Chapter 1: Kilau Kelas 11A

10 2 0
                                        

Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui sela-sela jendela kaca berukuran besar yang membingkai bangunan megah Meridian International High School. Sekolah elit bertaraf internasional yang berdiri kokoh di kawasan elit ibukota itu tidak pernah gagal memancarkan kemewahan. Mulai dari pilar-pilar bercat putih gading bertema neoklasik, lantai marmer kilap yang memantulkan bayangan setiap murid yang melintas, hingga lorong-lorong berpendingin udara yang selalu tercium aroma wewangian mahal. Di sekolah ini, status sosial dan prestise bukan sekadar label, melainkan udara yang dihirup setiap hari oleh para pengisinya.

Namun, di antara seluruh sudut bangunan yang begitu megah tersebut, ada satu tempat yang selalu menjadi pusat gravitasi utama setiap paginya: koridor lantai dua, tepat di depan ruang kelas 11A.

Koridor itu tidak pernah sepi. Sejak bel masuk belum membunyikan dentangnya, belasan bahkan puluhan siswi—mulai dari adik kelas tingkat 10 yang masih mengenakan seragam tampak kaku, hingga para senior kelas 12 yang seragamnya disesuaikan sedemikian rupa agar terlihat modis—sudah berbaris rapi. Mereka pura-pura berjalan lambat, berpura-pura mencari teman, atau sekadar bersandar di dinding koridor sambil menggenggam ponsel dengan jemari yang gemetar. Istilah populer di kalangan murid sekolah itu menyebut mereka 'cegil Meridian', julukan bagi para siswi yang rela membuang gengsi demi sekadar menangkap satu detik pandangan dari pangeran-pangeran kelas 11A.

"Aduh, sumpah, jangan dorong-dorong! Ini tumbler gue hampir jatuh tahu!" cetus seorang siswi berambut pendek bergelombang sambil merapikan lipatan rok kotak-kotaknya yang terangkat akibat desakan kerumunan.

"Ya lagian lu berdiri di tengah-tengah pintu banget! Geser dikit, gue mau lihat Sunghoon! Hari ini dia pakai sweater rajut putih lagi nggak?" sahut temannya di sebelah, sibuk mengaplikasikan lip tint di bibirnya dengan bantuan cermin saku kecoklatan.

"Bukan cuma Sunghoon, katanya Jay hari ini dibawain mobil sport baru sama sopirnya! Gue tadi lihat pas di drop zone!"

Bisik-bisik riuh itu membumbung tinggi, menciptakan dengung ketegangan antusias yang manis sekaligus menggelikan. Dan seolah mengerti betul bahwa mereka adalah pusat semesta dari seluruh keriuhan tersebut, enam sosok laki-laki yang berada di dalam kelas 11A tetap bersikap acuh tak acuh. Mereka adalah geng Enhypen. Enam pemuda yang tidak hanya memegang takhta visual tertinggi di Meridian, tetapi juga memancarkan aura old money yang begitu kental hingga udara di sekitar mereka terasa lebih dingin dan mahal.

Di barisan meja paling belakang yang terisolasi dekat jendela, Park Sunghoon sedang duduk bersandar secara malas. Pria yang dijuluki Ice Prince Meridian itu mengenakan kemeja seragam putih yang lengannya dilipat rapi hingga sebatas siku, memamerkan garis lengan yang kokoh serta jam tangan perak berdesain simpel namun bernilai ratusan juta rupiah. Wajahnya yang simetris sempurna, dengan rahang tegas, bibir tipis yang jarang tersenyum, serta netra tajam yang sedingin es batu di dalam gelas kristal, menatap lurus ke arah lapangan basket di luar jendela.

Sunghoon sama sekali tidak mengindahkan pekikan tertahan dari arah koridor saat ia memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan beberapa helai rambut hitamnya yang halus jatuh menutupi dahi.

"Hoon, lu kalau bernapas agak pelan dikit bisa nggak?" suara bernada canda meluncur dari bibir Jake yang duduk bertengger di atas meja di sebelah Sunghoon. "Kasian tuh cewek-cewek di luar, lu cuma kedip aja mereka udah kayak mau pingsan massal."

Jake menatap ke arah pintu kelas dengan senyum tipis yang amat menawan. Berbeda dari Sunghoon yang sedingin salju, Jake menyebarkan aura golden retriever versi anak bangsawan. Gaya pakaiannya selalu tampak sedikit berantakan tetapi secara misterius sangat keren—dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memamerkan garis lehernya yang ramping, serta sepatu kets edisi terbatas yang harganya setara sepeda motor. tangannya dengan santai memutar-mutar sebuah bola kasti kecil.

The Safe ZoneDes histoires addictives. Découvrez maintenant