Starla keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk sebatas dada. Kulit mulusnya masih basah, menyebarkan aroma sabun susu campur mawar ke seluruh penjuru kamar kos minimalis.
Di sudut ruangan, Juuna masih sibuk ngetik skripsi tentang program pemerintah yang absurd. Tentu ia berani mengambil tema tersebut, mengingat papinya sendiri adalah seorang mayor jenderal kebanggaan sekaligus kepercayaan sang penguasa.
Yap, meski Juuna terbilang unik secara logika maupun fisik. Ia merupakan anak orang kaya melintir yang ga suka mencicip aset keluarga.
Cewek 3bt-berondong berbatang berwajah tampan itu emang hobi nyamar jadi gembel demi reputasi keluarga yang udah bobrok karena terlena di dunia politik.
Jauh dari kesan anak sultan berpakaian rapi, di sini hari-hari ia cuma pakai kolor dan kaos putih tanpa lengan, memperlihatkan bisep tegasnya.
Starla berjalan mendekat, sengaja duduk di tepi kasur tepat di belakang kursi Juuna.
"Dedek emes macih yama yahh, punggung Mbak pegel banget. Pijitin, eung.." Panggilnya dengan nada super manja. Seperti kucing ras minta dielus.
Juuna menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar laptopnya. "Bentar ya, Mbak Sayang. Tanggung ini, tinggal kesimpulan dan ngasih sedikit sentuhan umpatan kecil di akhir kalimat. Anjir emang pemerintah gini banget programnya."
Starla mendengus kesal. Ia bangkit, melangkah mendekat, kali ini dengan kesadaran penuh dan kelewat nekat menjatuhkan handuknya tepat di samping kursi pacar berondongnya yang langsung syok berat. Nyaris mimisan.
Juuna spontan meneguk ludah berat, matanya melotot lihat pegunungan indah di depan mata. Tubuh polos mbak pacar tanpa sehelai benang bikin juniornya langsung menegang.
"Mbak... jangan digoda dulu ya. Iman Juuna tipis..." Suaranya rendah husky, berulang kali nelen ludah saking ga kuat ditampar visual dan kemolekan.
"Makanya matiin dulu laptopnya. Mbak lagi pengen banget, Juuna Sayang. Efek abis PMS." Sahut Starla, tersenyum menggoda. Matanya menyayu, wajah memerah sambil gigit bibir bawah-tanda lagi heat parah.
Wanita cantik itu makin menggacar nakal dengan mulai duduk di pangkuan Juuna. Ia memposisikan kakinya mengangkang, saling tatap dengan sangat dekat dan begitu intim.
Aroma feromon Starla seketika membuat fokus Juuna buyar total. Jiwa penyabarnya mulai terkikis oleh rasa gerah nan gemas. Ingin meremas-remas mbak pacar.
"Mbak.. jangan gini. Si Gatot kalau udah diduduki si Linda, dia bisa kesetanan..."
Starla mengernyit seraya kedua tangannya kian mengalung erat di leher Juuna, "Siapa Gatot dan siapa Linda?"
"Gahar dan beroToT milik aku ketemu Liang Nikmat nan inDah milik kamu, kalau mereka bersatu bisa bikin gempa tsunami, Mbak..." Jelas Juuna agak gemeteran nahan gejolak.
Starla terkekeh pelan dengernya, jemari lentiknya mulai bermain di tengkuk Juuna, lalu turun mengelus dada tegap dan bahu lebar pacar berongdonganya itu.
"Mbak.. please, nanti skripsiku gak kelar-kelar... Gatot udah mau ngamuk ini Mbak.. tolong jangan dibangunin dulu. Nidurinnya susah soalnya..." Protes Juuna lemah, tapi tangannya justru reflek memeluk pinggang ramping Starla.
"Biarin. Gak ada skripsi malam ini. Kamu mending urusin Mbak sekarang..." Bisiknya teramat lembut tepat di telinga Juuna, lalu menggigit kecil cuping telinga si berondong sampai memerah karena libidonya seolah terus digoda.
Syit, Juuna langsung menggeram pelan. Di balik kolor kesayangan, keunikan biologisnya makin tegang dan bereaksi keras akibat godaan maut dari sang kekasih tercinta.
