Suara ketukan sol sepatu kulit buatan Italia di atas marmer lantai tiga puluh enam menara perkantoran itu selalu terdengar seperti detak metronom yang presisi. Arkan Narendra tidak pernah mengizinkan ada satu pun ketidakteraturan dalam hidupnya. Sudut dasi sutra abu-abunya terlipat dengan kemiringan tepat, kerah kemeja putihnya disetrika tanpa kerut, dan setiap berkas di atas meja kerja mahoni luas miliknya tersusun berdasarkan tingkat urgensi yang mutlak.
Namun, di bawah lapisan kain wol mewah dan ikat pinggang berbahan kulit pekat itu, terdapat lapisan rahasia yang tidak pernah boleh diketahui siapa pun di dunia ini. Arkan mengenakan bantalan serap tebal, sebuah popok dewasa premium yang dipesan khusus tanpa label melalui kurir anonim. Bagi dunia luar, Arkan adalah sosok baja tanpa cela, penerus tunggal imperium logistik Narendra Group yang kejam dan tak kenal ampun. Tetapi bagi tubuhnya sendiri, detak jantung yang berdegup melampaui seratus dua puluh denyut per menit akibat serangan panik kronis hanya bisa diredam oleh rasa aman yang ganjil dari tekanan bantalan lembut di pinggang dan selangkangannya. Itu adalah jangkar psikologis rahasianya, satu-satunya hal yang mencegahnya hancur berkeping-keping di bawah ekspektasi dewan direksi yang mencekik.
Di balik pintu kaca buram ruang kerjanya, Maya berdiri dengan tablet digital di pelukan. Maya bukan sekadar sekretaris. ia adalah mesin pengatur ritme harian Arkan selama dua tahun terakhir. Rambutnya diikat rapi membentuk sanggul rendah, tatapannya tenang, nyaris tanpa emosi yang terbaca. Maya tahu kapan kopi Arkan harus bersuhu tepat enam puluh lima derajat Celsius, dan ia tahu rute jalan mana yang harus dihindari sopir pribadi agar sang CEO tidak mengalami lonjakan stres sebelum rapat pemegang saham.
"Jadwal presentasi akuisisi PT Samudra Logistik dimajukan menjadi pukul dua siang, Pak Arkan," ujar Maya dengan nada datar yang terukur saat melangkah masuk tanpa menimbulkan suara berderit sedikit pun.
Arkan mendongak dari monitornya, merapikan sedikit ujung jasnya untuk memastikan lipatan celananya tetap jatuh lurus tanpa membentuk volume yang mencurigakan. "Siapkan proyektor di ruang rapat utama. Pastikan direktur operasional sudah membaca laporan audit sebelum mereka berani membuka mulut."
"Semua dokumen sudah berada di meja mereka sejak pukul tujuh pagi," jawab Maya tenang.
Ketika waktu menunjukkan pukul satu lewat lima puluh lima menit, ketegangan di udara kantor mulai memadat. Ruang rapat utama dipenuhi oleh para petinggi perusahaan berkepala dingin yang siap mencabik setiap celah dalam rencana akuisisi bernilai ratusan miliar itu. Arkan berdiri di depan podium kaca, lampu ruangan meredup, dan sorot proyektor menerangi wajahnya yang tampak tanpa celah.
Presentasi berjalan tajam selama empat puluh menit pertama. Arkan membedah margin keuntungan, proyeksi arus kas, dan risiko regulasi dengan presisi matematis. Namun, saat salah satu komisaris senior mulai mendebat klausa likuidasi dengan nada mencemooh, denyut nadi Arkan melonjak tajam. Udara di ruangan berpendingin itu mendadak terasa tipis dan panas. Pandangannya mengabur sesaat, dengung tajam menyengat telinganya, dan rasa dingin yang familiar mulai merayap dari pangkal lehernya. Serangan panik itu datang tanpa peringatan, membakar paru-parunya.
Secara refleks, Arkan menarik napas dalam, memusatkan fokus pikirannya pada tekanan bantalan tebal di balik celana panjangnya, mencari rasa aman yang biasanya selalu berhasil menenangkannya. Namun kali ini, kepalanya berputar terlalu cepat.
Ketika ia melangkah mundur untuk mengambil cangkir air di meja samping podium, tumit sepatunya tersangkut pada kabel sambungan proyektor yang tersembunyi di balik karpet tipis.
Suara robekan kain yang keras terdengar bersamaan dengan jatuhnya tubuh tegap itu ke lantai samping panggung. Meja sudut kaca terdorong, vas keramik kecil di atasnya pecah, dan airnya tumpah membasahi karpet serta bagian bawah jas Arkan. Namun hal terburuk bukanlah rasa sakit pada lutut atau dengung keterkejutan para peserta rapat. Jahitan celana bahan mahalnya terkoyak lebar di sepanjang garis pinggul samping hingga paha akibat tersangkut ujung tajam rangka meja, memperlihatkan tepi tebal berwarna putih dengan perekat plastik berpola medis yang menyembul kontras di balik robekan kain wol hitam.
