Sore itu, suasana perumahan minimalis di pinggiran kota terasa begitu lengang, tertutup oleh selimut mendung yang menggantung rendah setelah hujan deras reda beberapa jam sebelumnya. Kelembapan udara menempel pekat di kulit, menciptakan rasa gerah yang mengundang peluh tipis di pelipis. Di dalam salah satu rumah berpagar hitam, Santi, seorang wanita berusia 28 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai bank swasta dengan segala keteraturan dan tuntutan penampilan formalnya, baru saja tiba di rumah.
Alih-alih disambut oleh keheningan yang menenangkan, telinganya langsung diserang oleh tangisan melengking dari putra tunggalnya yang kini telah menginjak usia satu tahun lebih. Sang pengasuh rumah tangga terpaksa harus pulang lebih awal karena urusan mendadak, memaksa Santi untuk langsung mengambil alih sepenuhnya pengasuhan sang anak begitu ia menjejakkan kaki di ruang tamu.
Dengan napas yang masih memburu karena lelahnya perjalanan pulang menembus kemacetan kota, Santi melepaskan sepatu hak tingginya, melepas blazer formal kantornya, dan langsung melangkah ke kamar untuk berganti pakaian. Guna meredakan rasa gerah dan kepenatan yang mendera sekujur tubuh mungilnya dengan kulit putih bersih yang kontras, ia memilih mengenakan sebuah daster rumah berpotongan longgar berbahan kain katun tipis yang lembut. Karena terburu-buru dan berniat langsung meredakan rewel sang anak, ia memutuskan untuk tidak mengenakan pakaian dalam apa pun di balik daster tipis tersebut. Tanpa bra dan tanpa celana dalam, tubuhnya terasa bebas namun sangat sensitif.
Putranya yang masih rewel langsung merengek meminta ASI. Tanpa pikir panjang, Santi mendudukkan diri di atas sofa empuk ruang tengah yang menghadap langsung ke arah ruang tamu terbuka. Ia membuka kancing atas dasternya, mengeluarkan payudaranya yang penuh dan membengkak karena produksi air susu, lalu menyodorkannya ke mulut sang anak. Isapan kuat sang buah hati langsung meredakan tangisannya, sementara Santi bersandar lemas, memejamkan mata sejenak untuk menikmati kelegaan sesaat.
Di tengah kesunyian sore yang mulai meredupkan cahaya matahari, ketukan keras di pintu depan memecah keheningan.
"Gas... gas...!"
Suara itu berirama tegas, khas suara pedagang keliling langganan kompleks. Santi tersentak pelan. Suaminya memang memesan tabung gas melon baru sejak pagi tadi melalui pesan singkat, dan rupanya baru sekarang diantar oleh agen langganan mereka.
Santi berniat beranjak untuk membukakan pintu, namun posisi sang anak sedang lahap-lahapnya menyusu, dan gerakannya tertahan oleh rasa lelah yang teramat sangat. Dengan malas-malasan, ia hanya bersuara setengah berteriak dari ruang tengah tanpa menutup pintu penghubung atau merapikan posisinya yang terbuka.
"Masuk lewat samping saja, Pak! Pintu kuncinya tidak digembok, langsung ke dapur!" teriak Santi dengan suara lembutnya, memberikan izin akses masuk.
Tak lama berselang, derap langkah kaki berat terdengar memasuki area samping rumah. Pak Samin-seorang pria paruh baya berusia sekitar 45 tahun yang bekerja sebagai penjual gas, memiliki postur tubuh tegap, lengan berurat karena terbiasa mengangkat beban berat, serta pembawaan yang selalu sopan-memasuki area rumah dengan memanggul tabung gas melon di bahunya yang bidang. Pria itu sudah sangat hapal tata letak rumah warga, sehingga ia langsung mengarahkan langkahnya menuju dapur yang terhubung los tanpa sekat dinding masif dengan ruang tengah.
Namun, ketika Pak Samin melangkah melewati area transisi antara ruang tamu dan ruang tengah, sudut matanya tanpa sengaja melirik ke arah sofa tempat Santi duduk.
Langkah kaki pria paruh baya itu seketika terhenti kaku di tempat.
Pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat aliran darah Pak Samin mendadak berdesir hebat, menghantam jantungnya dengan keras. Posisi duduk Santi yang setengah bersandar di sofa, dengan sebelah tangan menopang kepala dan tangan lainnya mendekatkan sang anak ke dadanya, membuat daster tipis berbahan katun itu tersingkap jauh ke atas paha.
ESTÁS LEYENDO
Eksibisionisme Wanita Hamil.
RomanceSanti wanita beranak satu, dari keisengan akhirnya menyukai eksibisionisme...
