Cahaya di ruangan yang tidak terlalu lebar itu minim. Sangat sangat minim. Intensitas yang terlalu rendah.
Retina mata seorang cewek itu mencoba menyesuaikan. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Kepala nya berat. Ia menoleh kekanan dan kekiri. Sampai kesadaran nya penuh, ia berpikir, dimana ini?
Kreng
Ia membulatkan matanya melihat rantai besi yang melilit erat tangan kanannya.rantai besi tua yang berkarat itu mencengkram erat tangan nya hingga menimbulkan rona biru ke ungguan yang jelas.Otak nya telat memproses. Tidak! Ini gila!
Ingatannya berputar, seingatnya, ia hanya keluar dari kosannya untuk membeli lauk makan. Kenapa sekarang ia berada di tempat aneh ini? Dengan tangan yang di........ rantai?
Ia mencoba melepaskan diri, tapi tentunya nihil. Rantai itu membelenggu dirinya sangat erat, seolah takut dirinya pergi kabur.
Rantai itu tidak terlalu panjang dan tidak pendek. Sekitar satu meter. Dan tentunya, itu tidak bisa membuatnya lari jauh. Ia mencoba berkali kali, lagi dan lagi hingga menimbulkan suara kreng yang ritmis. Hingga suara bariton yang menelusup di antara suara monoton yang dia ciptakan membuat adrenalin nya berpacu cepat.
"Mencoba kabur, hm?"
Deg!
Suara itu membuat jantung nya berdetak tak karuan. Ia refleks menoleh cepat. Netra nya membulat lebar. Bibirnya bergetar hebat, begitu juga seluruh tubuhnya yang ikut meremang.
Di depannya, berdiri tegak seorang cowok berstelan kemeja putih bersih yng di gulung hingga siku dan celana berbahan kain berwarna hitam. Ia tersenyum lebar. Sangat lebar untuk ukuran senyum ramah. Tangannya di masukkan ke kantong celananya. Sangat gentle tapi di satu sisi sedikit menyeramkan.
Nargantara adhevan Smith.
Panggil dia Ganta, cowok terkenal di fakultas manajemen ekonomi. Terkenal sangat cerdas dan berkharisma tinggi. Bukan hanya tampan dan ekonomi stabil yang membuat ia memiliki daya tarik, tapi juga karena dia memiliki darah campuran Jerman.
Ayahnya, andersoon Smith, merupakan seorang pengusaha sukses di negaranya, dan baru baru ini, dikabarkan membuka cabang di Indonesia.
Siapa yang mau menolak pesonanya klau begitu?
Dulu, waktu ia masih maba, Ganta adalah kakak senior yang meng-ospek nya. Dulu, ia sempat menaruh hati pada cowok itu. Tapi itu dulu, setelah ia sadar mana mungkin ia bisa mendapatkan kakak tingkatnya yang sangat famous itu. Terlalu dalam jurang pemisah antara dia dan Ganta. Baik segi apapun itu.
Ia mendekat, langkahnya yang presisi berjalan mendekat, justru membuat yura---gadis yang sedang dirantai --- itu mundur hingga dinding di belakangnya menertawakan usaha nya yang sia-sia.
Ganta berhenti tepat di depan ujung kakinya yang tidak beralaskan apapun. Padahal se ingatnya ia memakai sendal jepit kesayangan nya.
Ia merendahkan tubuhnya yang sebagian besar di tumpu oleh kaki kanannya. Matanya menyisir seluruh wajah ketakutan Yura. Hingga ketika cewek itu menunduk takut tangannya mengangkat dagu tirus itu naik, memaksa untuk terus mendongak menatap mata dalamnya yang ber-iris kan warn biru safir.
"Hai, apa kabar?"
Sapaan yang jelas bukan di saat yang tepat. Terlalu formal untuk situasi yang tegang. Dan terlalu santai untuk situasi seruncing ini.
Yura menatap nya takut, matanya bergerak gusar kekanan dan kekiri. Ia takut sekali untuk saat ini. Ia nyaris tidak menduga dirinya akan terjebak dalam situasi ini, bersama Ganta tentunya.
"Heran kenapa bisa ada di sini?"
Yura masih saja diam, mungkin sistem saraf nya berhenti bekerja untuk sementara. Ia masih heran, kenapa ia bisa ada di sini? Kenapa ia bisa berada di tempat yang aneh ini?
Dan gilanya lagi, bersama kakak tingkatnya?
"CK CK CK, " decak Ganta sambil menggelengkan kepalanya. Mungkin itu bentuk simpati kepadanya yang terantai tidak berdaya.
"Mungkin otak lemot mu, masih heran kenapa bisa berada di sini. Bersama ku."
Tangan kekar itu naik ke atas mengusap surai hitam di kepalanya. Ganta tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke ekor matanya.
"Le-lepaskan aku bajingan gila!". Desis Yura geram, walau terselip rasa takut yang dalam.
Suara pertama yang keluar dari mulutnya justru di tertawakan oleh Ganta. Tidak mengapresiasi karya orang memang. Suara tawa itu melengking rendah, bergema di ruangan sempit dan kumuh itu. Sangat tidak steril untuk ukuran orang- have - seperti Ganta.
"Bajingan gila?" Gumam Ganta lalu menatap tajam kearah Yura.
"Ada hak apa dirimu mengatakan ku sebagai bajingan gila?"
Ganta menepuk pipi Yura pelan. Tapi berkali kali, membuat yura menatap nya sangat bengis.
"Sadar akan posisi mu yang hanya sekedar tawanan, sayang."
Yura menyentakkan wajah nya, membuat tangan Ganta melayang di udara.
"Aku, bukan tawanan, sialan!---"
Plak.
Suara kulit yang beradu kencang dengan permukaan pipi Yura terdengar begitu menyeramkan. Kepala Yura tertoleh ke kanan. Ia menahan sakit luar biasa yang menjalar di bagian tulang pipinya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, dan dalam satu kali kedipan, cairan bening itu meluruh di kulitnya.
"Aku yang memegang kendali di sini, sayang. Jadi," ucapan itu membuat napas Yura memburu kencang, bersamaan dengan jantung nya yang menggila.
"Turuti apa kata ku. Jangan melawan, dan kamu, aman."
Yura tidak mengangkat kepalanya. Ia masih setia menatap lantai yang kotor oleh debu. Bahkan jejak jejak air matanya menggenang di ubin keramik itu. Sekeras apapun ia menahan diri untuk tidak bersuara, tapi sesegukan itu mulai menguasai nya.
Isakan kecil Yura tidak meluluhkan hati ganta. Justru ia menyeringai puas melihat ketidak berdayaan Yura. Sepertinya ini lucu, pikirannya.
Ia melangkah keluar, mengabaikan teriakan Yura memohon agar di keluarkan.
"GANTA! JANGAN TINGGALIN GUE!!"
"GANTA, PLEASE"
"please...."
Dan bunyi dentuman pintu itu memisahkan suara suara yang kini mulai melemah. Diluar, Ganta terlihat biasa saja. Seolah olah tidak ada hal besar yang mengubah pola hidupnya.
Dan didalam, Yura terlihat menyenderkan kepalanya ke dinding yng dingin. Tapi airmata justru membuat wajahnya hangat. Sangat kontras memang.
"Ganta..... Please......." Suara itu kini melirih. Sebelum akhirnya benar benar hilang, bersamaan dengan kesadaran nya yang berkurang. Cahaya di sekitar yura tampak berkunang kunang, sebelum akhirnya gelap mengambil alih.
Kepalanya terkulai lemas, begitu juga tangannya yang terantai. Jika bagi ura ia adalah peliharaan, maka bagi Ganta, itu adalah cara bagaimana ia mempertahankan miliknya. Dan baginya, itu hal wajar. Dan tidak ad yang bisa menyalahi aturannya, permainannya. Dan mungkin......
Sesuatu yang lebih dari itu.
TBC
Hallo guyss👋👋👋 gimana nih sama ceritanya?
Btw ini cerita pertama ku tentang pysichopath, dan cerita pertama ku tentang dark romance gitu.
Jujur, pusing deh😭😭😭
Kalian jangan lupa buat tinggalin jejak ya
Vote terus yuk biar author nya semangat.
Ohhhhhhhhh, lupa kenalan.
Nex time lah ya??
ESTÁS LEYENDO
hunter or demons king
RomanceAyura sadar, ada yang selalu mengawasinya. Setiap detiknya, dan setiap saatnya. Namun, ayura tidak tau, siapa dia? Apa maunya? Dan kenapa? Sampai suatu hari, ia terbangun di sebuah ruangan yang tidak terlalu lebar, paling tidak hanya sekitar empat k...
