Bab I - Sangkar Emas di Tanah Matahari

22 23 14
                                        


Senja perlahan menumpahkan warna keemasan di atas Kerajaan Solaria. Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyusup melalui jendela-jendela tinggi Istana Sterling, membias di atas lantai marmer putih hingga seluruh aula kerajaan tampak seolah-olah diselimuti cahaya dari negeri para dewa.

Di sepanjang dinding, panji-panji Solaria bergantung dengan lambang matahari keemasan yang dikelilingi lingkaran cahaya. Para bangsawan berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, berbicara dengan suara tertahan, sementara para pelayan berlalu-lalang membawa nampan perak berisi anggur, buah-buahan, dan hidangan jamuan.

Namun, di tengah kemewahan tersebut, perhatian hampir seluruh ruangan tertuju kepada dua sosok yang berdiri berhadapan.

Putri **Eliana Rosalind Sterling**, pewaris Kerajaan Solaria, berdiri dengan punggung tegak dan dagu sedikit terangkat. Gaun panjang berwarna gading membingkai tubuhnya dengan anggun, sementara rambutnya yang tertata rapi dihiasi mahkota kecil bertatahkan batu permata.

Di hadapannya berdiri seorang lelaki yang tampak seolah-olah dilahirkan bukan untuk tinggal di dalam istana.

**Pangeran Rowan Alistair Eadric dari Oakhaven.**

Rambut hitamnya sedikit berantakan, beberapa helai jatuh di dahinya. Ia bahkan tidak mengenakan pakaian resmi sebagaimana seharusnya seorang pangeran yang baru saja tiba di kerajaan calon istrinya. Mantel hitamnya terbuka, memperlihatkan kemeja putih yang tidak sepenuhnya terkancing.

Dan yang paling menjengkelkan bagi Eliana adalah senyum tipis di sudut bibirnya.

Senyum seseorang yang tampaknya tidak merasa bersalah sedikit pun.

Eliana menarik napas perlahan.

Ia sudah berusaha bersabar sejak lelaki itu tiba.

Sayangnya, kesabarannya kini mulai mencapai batas.

Ia melangkah mendekat, kemudian berhenti hanya beberapa langkah di hadapan Rowan.

Tatapannya tenang.

Terlalu tenang.

Justru ketenangan itulah yang membuat beberapa bangsawan di sekitar mereka buru-buru menundukkan kepala, seolah-olah sudah mengetahui badai kecil akan segera lahir di antara keduanya.

Eliana akhirnya membuka suara.

> **Eliana:** "Apakah kelancangan memang dianggap sebagai salah satu bentuk kebudayaan di Oakhaven, Pangeran Rowan, atau barangkali Anda hanya sengaja menguji seberapa jauh kesabaran seorang putri yang sejak kecil dididik untuk menjaga kehormatan kerajaannya di hadapan para tamu?"

Rowan mengangkat alis.

Bukannya tersinggung, ia justru tampak geli.

Ia menatap Eliana beberapa saat, seakan sedang mencoba memahami perempuan yang berdiri di hadapannya itu. Ada sesuatu dalam sorot mata Eliana yang berbeda dari para bangsawan perempuan yang selama ini ditemuinya.

Tidak ada ketakutan.

Tidak ada kegugupan.

Hanya ketenangan yang tajam.

Rowan kemudian tertawa pelan.

> **Rowan:** "Jika aku harus menjawab dengan jujur, Putri Eliana, aku tidak yakin apakah kelancangan adalah budaya di Oakhaven, sebab kami biasanya menyebutnya sebagai keberanian untuk mengatakan apa yang orang lain terlalu pengecut untuk ucapkan; tetapi melihat caramu memandangku sekarang, aku mulai berpikir bahwa mungkin keberanian semacam itu memang sebuah kejahatan besar di tanah Solaria yang begitu mencintai aturan."

Beberapa bangsawan yang mendengar perkataan itu langsung saling berpandangan.

Eliana tidak bergeming.

Ikatan Dua MahkotaStories to obsess over. Discover now