Langit di atas Desa Elaris tidak gelap karena malam, melainkan karena mana yang terlalu padat.
Awan bergulung-gulung, berwarna ungu pekat dan hitam legam, berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas atap-atap rumah warga. Angin tidak berhembus; ia menjerit. Suara itu bukan suara alam, melainkan dengungan ribuan mantra yang diselaraskan secara paksa.
Di perbatasan desa, pagar kayu yang seharusnya menjadi pelindung terakhir kini hangus terbakar oleh api biru-api sihir murni yang panasnya mampu melelehkan batu.
"Maju! Jangan biarkan satu pun penduduk lolos!"
Teriakan itu datang dari seorang pria berjubah merah tua, berdiri di atas kuda perang yang dilapisi armor sihir. Dia adalah seorang pejabat kerajaan yang diasingkan oleh Sang Ratu karena berbagai kejahatannya di dalam istana terbongkar oleh Sang Ratu. Ia di usir di hadapan para petinggi kerajaan secara tidak hormat. Sejak saat itulah, Kaelen menyimpan dendam pada Sang Ratu Abu. Ia menghasut para penyihir dari berbagai penjuru negeri-yang tidak setuju atas terpilihnya Ratu Abu sebagai pemimpin baru Aerthegard-untuk melakukan pemberontakan.
Para penyihir yang bergabung adalah mereka yang tidak setuju Aerthegard dipimpin oleh seorang putri hanya karena ia garis keturunan raja. Mereka adalah kelompok radikal yang tidak percaya pada darah kerajaan-mereka menginginkan pemimpin dari bangsa pria karena menganggap Sang Ratu tidak becus memimpin suatu negeri.
Mereka menyerang perbatasan utara selama tiga hari. Dan malam ini, mereka memutuskan untuk menerobos masuk.
Para penjaga desa, sebagian besar hanya prajurit biasa dengan pedang besi-gemetar memegang senjata mereka. Di sisi lain, beberapa penyihir yang ditugaskan untuk menjaga desa mencoba membentuk penghalang, tetapi kekuatan mereka tidak imbang. Para penyihir muda itu tahu siapa yang tengah mereka hadapi. Ini bukan pertarungan. Ini adalah eksekusi massal.
Sebuah bola api raksasa, sebesar gerobak sapi, melesat dari barisan pemberontak.
BUM!
Gerbang utama yang telah dilindungi oleh energi sihir hancur. Serpihan kayunya beterbangan seperti peluru, melukai beberapa warga yang bersembunyi di belakangnya.
"Masuk!" perintah Kaelen, dengan senyum dingin. "Bakar semuanya. Kita beri peringatan pada istana bahwa tuntutan kita tidaklah main-main!"
"Maju!" Sorak sorai para penyihir di belakang mereka beradu. Mereka menyerbu gerbang Utara tanpa ampun.
Penduduk Elaris menjerit. Seorang ibu memeluk erat anaknya, menutupi telinga bocah itu dari suara kehancuran. Seorang lelaki tua jatuh tersungkur, kakinya terluka oleh pecahan gerbang.
Kaelen mengangkat tongkat sihirnya, ujungnya bersinar terang. Ia siap meluncurkan mantra pemusnah ke arah kerumunan warga yang tak berdaya.
"Di mana ratu kalian? Dia bahkan tidak datang untuk menyelamatkan kalian," ujar Kaelen tertawa puas. "Era baru telah tiba. Saatnya negeri ini dipimpin oleh pemimpin sejati!"
Namun, sebelum jari Kaelen bergerak, udara di sekitarnya seperti membeku. Suhu udara turun drastis dalam sepersekian detik. Embun beku muncul di jubah merah Kaelen. Api biru di sekitar pasukannya mendadak mengecil, seolah-olah oksigen di udara telah dicuri oleh sesuatu yang jauh lebih lapar.
Jeritan ketakutan yang bercampur dengungan mantra para pemberontak terhenti.
Suasana menjadi benar-benar hening. Hening yang begitu berat hingga membuat gendang telinga sakit.
Dari balik asap reruntuhan gerbang, beberapa partikel debu berwarna perak tiba-tiba melayang di udara. Jumlahnya semakin banyak, berputar perlahan dalam satu titik hingga membentuk pusaran kecil. Pusaran itu terus membesar, bergerak seperti angin beliung yang tidak menyentuh tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ratu Abu
Fiksi PenggemarDi balik kekuatan dan mahkotanya, Gita hanyalah seorang perempuan yang ingin dicintai tanpa rasa takut. Hingga ia bertemu Freyan Adler, seorang kesatria biasa yang berhasil menyentuh sisi dirinya yang selama ini tersembunyi. Namun ketika hati sang r...
