1. Dua keluarga dokter

454 37 3
                                        

Rumah Keluarga Na

Pagi itu, rumah keluarga Na terasa hangat.

Suara sendok dan piring yang beradu terdengar pelan dari ruang makan. Seluruh keluarga sedang berkumpul menikmati sarapan bersama sebelum kembali menjalani kesibukan masing-masing.

Winwin, bunda Na Jaemin, duduk di samping suaminya. Ia adalah seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit keluarga Na.

Sementara Yuta, suaminya, juga seorang dokter yang dipercaya menjadi kepala dokter sekaligus direktur utama rumah sakit keluarga mereka.

Winwin menoleh kepada suaminya.

"Hari ini Jo dan Ten akan datang mas. Luangin jadwal mas malam ini ya?"

Yuta yang sedang menikmati sarapannya langsung mengangkat wajah.

"Iya sayang. Apasih yang gak buat istri tercinta aku."

Winwin tersenyum kecil mendengar jawaban suaminya.

Sementara itu, Jaemin, anak kedua keluarga Na, hanya diam. Pemuda itu tampak sama sekali tidak tertarik dengan percakapan kedua orang tuanya.

Ia hanya menikmati sarapannya seperti biasa.

Namun ketenangan Jaemin tidak berlangsung lama.

"Kamu juga, Na Jaemin. Bunda gak mau tahu! Kamu harus datang!"

Jaemin yang sejak tadi pura-pura tidak mendengar akhirnya mengangkat wajah.

Tatapannya langsung tertuju kepada sang bunda.

Jaemin menatap bundanya dengan malas.

"Bun, bunda kan ngomongnya mendadak. Aku gak bisa. Aku ada operasi besar, Bun."

Belum sempat Winwin menjawab, Yuta sudah lebih dulu memotong ucapan anaknya.

"Ayah sudah ganti jadwal operasi kamu kok. Aman."

Gerakan tangan Jaemin yang sedang memegang sendok langsung berhenti.

Ia perlahan menoleh kepada sang ayah.

Tatapannya berubah kesal.

"Yah! Pasti kerja sama sama bunda, kan?..."

Yuta hanya tersenyum santai.

Jaemin menghela napas panjang.

Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan keluarganya.

"Aku gak mau ya dijodoh-jodohin lagi. Gak sama anak sahabat bunda atau ayah."

Jaemin meletakkan sendoknya.

"Aku bisa cari sendiri. Cuma belum mau aja. Males."

Winwin menggeleng pelan melihat sikap putranya.

"Siapa juga yang bilang mau menjodohkan kamu?"

Jaemin menyipitkan matanya.

"Bunda kalau gak mau menjodohkan, kenapa suruh aku datang?"

Winwin hanya tersenyum misterius.

Senyum yang justru membuat Jaemin semakin curiga.

Ia belum tahu bahwa kedatangan seseorang malam itu akan mengubah hidupnya.

---

Di Sisi Lain

Rumah Keluarga Lee Haechan

Di luar kota

Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah keluarga kecil baru saja tiba di rumah setelah menjalani aktivitas mereka di rumah sakit.

Haechan, Ten Lee, dan Johnny sama-sama bekerja sebagai dokter.

Namun kehidupan mereka berbeda dengan keluarga Na.

Mereka tidak memiliki kekayaan sebesar keluarga Na. Mereka hanya bekerja di sebuah rumah sakit besar di kota dan menjalani kehidupan sederhana bersama keluarga kecil mereka.

Di dalam kamar, Ten sedang bersiap.

"Mas, sudah siap? Echan mana?"

Ten bertanya kepada sang suami yang juga sedang mengganti bajunya di kamar.

"Ya sayang. Di kamar mungkin. Sedang siap-siap."

Johnny, sang suami, menjawab sembari mengenakan baju putih polosnya kemudian mengambil jaket.

Belum sempat Ten kembali bertanya, suara langkah kaki terdengar dari arah luar kamar.

"Mi, ayok."

Baru saja dibicarakan, anak tunggal mereka sudah muncul.

Haechan masuk ke kamar orang tuanya. Pintu kamar kebetulan terbuka sehingga ia langsung melangkah masuk.

Ten menoleh.

Senyum manis langsung menghiasi wajahnya ketika melihat putranya sudah siap.

"Makasih ya sudah luangin jadwal kamu buat ikut mami, sayang."

Haechan tersenyum.

"Ya, Mami. Buat Mami apa pun Echan lakuin. Hidup Haechan juga kalau Mami butuh akan Haechan berikan."

Ten menatap putranya dengan tatapan penuh kasih.

Ia kemudian mendekat dan merapikan sedikit kerah pakaian Haechan.

"Anak Mami memang paling sayang."

Haechan terkekeh kecil.

Tak lama kemudian, ketiganya meninggalkan rumah.

Mereka pergi menggunakan mobil menuju rumah keluarga Na Jaemin yang berada di luar kota.

Johnny yang menyetir sendiri.

Perjalanan awalnya berlangsung dengan tenang.

Haechan duduk di belakang bersama Ten, sementara Johnny fokus mengemudikan mobil.

Jalanan cukup ramai.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa perjalanan tersebut akan berakhir dengan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.

Beberapa saat kemudian...

Johnny melihat sebuah kendaraan melaju dari arah berlawanan.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Johnny mencoba menghindar.

Namun-

BRAK!

Suara benturan keras mengguncang seluruh isi mobil.

Mobil keluarga Haechan oleng.

Tubuh mereka terdorong keras akibat benturan.

Ten menjerit.

Haechan terhempas ke samping.

Johnny berusaha mengendalikan kemudi, tetapi semuanya sudah terlambat.

Mobil itu keluar dari jalurnya.

Dan dalam hitungan detik...

Perjalanan menuju rumah keluarga Na berubah menjadi sebuah tragedi.

Bersambung...

COLD DOCTORStories to obsess over. Discover now