Bab 1 - Shadow under the dusk

254 37 16
                                        

   

    Sinar matahari sore menembus jendela kamar mandi, memantul di atas permukaan air bathtub tempat Milk membenamkan separuh wajahnya. Tangannya yang bebas menggenggam ponsel pintar berlayar retak di bagian pelindung antigores-bukan karena tidak mampu beli, tapi karena keseringan dijatuhkan waktu nge-gebet status unavailable milik orang lain. Layar itu menyala terang, menampilkan foto terbaru Love Pattranite yang lagi gelendotan manja di bahu Ohm Pawat di sebuah kafe hipster daerah Thonglor. Caption-nya sok puitis: "My safest place." Lengkap dengan emoji hati merah yang bikin lambung Milk mendadak mual kayak habis nelpon debt collector.

Milk narik napas dalam-dalam di dalam air, nahan gejolak dada yang rasanya lebih mirip orang kena serangan jantung koroner dini, sebelum akhirnya mendengus pelan, menegakkan kepala, dan menyeka sisa air mata yang bercampur air keran. Ini udah yang kesekian kalinya, literally nggak kehitung jari tangan dan kaki. Posisinya di hidup Love nggak pernah beranjak dari sebuah backburner-istilah keren buat tumbal emosional atau tempat sampah darurat yang selalu siap sedia tiap kali Love lagi BT, tiap kali dunia luar ngecewain dia, atau sekadar pas dia butuh pendengar setia buat nampung curhatan absurd tanpa nuntut status apa-apa. Bodoh? Banget. Milk sendiri sadar kalau otaknya kadang konslet kalau udah menyangkut nama Love.

Di lantai bawah rumah keluarga Kwong, suasananya kontras banget sama isi kepala Milk yang lagi perkosa kewarasan. Rumah megah berlantai dua itu rame sama sirkulasi keluarga besar yang tipikal drama keluarga Asia tapi versi high class. Lingling Kwong, sang daddy, lagi sibuk merapikan setumpuk dokumen penting di ruang kerja sambil sesekali nyeruput kopi hitam tanpa gula. Di sisi lain meja makan marmer, Orm Kornnaphat selaku mommy lagi telaten meracik teh chamomile hangat buat meredakan tensi darahnya sendiri yang sering naik kalau ngeliat perangai anak-anaknya. Di meja yang sama, Namtan Tipnaree Kwong-saudara kembar Milk yang mukanya plek-ketiplek kayak fotokopian, tapi punya sorot mata setajam silet belati-lagi ngunyah keripik kentang dengan muka masam sambil natap layar laptop. Di sebelah Namtan, si bungsu Mim Rattanawadee sibuk nge-scroll TikTok sambil ngedumel pelan karena kuotanya habis.

"Wajah kembaran gua yang paling tolol ini kenapa lagi? Kayak baru aja kalah judi bola di agen fiktif," tegur Namtan tajam tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya begitu Milk nyeret kaki masuk ke ruang makan.

Namtan tahu persis gelagat itu. Sebagai saudara kembar identik yang dari dalam rahim udah berbagi oksigen, Namtan hafal di luar kepala setiap kerutan di dahi Milk tiap kali nama Love Pattranite disebut-sebut bikin rem Bloranya jebol.

"Gua baik-baik saja, Nam. Nggak usah sok tahu deh lu," jawab Milk lemas, narik kursi perlahan lalu duduk sambil nyengir kuda, maksain diri sok tegar padahal hatinya udah remuk redam kayak rempeyek kacang digilas truk tangki.

Orm Kornnaphat menghela napas panjang, naruh teko teh keramik dengan bunyi dentingan pelan yang sukses bikin suasana meja makan langsung senyap. "Baik dari mananya, Milk? Muka lu pucat kayak mayat hidup kurang pameran. Kalau emang si Love itu cuma datengin lu pas dia lagi senggang atau pas berantem sama si cowok gurem itu, tinggalin aja apa susahnya sih? Jangan jadiin diri lu keset kaki diskon akhir tahun."

"Mommy, udah deh, jangan mulai," protes Milk setengah merengek, meskipun dalam hati kecilnya dia pengen ngangguk setuju sama omongan nyinyir nyokapnya.

Lingling yang kebetulan baru keluar dari ruang kerja sambil ngelepas kacamata bacanya langsung nimbrung, narik kursi di sebelah Orm dengan gaya wibawa tapi matanya melotot tajam ke arah Milk. "Bukan masalah mulai atau nggak, Milk. Daddy capek liat anak gadis Daddy nangis di kamar mandi cuma buat cewek yang bahkan nggak bisa bedain mana prioritas mana pelarian. Kamu itu anak keluarga Kwong, darah daging Lingling sama Orm. Harga diri jangan diobral murah buat orang yang nganggep kamu cuma opsi kesekian pas rencana utamanya gagal."

Beyond The BackburnerStories to obsess over. Discover now