Payphone

0 0 0
                                        


Gusar, kata itu yang kini Yeobin rasakan untuk beberapa jam terakhir. Ia selalu menunggu ponselnya berdering dengan nada panggilan yang berdendang memanggil dirinya. PanggilIan untuk dirinya yang menunggu sebuah kabar darinya.

Layar televisi menampilkan seorang pria tersenyum hangat menatap lurus seakan berbincang langsung padanya. Tatapan yang selalu di dapatkannya kala keduanya bersama di tengah kesibukannya di padatnya jadwalnya yang sebagai seorang idol.

Ia menghela napas kasar. Atensinya kembali menilik ponsel yang di letakkannya di atas meja. Ia menatap sendu. "Mungkin ini harus diselesaikan memang." Ia bermonolog pada udara. Suara yang terlontar begitu lirih serta pelan. Ia mengusak wajahnya lagi penuh penat. Seakan ada sebuah masalah yang tengah menghadang dirinya.

Nyatanya memang itulah yang terjadi padanya. Ini tentang hubungan keduanya. Tentang kisah asmara seorang idol dan seorang yang hanya menatapnya dari layar monitor dan tidak dapat dua puluh empat jam disisinya. "Mari putuskan saja, Yeobin-ah." Kemudian kepala itu terjatuh pasrah di atas dua tangan yang melipat di atas meja. Sesekali pelipisnya di katuk katukkan pelan. Beberapa kali ia meneguk ludah berat. Ia masih terlalu sayang, namun ini tidak bisa membuatnya terus terusan seperti ini.

"Sunghoon-ah." Suara itu meringis lirih.

###

"Apa bisa saya dapatkan ponsel saya?"

Park Sunghoon yang baru saja kembali dari acara sebagai bintang tamu meminta ponselnya pada sang manager. Ke tujuh anggota itu telah duduk dengan nyaman di jok kursi mobil putih van yang kini akan membawa mereka kembali ke dorm. Salah seorang membantunya mengacungkan ponsel Sunghoon. Dan pria itu menganggukinya. Dimintanya ponsel itu segera.

"Tidak ada notif. Siapa yang kau tunggu."

Sunghoon mendongak saat Heeseung. Pria kelahiran satu tahun di atasnya bertanya penasaran. Jake di sampingnya turut menarik atensinya pada Sunghoon. Menyadari kejanggalan, Jay. Selaku satu kelahiran dengannya mematap meminta jawaban. "Bukan siapa siapa. Aku hanya ingin menghubungi ibuku saja. Apa itu mencurigakan?"

Ketiga pria itu menggeleng bersama. "Kupikir." Ujar Jay. Jake dan Heeseung akhirnya memilih untuk menarik atensinya kembali. Sunghoon akhirnya membuang napas lega saat tidak ada lagi atensi yang tertuju padanya.

Dibukanya layar ponselnya. Mencari pesan yang mungkin tidak disadarinya masuk tentang sebuah kata penyemangat atau pun lainnya teruntuknya.

Sayangnya, nihil. Tidak ada apapun disana. Dan tidak ada pun panggilan untuknya. Sunghoon pikir mungkin wanitanya telah terlelap melihat pukul dua dini hari seperti saat ini. Sunghoon pikir begitu.

Tidak sampai saat ia hendak memejamkan mata untuk tidur. Sebuah notif pesan mengalihkan kantuknya. Senyumnya merekah lebar. Pesan yang begitu ditungguinya telah tiba,

Harusnya ia senang dengan isi pesannya. Kali ini tidak.

"Mari kita akhiri saja."

Sunghoon terhentak bangun. Membalas cepat untuk menerima jawaban. Lima belas menunggu. Selanjutnya ada balasan. Balasan yang membuatnya tersentak akan sesuatu. Ia tak rela. Namun perkataan perempuannya menyadarkannya pada kenyataan itu.

"Menurutmu ponsel adalah komunikasi untuk kita berdua. Nyatanya, ponsel pun tidak dapat membuat komunikasi itu terjadi. Aku kehilanganmu sejak saat kita memutuskan untuk berjalan di atas jalan kita masing masing. Kau menyadari itu, bukan. Mari akhiri saja sampai di sini, Sunghoon."



end–

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: 4 days ago ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Kata [ psh x jyb ]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora