Aira menatap langit-langit kamar hotel bintang lima di kawasan SCBD dengan mata yang kosong. Lampu kristal di atasnya berkilau seperti ribuan bintang palsu, tapi tidak satu pun yang mampu menerangi lubang di dadanya. Usia dua puluh delapan, tubuhnya masih ramping dan kulitnya mulus seperti wanita yang biasa muncul di sampul majalah bisnis. Namun di dalam, ia merasa sudah tua.
Di meja samping tempat tidur, laptop masih terbuka. Layarnya menampilkan portofolio saham yang membuat banyak orang di Jakarta iri. Ribuan lot blue-chip. Saham perbankan, energi, teknologi. Di sampingnya, laporan rekening tabungan emas digital menunjukkan angka yang bahkan tidak sanggup ia sebutkan lantang tanpa merasa jijik. Semua itu hasil dari lima tahun bekerja tanpa henti di lantai perdagangan, dari junior analyst yang dipermalukan di ruang meeting hingga menjadi salah satu private wealth manager termuda yang ditakuti rekan-rekannya.
Ia ingat malam-malam ketika ia tidur di sofa kantor, mata merah karena memantau pergerakan pasar global. Ia ingat bagaimana ia menolak setiap undangan makan malam, setiap tawaran kencan, setiap peluang untuk merasakan sesuatu yang "biasa". Karena biasa, menurutnya dulu, adalah musuh kesuksesan.
Sekarang kesuksesan itu terasa seperti penjara berlapis emas.
Aira bangkit dari tempat tidur. Sutra malam yang dikenakannya melorot di satu bahu, memperlihatkan kulit yang jarang tersentuh sinar matahari. Ia berjalan ke jendela lantai tiga puluh tujuh. Di bawah, Jakarta masih hidup-lampu mobil, gedung-gedung kaca yang memantulkan cahaya, orang-orang yang berlari mengejar sesuatu. Ia dulu adalah salah satu dari mereka. Sekarang ia hanya penonton.
Telepon bergetar. Nama "Ibu" muncul di layar. Aira menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.
"Aira, kamu sudah makan?" suara ibu dari rumah di Jakarta Selatan terdengar serak.
"Sudah, Bu." Bohong.
"Kapan pulang ke rumah? Ayahmu sering tanya. Katanya apartemenmu itu dingin."
Aira tersenyum pahit. Apartemennya di Menteng memang dingin. Bukan karena AC, tapi karena kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya barang-barang mahal yang tidak pernah ia sentuh dengan rasa memiliki.
"Aku lagi pikir-pikir, Bu," jawabnya pelan. "Mungkin... aku butuh istirahat. Jauh dari sini."
Setelah panggilan itu berakhir, Aira duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka laci, mengeluarkan buku tabungan fisik yang jarang ia buka. Di dalamnya ada catatan tangan tentang setiap lot saham yang ia beli di masa-masa awal. Tulisan itu rapi, penuh semangat. Sekarang tulisan itu terasa seperti milik orang lain.
Hidupnya hampa. Ia sudah punya segalanya yang orang lain kejar, tapi tidak punya satu pun yang membuat dada terasa hangat. Tidak ada seseorang yang menunggu di rumah. Tidak ada tangan yang memegang tangannya ketika pasar anjlok. Tidak ada tawa di meja makan. Hanya angka-angka yang terus bertambah, dan keheningan yang semakin dalam.
Malam itu, Aira membuat keputusan.
Ia membuka rekening baru atas nama samaran. Mentransfer sebagian kecil dari kekayaannya-cukup untuk hidup nyaman, tapi tidak cukup untuk menarik perhatian. Sisanya ia biarkan mengendap di tempat yang aman, seolah menunggu pemiliknya yang sebenarnya kembali. Ia membatalkan semua kontrak kerja dengan klien prioritas. Mengirim email pengunduran diri yang singkat dan dingin. Tidak ada pesta perpisahan. Tidak ada ucapan selamat. Hanya keheningan yang ia pilih sendiri.
Ia tidak ingin pulang ke tempat yang masih terhubung dengan masa lalunya. Tidak ke rumah orang tua, tidak ke desa asal ibu, tidak ke mana pun yang bisa membuat orang mengenalinya. Ia membutuhkan tempat yang benar-benar asing. Tempat di mana tidak ada yang tahu siapa dia, berapa lot saham yang pernah ia pegang, atau berapa gram emas yang tersimpan atas namanya.
Dengan jari yang sedikit gemetar, Aira membuka peta digital. Matanya menyusuri nama-nama desa di pelosok Jawa yang jarang muncul di berita. Satu nama membuatnya berhenti: Desa Kalirejo. Terletak di lereng pegunungan, jauh dari jalur wisata, jauh dari stasiun besar. Tidak ada kerabat, tidak ada kenalan, tidak ada jejak yang bisa mengikutinya.
Seminggu kemudian, Aira berdiri di depan cermin besar di kamar mandi apartemennya untuk terakhir kalinya. Rambut panjangnya ia ikat sederhana. Tidak ada lipstick merah, tidak ada sepatu hak tinggi. Ia mengenakan gaun katun longgar berwarna ungu muda yang dibelinya di pasar malam beberapa tahun lalu-gaun yang tidak pernah sempat dipakai karena "tidak pantas" untuk dunia yang ia tinggali. Di kepalanya, handuk abu-abu dililit seperti wanita kampung yang baru selesai mandi.
Ia menatap bayangannya. Wanita di cermin itu masih cantik, masih memiliki tubuh yang membuat laki-laki menoleh. Tapi matanya sudah berbeda. Ada kelelahan, ada kerinduan, dan ada tekad yang diam-diam membara.
"Selamat tinggal, Aira yang di Jakarta," bisiknya pelan.
Besok pagi, ia akan naik kereta ekonomi, lalu bus lokal, menuju desa yang sama sekali tidak ia kenal. Desa di mana orang-orang masih mencuci pakaian di sungai, di mana tetangga saling meminjam gula, dan di mana tidak ada yang peduli berapa lot saham yang kau miliki.
Di sana, ia akan menjadi orang biasa.
Orang yang tidak dikenal.
Orang yang mungkin, untuk pertama kalinya, bisa merasakan apa artinya hidup tanpa angka-angka yang menghantui.
Aira mematikan lampu. Gelap menyelimuti kamar yang mewah itu. Di luar, Jakarta terus bergerak. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aira merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Perjalanan baru akan dimulai di tempat yang asing.
Dan ia siap kehilangan segalanya... demi menemukan sesuatu yang lebih berharga dari emas.
YOU ARE READING
Aira
General FictionMenceritakan tentang Aira wanita metropolitan yang sukses, tapi hidupnya merasa hampa. Dia mencoba pindah ke sebuah desa tak dikenal demi mencari arti kehidupan.
