meminta seluruh data tanpa terkecuali. Bila ayah menolak mungkin kamu tidak akan ada hingga kini,"
Ayah menghentikan kalimatnya untuk meraih sebuah Cooper hole yang kini diserahkan kepadaku. Cukup berat namun aku masih mampu untuk membawanya.
"Mereka akan membawamu yang baru lahir tanpa membiarkan ayah melihat wajahmu sedetikpun." Ayah kembali menggenggam bahuku, "bawalah Cooper itu bersamamu ke selatan."
"Dan dengarkan nasihat ku. Ikutilah tes masuk wings road tahun depan, disana mereka akan membiarkanmu hidup layaknya manusia."
Aku menggeleng. "Mustahil aku lolos. Bagaimana kalo aku gagal?"
Suara dentuman kini terdengar begitu dekat. Mereka membuat rakyat pemukiman menjadi tak bernyali, dengan bola-bola besi penghacur dari langit, jika menolak menyerahkan. Ayah melirik ke sekitar dengan cemas.
"Teruslah mencoba sampai kau lolos." Tangan ayah kini kian terasa dingin di bahuku, ayah takut?
Ayah adalah sosok yang keras dan berpendirian. Kenapa sampai seperti ini?
"Pergilah Nak. Ayah akan menyusulmu, jangan pulang sampai aku yang menjemput."
Ayah mendorong bahuku dan membawaku ke pintu belakang di ruang emergency, pintu bawah tanah yang menghubungkan langsung ke jalan dekat hutan Pinus.
Aku mengangguk, walau ragu. Hanya ayah adalah sosok manusia yang bisa aku percaya di dunia ini.
Hutan Pinus kini hanya beberapa meter dari pijakan kakiku. Ayah kembali bersuara, "sekitar tiga meter dari hutan kau akan bertemu rombongan yang menuju selatan."
Aku menoleh dan menemukan ayah di belakang ku. Jarak kami kini cukup jauh. Dengan suara yang mulai bergetar, "lalu ayah bagaimana?"
Ayah tersenyum. Tangannya terangkat sebelah untuk melambai, "mereka tak membutuhkan pria tua ini. Tunggu saja, ayah akan segera menjemputmu."
Cukup lama terdiam, aku butuh waktu untuk merekam senyum indah itu dalam kepalaku. Senyuman yang akan ku bawa saat perjalanan nanti.
Aku balas tersenyum, tangan ku terangkat sembari melambai. Aku berbalik dan berjalan dengan langkah ragu namun pasti menuju hutan Pinus.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah berbalik ke belakang. Berlarilah dengan cepat ke selatan." Samar-samar aku mendengar suara ayah.
Jalan ku kian cepat dan perlahan aku mulai berlari ke dalam hutan. Sesuai perkataan ayah, aku tak lagi berbalik ke belakang.
Entah sampai kapan golongan orang-orang seperti 'kami' ini merasakan kepedihan yang tak berkesudahan.
'Aku mohon, tolong sudahi ini.'
__________________•&•________________
[pict from pin app]
YOU ARE READING
OLDEST
FantasySudah dua abad lamanya manusia kehilangan sebagian besar sumber mata airnya. Kemajuan pesat teknologi pun turut merusak keseimbangan kaum manusia untuk bertahan hidup. Perbedaan sosial pun turut membuat panas tiap golongan, termasuk golongan kami. D...
