1

458 85 7
                                        

Eastern Mandate

Naruto © Masashi Kishimoto Copyright

Writer’s : HachiMoon

The Podium Event

Naruto’s Birthday Event 2026

⋆✦⋆

Manor Hyuga sudah bangun sebelum diriku. Aku mendengarnya dari balik selimut; derap pelayan dapur di lorong bawah, decit roda kereta pengangkut air, seseorang menyapu halaman batu. Semua itu masuk lebih dulu daripada cahaya. Jendelaku menghadap timur, tapi tirainya tebal, dan aku tidak pernah buru-buru membukanya. Aku membiarkan pagi itu tinggal di balik kain dulu, sebagai suara-suara yang tidak menuntut apa pun, sementara kesadaranku masih setengah berada di tempat lain.

Aku bangun bukan karena ingin. Aku bangun karena tubuh ini sudah tahu jamnya sendiri, terlepas dari berapa lama aku benar-benar tidur semalam. Ada semacam jam internal yang tumbuh di dalam diriku sejak kecil, dibentuk oleh jadwal manor yang keras—bel istal, bel dapur, langkah penjaga yang berganti giliran—sampai tubuhku tidak lagi butuh matahari untuk tahu kapan harus meninggalkan malam.

Aku duduk di tepi ranjang selama beberapa detik, membiarkan kepala menyesuaikan diri dengan posisi tegak. Lantai batu dingin menembus telapak kaki begitu aku menapak. Aku sudah lama berhenti kaget karena itu. Rasa dinginnya malah terasa seperti bagian dari ritual bangun itu sendiri, seperti secercah air yang disiramkan ke wajah.

Pintu kamarku tidak berbunyi ketika aku membukanya. Aku sudah membiasakan diri melakukannya pelan-pelan, meski tidak ada alasan untuk itu selain kebiasaan.

Naruto, penjagaku, ada di sana. Seperti tugasnya.

Dia berdiri di sisi kiri pintu, punggung hampir menyentuh dinding, satu tangan di gagang pedang meski tidak ada apa pun untuk dijaga selain koridor kosong dan cahaya pagi yang belum penuh. Cahaya itu jatuh dari jendela jauh di ujung lorong, menyentuh lantai batu seperti tumpahan air berwarna emas muda, dan dia berdiri tepat di tepi gelapnya, di tempat bayangan masih menutupi sebagian tubuhnya.

Dia menoleh sedikit saat pintu terbuka. Bukan kaget, hanya mengenali, seolah mengerti dengan persis berapa detik lagi sebelum aku muncul. Ada semacam ketepatan dalam caranya bergerak, seperti jarum jam yang tidak pernah meleset, dan entah kenapa itu selalu membuatku merasa pagi belum benar-benar dimulai sampai dia menoleh seperti itu.

“Selamat pagi,” katanya. Singkat.

“Pagi,” jawabku.

Kami berjalan ke ruang makan tanpa banyak bicara. Ini bukan kecanggungan. Ini rutinitas yang sudah kehilangan kebutuhan akan kata-kata bertahun-tahun lalu. Aku berjalan di depan, dia setengah langkah di belakang dan sedikit ke kanan—posisi yang tidak pernah kuminta, tapi selalu ada, seakan tubuhnya sendiri yang memutuskan di mana harus berdiri relatif terhadapku. Kadang aku bertanya-tanya apakah dia sadar melakukannya, atau apakah itu sudah menjadi sesuatu yang terjadi di bawah pikirannya sendiri.

Aku juga tahu dia di belakangku tanpa perlu menoleh. Bukan karena firasat, atau ikatan mistis semacam yang diceritakan dalam kisah-kisah lama. Aku tahu karena aku mengenal langkahnya. Beratnya berbeda dari pelayan lain—lebih ringan di tumit, lebih sadar, layaknya seseorang yang dilatih untuk tidak meninggalkan jejak suara meski sedang berjalan santai. Aku bisa membedakan langkah Naruto dari langkah siapa pun di manor ini, bahkan dalam gelap, bahkan dari ujung lorong yang lain.

Aku tidak pernah memikirkan ini sebagai sesuatu yang istimewa. Ini hanya fakta, seperti aku tahu di mana letak matahari pagi jatuh di lantai kamarku, atau berapa anak tangga yang harus kunaiki untuk sampai ke ruang baca. Hanya saja fakta ini tinggal lebih dekat ke tubuhku, seperti ingatan otot yang tidak bisa dihapus.

Eastern MandateStories to obsess over. Discover now