sinopsis

280 18 1
                                        


Xuanyuan Yi Chen. Nama yang dulu mengguncang dunia bisnis, keturunan marga kuno termasyhur, pewaris kekayaan tak terhitung yang memegang kendali atas ribuan perusahaan di seluruh benua. Tiga tahun silam, kecelakaan pesawat pribadi merenggut segalanya: tubuhnya lumpuh permanen akibat cedera tulang leher tingkat tertinggi, diperberat sisa stroke berat yang merampas keseimbangan wajah, kejernihan ucap, dan kemandiriannya selamanya.

Kini ia terkurung di ruangan terpencil kediaman agung keluarganya - kepala tak sanggup tegak, selalu miring jatuh ke bahu kanan; kedua kakinya kaku menyusur seperti penari balet yang membeku; kedua tangannya mengepal mati di pangkuan, tak berdaya terbuka sedikit pun. Wajahnya tak lagi simetris: sisi kanan turun, matanya terkulai berkerut, bibir miring sedikit terbuka, air liur menetes pelan tiap detik tanpa bisa ia tahan. Saat ia berusaha bicara, kata-kata meleset tak jelas, cadel berat, suara nyaris tak terdengar, habis napas hanya untuk mengucap dua tiga suku kata. Ia sadar sepenuhnya, merasakan segalanya - namun tubuhnya diam bagai batu. Kaya menguasai negeri, namun tak sanggup menyeka air matanya sendiri.

Murong Wan Qing - putri kesayangan marga Murong, tunangannya sejak lahir, kecantikannya sebanding dengan kehormatan keluarganya. Ketika seluruh dunia membatalkan janji, kerabat mendesaknya melepaskan ikatan, pelayan-pelayan kabur karena tak tahan dengan keadaan Yi Chen - ia justru meninggalkan kemewahannya sendiri, pindah ke ruangan sunyi itu, dan menetap.

Yi Chen menyuruhnya pergi setiap hari. Dengan suara cadel terputus-putus, ia memohon agar ia tak menyia-nyiakan hidupnya pada mayat berjalan sepertinya. Namun Wan Qing tak pernah pergi. Ia menyeka air liur dan air matanya dengan lembut, mendengarkan tiap kata yang meleset seakan itu puisi terindah, memegang kepalan tangan tak berdayanya seolah itu jantung dunianya.

Dunia mengira Wan Qing mengorbankan dirinya. Padahal baginya, tak ada pengorbanan dalam mencintai seseorang yang tak pernah berubah - meski tubuhnya hancur, meski suaranya pecah, meski tak bisa lagi memeluknya. Cinta mereka tak butuh pelukan maupun kata-kata sempurna. Cukup tatapan mata yang saling mencari di antara keheningan - janji bisu bahwa di antara kemewahan dunia yang fana, ia adalah satu-satunya hartanya yang abadi.


XUANYUAN MURONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang