Tidak ada yang benar-benar tahu di mana batas antara dunia manusia dan dunia gaib. Konon, keduanya hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama. Manusia menjalani kehidupannya seperti biasa yaitu bekerja, belajar, tertawa, mencintai, lalu pulang ke rumah masing-masing sebaliknya dunia mereka hanyalah ruangan hampa yang terus saja berulang.
Bagi manusia, lorong kosong hanyalah lorong kosong.
Kamar yang tidak berpenghuni hanyalah ruangan yang ditinggalkan.
Dan suara langkah kaki di tengah malam mungkin hanya dianggap sebagai suara angin. Namun bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk melihatnya, dunia terlihat jauh berbeda.
begitulah yang dialami oleh Li Peien Sejak kecil ia tahu bahwa dunia tidak hanya dihuni oleh manusia. Mereka datang dalam berbagai wujud. Ada yang hanya berdiri diam mengawasi, ada pula yang hanya mengikuti karena kesepian.
Li Peien dapat melihat semuanya.
Kemampuan itu pertama kali muncul ketika usianya baru saja menginjak lima tahun. Saat anak-anak lain berlari mengejar kupu-kupu di halaman, ia justru menunjuk ke arah seorang wanita berbaju kusut dengan penuh darah yang bergelantungan di pohon dekat rumahnya.
"Mama, kenapa ada orang di sana dan dia terluka, haruskah kita membantunya?" Li Peien menunjuk pada pohon besar dihadapannya.
Mama Peien melihat kearah yang ditunjukkan oleh sang anak, namun tiada siapapun disana. Mama nya pun menyuruhnya untuk tidak menghiraukannya.
Pada saat pulang sekolah Li Peien kecil dan mamanya menunggu lampu penyebrangan yang masih berwarna merah.
Mata kelinci Li Peien menatap pada arah seberang, sesosok lelaki diselimuti asap gelap melambai padanya. Peien kecil pun menggenggam tangan mamanya.
"Ma, diseberang sana kakak itu melambai pada kita." ucap Peien kecil dengan polos.
Mama Peien kembali mengingatkan anaknya untuk jangan menghiraukan panggilan dari makhluk seperti itu lagi dan jangan melihanya. Saat lampu berubah hijau mama Peien pun menggendong sang anak dengan erat dan berjalan cepat melewati penyebrangan.
Sosok yang dilihat Peien sebelumnya telah menghilang disaat mereka menyebrang hanya tersisa kepulan asap saja. Setelahnya Mama Peien membawa sang anak ke paranormal manapun untuk menghilangkan kemampuan sang anak.
Namun nihil, semua paranormal yang ditemui tidak mampu untuk menghilangkannya. Mereka hanya memberi jimat-jimat yang tak berguna. Sampai suatu hari Li Peien hampir dibawa oleh bayangan hitam itu lagi.
Peien kecil berjalan dengan tatapan kosong menuju tengah jalan raya, dari jauh truk besar melaju dengan kecepatan tinggi.
Mama peien yang sedang mengantri es krim untuk sang anak pun sontak berteriak lalu berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan sang anak.
"PEIEN!"
"Mama?" Peien sadar namun truk sudah tidak jauh dari jaraknya berdiri.
Mama Peien mendorong sang anak agar menjauh, Peien kecil mendapatkan luka dibagian kepala sedangkan mama nya langsung meninggal di tempat akibat terlindas truk yang hampir saja menabrak anaknya.
Mulai dari sinilah sang ayah sangat membenci anak semata wayangnya itu, ayahnya merasa bahwa Peien lah penyebab kematian istrinya. Li Peien dikirim pada kakek dan neneknya di pedesaan. Ia selalu dihantui rasa bersalah harusnya ia tidak menghiraukannya seperti perintah mamanya namun ia tidak mendengarkan.
Rasa bersalah itu dibawanya hingga ia tumbuh dewasa, Li Peien cenderung menjadi anak yang penyendiri dan pendiam.
====
ESTÁS LEYENDO
Ghost In My Room [JiangLi]
FanfictionOcean awalnya hanyalah sesosok arwah penjaga di kawasan gedung F ia terbiasa dalam kesendirian, sunyi tanpa ada siapapun yang mengajaknya berbicara. Namun bertahun-tahun berlalu dengan cepat. Satu manusia dengan energi yang tak biasa menarik perhati...
![Ghost In My Room [JiangLi]](https://img.wattpad.com/cover/415497051-64-k850095.jpg)