*NOVEL: SI PEMBULLY MENCINTAIMU*
*Genre: Romance, Drama, Comedy*
*Setting: SMA Harapan Bangsa Palembang*
---
*BAB 1: "HARI PERTAMA DI SEKOLAH"*
Senin,
SMA Harapan Bangsa Palembang.
Pintu gerbang sekolah masih rame. Anak baru bingung cari kelas, anak lama udah nongkrong di kantin.
Aku, Ajul, berdiri di depan papan pengumuman. Kemeja putih dimasukin rapi, dasi lurus, tas dislempangin 2.
"Ajul! Sini!" teriak Bu Wati dari kantor. "Kamu kan Ketua OSIS baru ya? Bantu arahin anak kelas 10."
Aku angguk. "Siap Bu."
Baru jalan 3 langkah, "BRAKK"
Seseorang nabrak bahuku. Tas ku jatuh. Buku-buku berhamburan.
"WOI MATA LU PICEK?!" bentak suara berat.
Aku nengok. Cowok. Tinggi 178an. Rambut gondrong nutupin kening. Kemeja kebuka 3 kancing. Celana dilipet. Sepatu udah gak putih lagi.
"Maaf," kataku datar sambil pungutin buku. "Kamu juga bisa bilang maaf."
Dia nyengir. Gigi agak kuning. "Maaf? Ke lu? Kutu buku?"
Jantungku langsung panas. "Siapa kutu buku?"
"Lu. Liat aja. Kacamata, buku tebel, muka culun." Dia nunjuk aku dari atas ke bawah. "Nama gue Raka. Inget ya. Mulai hari ini gue raja di kelas 10 IPA 1."
Aku berdiri. Setara sama dia. "Oh. Nama gue Ajul. Ketua OSIS. Inget juga. Mulai hari ini gue yg ngurusin anak yg bikin onar di sekolah."
Raka diem 2 detik. Terus ketawa. "HAHAHA. LUCU. Ketua OSIS? Yang bisanya cuma rapat doang?"
Dia maju selangkah. Bau rokok nyengat. "Denger ya Ajul. Di sekolah ini, aturan gue yg jalan. Bukan aturan OSIS. Paham?"
"Belum tentu." Aku dorong kacamataku. "Mau buktiin?"
Raka nyipit. "Oke. Gue suka sama orang keras kepala."
Dia muterin badan. Sebelum pergi dia nengok: "Jam 12. Kantin. Bawain gue nasi goreng. Kalo gak ada... tas lu gue buang ke kolam ikan."
Dia pergi ninggalin aku yg masih gemeteran marah.
Temen di sebelahku bisik: "Itu Raka Jul. Anak preman. Udah 2x keluar. Hati-hati."
Aku jawab pelan: "Gak takut."
---
_Jam 07.00. Kelas 10 IPA 1_
Aku masuk. Udah duduk paling depan. Kursi tengah kosong.
1 menit kemudian Raka masuk. Nyender di pintu.
"Selamat pagi anak-anak," kata Bu Ani wali kelas. "Ini murid baru. Raka."
Raka jalan ke belakang. Lewatin aku. Sengaja nyenggol bahuku.
"Duduk sini," bisiknya. "Sebelahan sama kutu buku. Biar pinter."
Dia duduk di sebelahku. Meja kami ditempel.
Seharian itu neraka.
Jam 08.30 Matematika: Penghapusku dilempar ke papan.
Jam 10.00 Bahasa Indonesia: Botol minumku diisi air keran.
Jam 11.30: Dia tidur. Kepalanya nyender di bahuku.
"EH!" Aku nepis.
Raka melek. "Apaan sih. Bantal lu enak."
"Bantal apaan! Itu bahu aku!"
"Ya udah pinjemin tiap hari." Dia nyengir. "Gratis kan?"
Bel istirahat bunyi.
---
_Jam 12.00. Kantin_
Aku duduk sendiri. Bawa 2 bungkus nasi goreng. 1 buat aku, 1 buat... dia.
"Telat 2 menit." Raka udah duduk duluan.
"Aku bukan pesuruh kamu."
"Tapi kamu bawa nasi goreng." Dia nyomot bungkusku. Buka. Makan pake tangan. "Enak. Besok bawa lagi."
"Enggak."
Raka berhenti ngunyah. "Ulangi."
"Enggak." Aku tatap dia. "Aku bukan babu kamu, Raka."
Suasana hening. Temen-temennya di meja sebelah nonton.
Raka ngelap mulut ke lengan bajuku. "Kotor."
"JANGAN!" Aku berdiri. "Dasar gak punya sopan santun!"
Dia ikut berdiri. Lebih tinggi. "Terus? Mau ngadu ke guru? Silahkan. Gue tunggu."
Aku pegang nampan. "Aku gak takut sama kamu."
"Bagus." Raka tiba-tiba senyum. Beneran senyum, bukan nyengir. "Gue benci sama orang penakut. Lu beda."
Dia jalan pergi. Meninggalin nasi goreng setengah.
Temennya nanya: "Bang, jadi gimana?"
Raka jawab dari jauh: "BIARIN. DIA MENARIK."
Aku duduk lagi. Nafas masih kenceng. "Orang gila."
---
_Jam 15.30. Parkiran. Pulang Sekolah_
Hujan. Aku nunggu di bawah kanopi.
Motor Raka berhenti di depanku. Nmax hitam. Knalpot brong.
"Mau dianterin?" tanyanya sambil pake helm.
"Enggak."
"Hujan loh."
"Gapapa."
Raka turun. Buka jok. Ngeluarin jas hujan. Lempar ke aku.
"Pake."
"Aku punya." Bohong.
"Pake kata gue!" Dia bentak. Tapi nadanya pelan. "Sebelum gue berubah pikiran dan nyeret lu naik motor gue."
Aku diem. Terus pake jas hujan itu. Kebesaran.
"Rumah lu mana?"
"Gang Mawar. Seberang sungai."
"Jauh. Hati-hati." Dia naik motor. "Oh iya. Besok bawa nasi goreng lagi. 2. Satu buat gue, satu buat lu. Biar adil."
"KENAPA HARUS AKU?!"
Raka pake helm. Suaranya kedengeran dari balik kaca. "Karena gue males masak. Dan karena... gue suka ngeliat lu marah. Lucu."
"BRUK" Motornya tancap gas. Meninggalin aku basah kuyup dan bingung.
Marah? Iya. Tapi kenapa jantungku deg-degan?
---
_Jam 19.00. Rumah Ajul_
Aku lagi belajar. Ibu masuk bawa teh.
"Nak, tadi ada anak nganterin beras. Bilang dari sekolah."
Aku nengok. Karung 5kg di pojok.
"Siapa Bu?"
"Gak tau. Anak tinggi. Pake jaket hitam. Buru-buru."
Aku langsung tau. Raka.
"Anak aneh," gumamku. Tapi tanganku megang karung itu erat.
HP ku bunyi. Nomor gak dikenal.
Isi chat: _"Besok jam 7. Jangan telat. -R"_
Aku ketik: _"Kamu siapa?"_
Balas: _"Pembully kamu. Tidur sana."_
Aku lempar HP ke kasur. "GILA."
*AKHIR BAB 1*
