Prolog

2 1 0
                                        

Dunia berakhir tepat pada musim dingin.

Langit Seoul yang biasanya dipenuhi cahaya gedung pencakar langit berubah merah darah malam itu. Salju turun perlahan di antara jeritan manusia, tabrakan mobil, dan suara sesuatu yang merangkak keluar dari retakan hitam yang muncul di udara.

Tidak ada yang tahu apa itu.

Tidak ada yang tahu kenapa layar biru transparan tiba-tiba muncul di depan mata seluruh manusia di bumi.

[ SYSTEM INITIALIZED ]

Humanity survival mode has begun.

Dan sejak malam itu, dunia tidak pernah kembali sama.

-

Dua puluh tahun telah berlalu.

Peradaban masih ada, namun tidak lagi disebut peradaban.

Negara-negara runtuh sejak lama. Pemerintah berubah menjadi organisasi bersenjata. Kota-kota dipenuhi dungeon, monster, dan manusia yang jauh lebih mengerikan daripada monster itu sendiri.

Player.

Manusia yang menerima kekuatan dari System.

Mereka adalah harapan sekaligus bencana.

Yang kuat berdiri di atas segalanya. Yang lemah diinjak hingga mati.

Dan di dunia baru yang dipenuhi darah itu, ada satu nama yang membuat seluruh player gemetar hanya dengan mendengarnya.

Lavinia Vlahos - The Calamity Queen.

Wanita yang berdiri di puncak seluruh ranking global selama enam tahun terakhir. Pengendali kematian. Pemilik skill legendaris yang bahkan System tidak mampu analisa sepenuhnya.

Monster yang bahkan monster takut padanya. Dan sekarang, dia menghancurkan dunia.

-

Langit malam terbelah.

Retakan hitam raksasa memenuhi udara seperti kaca pecah. Mana mengamuk di seluruh penjuru dunia, memicu gempa, badai, dan runtuhnya dungeon yang selama ini menopang stabilitas planet.

Jeritan terdengar di mana-mana.

Kota-kota terbakar.

Laut mendidih.

Langit dipenuhi makhluk-makhluk yang tidak pernah tercatat dalam database System.

Dan di pusat semuanya, berdiri seorang wanita. Rambut panjang berwarna pirang berkibar liar di tengah badai mana. Mata heterochromia miliknya menyala terang; satu emas dan satu hijau.

Cantik, namun mengerikan.

Gaun hitam panjang yang dia kenakan berlumuran darah, sementara ribuan corpse puppet berdiri diam di belakangnya seperti pasukan mayat hidup.

Lavinia Vlahos menatap dunia dengan mata kosong, seolah dia sudah terlalu lelah untuk peduli lagi. Sementara di hadapannya berdiri seorang pria. Rambut pirang keemasan, Mata emas dingin yang begitu familiar.

Wajah tampan yang tidak menunjukkan usia meskipun angka empat puluh enam telah lama berlalu. Mana membuat para player berhenti menua. Dan pria iti, adalah satu-satunya orang yang masih memanggil monster itu dengan suara lembut.

"Lavinia.." Suara Aether Vlahos terdengar serak. Sudah terlalu lama. Terlalu banyak perang, terlalu banyak kematian, dan terlalu banyak orang yang mereka kubur bersama.

Namun di matanya, Lavinia masih gadis kecil berusia delapan tahun yang menangis ketakutan di pemakaman orangtua mereka. Gadis kecil yang menggenggam tangannya erat dan bertanya dengan suara gemetar, "Oppa... kita sekarang bagaimana?"

The Last QuestStories to obsess over. Discover now