Bab 1 : Aryuha Nadia Winata

54 8 0
                                        

Gadis itu berjalan dengan wajah yang sangat tidak bersemangat menuruni anak tangga. Tas punggungnya ia sampirkan di bahu kanan, rambut panjangnya menggerai kusut hingga ke punggung. Hodie hitam kusam, yang selalu menyamainya saat keluar rumah, sudah sangat melekat padanya. Dialah Aryuha Nadia Winata.

Pagi ini akan seperti biasanya, ia akan makan di dapur sendiri, jauh dari ketiga saudarinya yang makan di meja makan mewah dengan lauk pauk yang masih hangat, sedangkan ia hanya memakan lauk sisa kemarin yang selalu disisakan pembantu khusus untuknya.

Ia mengambil nasi dingin di lemari kaca, lalu menaruh ayam goreng sisa kemarin yang sudah terlihat tidak segar. Bagaimanapun Yuha harus memakannya, jika tidak mau lambungnya kembali berulah dan membuatnya berakhir pingsan di sekolah.

Ia memakan makanannya tanpa rasa semangat, walaupun Yuha tak pernah mengeluh pada hidupnya bukan berarti Yuha juga menerimanya dengan lapang dada, ia hanya berusaha untuk tidak peduli.

Setelah selesai makan, Yuha melangkah keluar dari dapur menuju ruang makan. Meski ada pintu belakang, entah kenapa gadis itu selalu memilih untuk keluar dari depan, padahal ia selalu menyesal setelah lewat dari sana.

Ia melangkah menunduk melewati ketiga saudarinya. Tiga gadis itu menatapnya, namun hanya satu pasang mata yang benar-benar membuat bulu kuduk Yuha selalu merinding.
Jihandra Aria Winata. Wanita berambut Bondol seleher, rahang tegas, tatapan tajam, serta tahi lalat tepat di bawah mata membuatnya terlihat manis, cantik, sekaligus berwibawa di dalam satu wajah.
Tapi bagi Yuha, dia adalah kakak yang paling menyeramkan, karena dari dua kakaknya Jihan adalah kakak yang tak segan bermain fisik untuk menunjukkan rasa bencinya pada Yuha.

"Jangan bikin onar di sekolah. Cukup sudah kamu jadi pembunuh dan pembawa sial, jangan menyusahkan kami lagi!" Suara itu bernada lembut, tetapi bermakna tajam, menusuk ke ulu hati Yuha.

Yuha berhenti melangkah, lalu menatap kakak tertuanya.
Carmenita Ayu Winata, wanita berseragam dokter dengan mata bulat itu memang mempunyai suara yang menenangkan, tapi tidak saat ia bersuara untuk Yuha.

Yuha mengangguk pelan. "Iya, kak." Ia membungkuk kecil, lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruang makan, dengan bahu yang selalu sama, tetap bergetar saat ia melewati ruangan itu di pagi hari.

Satu pasang mata yang tak setajam milik Jihan juga terus mengintai pergerakannya hingga menghilang dari ruangan. Mata kucing itu menatap jijik, seolah Yuha memang benar-benar aib baginya dan saudarinya yang lain.
Dia satu-satunya adik Yuha, Stellara Ayu putri Winata, si bungsu yang berjarak dua tahun dari usia Yuha, tapi mereka masih sekelas di sekolah.
Bukan karena Yuha terus tinggal kelas hingga Stella menyusulnya, tetapi karena Yuha yang disengaja telat masuk sekolah hingga bersamaan dengan Stella.

~~~
SMA Semarak Nusa bangsa, sekolah swasta modern itu cukup banyak dihuni oleh anak-anak dari kalangan atas. Hingga bukan hal yang jarang terjadi, jika perundungan dan pembullyan menjadi hal yang kerap disaksikan di sana....dan salah satu korbannya adalah Yuha.

Gadis itu berjalan menyusuri koridor, dan seperti biasa, sekelompok murid selalu saja ada yang menggangunya.
Yuha beberapa kali di dorong keras ke depan, di tarik tas nya, hingga akhirnya kaki gadis itu di tendang kasar dari belakang.

Empat siswi yang menjadi pelaku tertawa terbahak-bahak, seolah membully Yuha adalah lelucon pagi bagi mereka.
"Eh, dekil! Kalo jalan itu jangan ngelamun, jatuh kan kamu." Siswi tinggi berambut blonde membungkuk sedikit sembari mengatai Yuha.
Arumi Nadya Bachrin. Anak investor utama SMA Semarak Nusa bangsa yang terkenal dengan sikap arogan dan angkuh, memang sering menargetkan Yuha sebagai korban bully, apalagi mereka memang berada di satu kelas yang sama.

Peluk Aku, KakStories to obsess over. Discover now