20. Shopping Date

89 36 3
                                        

Gina tak memungkiri, ada perasaan senang yang membuncah di dadanya saat mendengar pengakuan Damar. Secara terang-terangan lelaki itu mengatakan dirinya cemburu.

Meski begitu, Gina sekuat tenaga menjaga mimik muka. Damar tak boleh melihat senyum kecil yang hampir lolos dari bibirnya. Ia juga tak ingin Damar tahu jika separuh kekesalannya sudah menguap begitu saja.

Di sisi lain perasaan lega dan ngeri mengusik Damar bersamaan. Lega karena akhirnya ia bisa jujur pada Gina. Meskipun tak secara langsung, ia sudah mengakui perasaannya. Tapi juga ngeri. Siapa tahu kejujurannya malah membuat Gina marah dan memilih pergi.

Damar tak ingin memperpanjang daftar pengasuh anaknya yang resign.

"Bohong kalau aku nggak mengharap sebuah balasan." Kalimatnya terjeda.

Riuh pengunjung lain seperti tersamarkan oleh ucapan Damar. Gina yang belum lepas dari keterkejutannya kini memfokuskan seluruh perhatiannya ke sang bos. Mencermati tiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Karena ia sendiri juga takut. Takut salah mengartikan satu kalimat pun.

Lelaki itu menghela napas pelan lalu tersenyum tipis. "Tapi aku nggak maksa kamu buat jawab sekarang."

Netranya menunjukan jika ia bersungguh-sungguh. "Kita jalanin semuanya kayak biasa. Jangan dijadiin beban, oke?"

Gina menyedot lemonade miliknya. Pandangannya mengedar ke keramaian di sekitar mereka. Sikap dewasa Damar membuatnya semakin gugup. Sekarang ia sendiri malah terlihat seperti orang bodoh.

Reaksi Gina membuat Damar terkekeh. Ia pun mencoba mencairkan suasana.

"Jangan grogi gitu dong."

Gina hampir tersedak minumannya. Padahal baru saja rasa kesalnya berkurang, tapi ledekan Damar membuatnya kembali memuncak. Gadis itu meletakkan cup minumannya di meja.

"Aku nggak grogi!" sangkal Gina. Tentu saja bohong. Siapa sih yang nggak grogi kalau diledekin terus sama cowok yang baru aja confess ke kita.

"Tapi muka kamu blushing gitu," timpal Damar. Jari telunjuknya mengarah ke wajah sang gadis. Rona merah tergambar jelas di pipi Gina.

"Kamu tuh, ya!"

"Haha oke... oke."

"Jangan ketawa!" peringat Gina.

Damar segera menutup rapat bibirnya. Meski masih terlihat sedikit bergetar.

Sejujurnya Gina ingin sekali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tapi kalau dia lakuin itu, yang ada Damar akan semakin menjadi menggodanya. Untuk itu ia memilih menyibukkan diri memakan kentang goreng yang tadi mereka pesan.

Gerakan Gina itu diikuti oleh Damar. Meski pandangannya justru tak lepas dari sosok di depannya.

Merasa terus diperhatikan, Gina kembali angkat suara. "Kenapa liat-liat?!"

Damar terkesiap. Tangannya refleks mencolekan kentang ke saus sambal. Seolah sejak tadi ia sibuk melakukan itu. "Ah nggak. Cuma lagi mikir, gimana kalau kita sekalian aja belanja bulanan?"

Gina siap memprotes, namun Damar dengan cepat menyela. "Belanja bulanan bareng juga bagian penting proses PDKT loh," ujarnya dengan sungguh-sungguh.

"Dimana letak korelasinya?" Gina membalas dengan nada mencibir. Pikiran negatifnya merasa Damar memanfaatkannya untuk bekerja di hari libur.

"Ya kita jadi tahu produk apa yang disuka dan nggak disuka dari satu sama lain. Itu penting banget loh dalam sebuah hubungan."

Gina berdecih lalu bergumam pelan, "Hubungan katanya."

A Blast From The PastHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora