Lampu teras yang remang-remang menyambut Erine dengan keheningan. Keheningan yang sukses bikin telinganya berdenging nyaring.
Taksi online yang mengantarnya baru saja melesat pergi membelah jalanan komplek yang sepi. Erine mendorong pagar besi rumahnya dengan sisa tenaga yang ada. Udara malam Bekasi terasa basah dan lembap, membuat sisa keringat di tubuhnya perlahan mendingin dan terasa lengket di kulit.
Dia menyeret langkahnya masuk ke ruang tamu yang gelap gulita. Tanpa sisa tenaga sedikit pun, Erine membiarkan tas latihannya merosot jatuh begitu saja dari bahu mungilnya. Berat tas itu sungguh tidak masuk akal.
BRAK.
Suara hantaman tas itu menggema tumpul di lantai ubin. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Setiap sendi berasa meronta minta dilepas dari tempatnya malam ini juga.
"Mata aku...," keluh Erine ke udara kosong. "Literally udah berat banget, parah."
DUSH
Erine menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Kulit sofa yang dingin menempel nyaman di belakang lututnya. Dia bersandar lemas, membiarkan kepalanya tertadah menatap langit-langit rumah yang gelap.
Sejak subuh dia sudah harus standby di Bogor. Rehearsal di bawah terik matahari yang menyengat sampai kulitnya perih, lanjut perform non-stop sampai malam. Belum juga napasnya balik normal, dia sudah ditarik lagi buat latihan di teater sampai tengah malam.
Otot betisnya sekarang berkedut hebat. My legs are dying, jujur pegel banget, rintihnya dalam hati.
Di tengah keheningan itu, tangan Erine merogoh saku celana training-nya. Dia butuh hiburan buat mengalihkan rasa sakit di kakinya.
Jempolnya membuka aplikasi X dengan lincah, mengetik namanya sendiri di kolom pencarian. Jari mungilnya menggulir layar, mencari update terbaru dari fans yang biasanya selalu berhasil mengembalikan senyumnya.
Matanya yang sayu mendadak melebar. Senyumnya mengembang sempurna.
Ada foto HD hasil jepretan kamera fansite yang baru saja diunggah beberapa menit lalu. Foto dirinya di atas panggung siang tadi.
"Sumpah komuk gue!" Erine tertawa pelan. Tawanya yang renyah memecah kesunyian ruang tamu. "Kenapa ya kalian suka banget nangkap pas muka aku lagi aneh?"
Di layar HP itu Erine melihat dirinya memakai kostum panggung andalannya: gaun selutut putih bersih berkerah kemeja. Ada aksen kain kotak-kotak hijau muda yang manis di bagian kerah dan ujung lengan pendeknya. Di pinggangnya melingkar kain motif kotak-kotak hijau serupa yang diikat menyilang membentuk pita manis.
Di foto hasil jepretan itu Erine terpotret dalam pose yang sangat absurd. Matanya terpejam rapat menahan malu, mulutnya mengerucut ke bawah dengan sangat menggemaskan, sementara kedua tangannya terangkat kaku di udara persis orang mau menangkap nyamuk.
"Ini mah pas gue mau nyusruk tadi eh," gumamnya gemas sendiri. "Tadi tuh pas blocking-an aku sempet nge-blank gitu loh. Untung nggak jatuh beneran."
Dia menggulir layar lagi. Ada satu foto lain yang langsung menarik perhatiannya. Kali ini dia tidak sendirian. Oline berdiri berhadapan dengannya di atas panggung dengan latar belakang layar LED yang terang benderang.
Mereka berdua memakai kostum putih-hijau yang sama. Wajah mereka berdua bersinar cerah, kompak mengangkat satu tangan tinggi-tinggi dengan jari telunjuk dan kelingking teracung membentuk pose metal yang ikonik. Senyum mereka sangat lebar sampai mata keduanya menyipit bahagia.
Erine tersenyum manis, jarinya mengusap layar HP pelan. "Ih... ada lagi ini mah pas bareng Oline! Muka kita seneng banget ya di sini." Dia menghela napas dengan gaya overthinking yang imut. "Aduh, ini nih bakal viral lagi di TikTok asli. Orine-Orine mulu nanti isinya, pasti FYP gue isinya editan kapal semua ini mah, parah."
