Scene 1

54 0 0
                                        

Malam ini, ia terlihat terlalu cantik untuk diabaikan. Menggiurkan dengan cara yang tenang namun berbahaya. Ia terbaring menyamping di atas ranjang, tubuhnya santai, seolah kedatanganku adalah sesuatu yang sudah ia pastikan akan terjadi. Pakaian tidur hitam yang dikenakannya tak terlalu ketat, tapi cukup untuk memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Salah satu talinya dibiarkan melorot hingga lengan, ceroboh tapi disengaja. Dari balik pakaian itu, satu buah dadanya sedikit mengintip, bukan terang-terangan, melainkan seperti undangan kecil yang diam-diam memintaku mendekat.


Aku tersenyum padanya. Ia membalas dengan menggigit bibirnya perlahan, gerakan kecil yang terasa jauh lebih berisik daripada suara apa pun. Aku melangkah mendekati tempat tidur, mendekati kakinya. Pakaian itu hanya menutupi sampai paha, cukup untuk membiarkan pandanganku tersesat. Kedua pahanya tampak halus, dengan bulu tipis yang nyaris tak terlihat, justru membuatnya terasa semakin nyata. Menggiurkan dengan cara yang sederhana, tapi mematikan.


Aku mendekat ke salah satu pahanya dan mengecupnya dengan lembut. Bukan sekali, melainkan beberapa kali, cukup untuk membuat napasnya berubah... Lebih cepat. Dari bibirnya lolos desahan tipis yang tak berusaha ia sembunyikan. Aku tahu ia menikmatinya. Perlahan aku bergerak naik, tetap memberi sentuhan-sentuhan kecil yang sabar dengan bibirku. Pakaian yang menutupi pahanya kudorong sedikit. Setelah cukup tinggi, aku mendapati ternyata di balik pakaian itu, ia tidak mengenakan apa-apa lagi.


Napasnya sempat tertahan ketika aku semakin mendekat, mempersempit jarak di antara mulutku dan tempat di antara kedua kakinya. Aku bergerak perlahan, nyaris menyiksa, membiarkan rasa tidak sabar tumbuh sampai ia sendiri tak sanggup menunggu. Tubuhnya bereaksi lebih dulu, helaan napas, bisikan lirih yang patah-patah, seolah memanggil tanpa benar-benar meminta."Iya... ayo..." katanya, ketika mulutku sudah hampir mencapai tempat yang ia inginkan. Bibirku menyentuh daerah kewanitaannya sekilas, hanya cukup untuk membuat tubuhnya tersentak kecil, lalu sengaja kuberalih ke kakinya yang lain. Sebuah keluhan manja lolos dari bibirnya, pendek tapi jujur. "Yah..." Nada suaranya menyimpan kecewa yang justru membuat suasana semakin panas, seolah ia sadar aku sengaja menahannya di batas itu. Aku yang memegang kendali.

Bisikan SenjaStories to obsess over. Discover now