Mobil VW Combo milik Woosan bergerak membelah jalanan malam yang sepi dibawah kendali San. Suasana masih canggung berkat pertengkaran mereka barusan. Hanya suara desir angin menemani perjalanan mereka.
Lampu jalanan yang temaram memantulkan bayangan di wajah Wooyoung yang tertidur. Di bawah cahaya lampu jalanan, San teringat malam ketika Wooyoung pertama kali melangkah keluar dari rumahnya.
Wooyoung tinggal sendiri karna kakaknya yang bernama Yunho tinggal di asrama kepolisian. Orang tua mereka sudah tiada, dan ayahnya pergi meninggalkan banyak hutang karena usahanya yang bangkrut.
Yunho yang saat itu baru diangkat menjadi polisi langsung disibukkan berbagai kasus. Ia tidak punya waktu untuk sering memantau Wooyoung. Akhirnya, Wooyoung adalah orang yang selalu terkena dampak utang si ayah. Beberapa kali ia dipukuli orang-orang yang tidak dikenal karna itu.
Malam itu saat hujan teringat Wooyoung lari ketakutan pergi ke rumah San. Ia memohon pada San untuk menolongnya. Dari kejauhan ia melihat beberapa orang membawa balok kayu mengejar San. Tanpa pikir panjang, San berlari mengejar preman itu lalu memukuli mereka.
Melihat San di keroyok lima orang, Wooyoung tidak bisa diam. Dia membawa sebuah batu melempar ke arah kepala orang-orang yang memukul San untuk mendistraksi mereka. Dan melakukan apapun yang ia bisa untuk membantu San.
Dengan kemauan kuat, walaupun hanya tersisa sedikit kekuatan, Wooyoung dan San berhasil memukul mundur para preman itu. Malam itu, Yunho sama sekali tidak hadir untuk adiknya, sehingga membuat Wooyoung memutuskan untuk kabur dari rumah. Wooyoung yang saat itu babak belur membuat San teringat nasib ibunya yang meninggal di tangan ayahnya. Kalau dulu ia tidak bisa melindungi ibunya, maka sekaran San akan melindungi Wooyoung.
Bayangan masa lalu itu perlahan memudar digantikan sebuah pemandangan di kolong Flyover yang sudah dipenuhi oleh banyak motor. San membangunkan Wooyoung lalu turun dari mobilnya. Seorang pengemudi motor di depan San berjalan maju menyambut mereka berdua. Ia berpakaian persis dengan pengantar makanan tadi.
"Kang Yeosang,"
Lelaki berambut hitam yang menjuntai sampai bahu, dengan tanda lahir berbentuk love yang khas di pipi kirinya itu mencoba menjabat tangan San, namun San tetap diam tidak bergeming. Untuk menghilangkan rasa canggungnya, Yeosang mengangkat tangannya mengajak mereka masuk ke tempat perjanjian.
Mereka bertiga berjalan lebih dalam lagi menuju sebuah meja yang sudah disiapkan untuk empat orang. Seketika bau asap rokok menyerbak menyentuh hidung Wooyoung dan San. Satu orang dengan mata yang tidak kalah tajam tatapannya lebih dulu mengambil posisi disana. Alis tebalnya membuatnya terlihat seperti sedang mengintimidasi Wooyoung dan San.
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah dua tamunya yang barusan datang setelah dituntun Yeosang, "kudengar San baru saja mengalahkan preman dari geng Savage. Berapa bayarannya?"
Wooyoung duduk bersandar menyilangkan kakinya, "Satu juta won," Jawabnya berbohong.
Dua lelaki didepannya terkekeh mendengarnya membuat Wooyoung menjadi tersinggung, "Dilihat dari tubuhnya, kalian sepertinya bukan tipe petarung yang bisa mengalahkan San," ejek Wooyoung.
"Dilihat dari tubuhnya, Dia juga bukan petarung yang pantas dihargai satu juta won dalam satu pertandingan," balas lelaki tadi
Kini gantian San yang terkekeh mendengarnya. Dalam hati Wooyoung mengutuk mereka, berharap setelah ini ban motor mereka kempes ketika balapan liar. Tapi Wooyoung tidak bisa mengutuk San si sumber penghasilannya.
"Kalian ini siapa sih? Menilai orang sembarangan."
"Kami geng Deep Ocean. Ingin sekali mengalahkan geng Pirates. Kau tau, yang dipimpin oleh The Masked Man?"
YOU ARE READING
DYSTOPIA
Fanfiction"Kalau kau mati, aku juga mati, San! Sekarang kita sudah satu jantung!" Ketika tawaran berdarah senilai ratusan juta won datang dari organisasi misterius bernama Deep Ocean, San dan Wooyoung terdorong masuk ke arena pertarungan ilegal paling memati...
