15 Desember 1894
Seokdae-deul, Jangheung, Jeollanam-do
Kerajaan Joseon
Suara tembakan memecah udara pagi.
DOR!
Burung-burung beterbangan dari pepohonan. Asap hitam menggantung rendah di antara perbukitan, sementara tanah bergetar di bawah hentakan kaki para prajurit.
"MAJU!"
"PERTAHANKAN BARISAN!"
"JANGAN BIARKAN MEREKA MENEMBUS!"
Teriakan saling bersahutan.
Tembakan kembali terdengar.
DOR! DOR! DOR!
Seokdae-deul telah berubah menjadi lautan kekacauan.
Tanah dipenuhi jejak kaki. Asap mesiu bercampur dengan debu. Beberapa orang berlari membawa rekan mereka yang terluka, sementara yang lain tetap berada di garis depan meski pakaian mereka telah dipenuhi darah.
Di antara barisan itu, seorang pemuda berlari sambil menggenggam senjatanya.
Lee Tae-jun.
Usianya dua puluh tiga tahun.
Sejak beberapa tahun terakhir, kehidupan Tae-jun tidak lagi jauh dari perang. Ia telah terbiasa dengan suara senjata, teriakan komandan, luka, dan wajah-wajah orang yang tidak pernah kembali.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa ia biasakan.
Kehilangan Kim Soo-ah.
Dua puluh dua tahun.
Sama-sama prajurit.
Sama-sama telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang seharusnya dialami seseorang seusia mereka.
Soo-ah dikenal keras kepala, berani, dan terlalu sering menempatkan dirinya di depan orang lain.
Bagi prajurit lain, dia adalah rekan seperjuangan.
Bagi Tae-jun, dia adalah seseorang yang jauh lebih penting.
Perempuan yang telah ia cintai sejak sebelum perang membuat kehidupan mereka berubah.
Perempuan yang kini memakai cincin pertunangan yang menjadi pasangan dari cincin di jarinya.
Mereka belum menikah.
Mereka belum memiliki rumah.
Mereka bahkan belum sempat menentukan tanggal pernikahan.
Mereka hanya memiliki sebuah janji sederhana.
Setelah perang selesai, mereka akan pulang dan menikah.
Tae-jun menyentuh cincin di jarinya sekilas.
Kemudian kembali menatap medan perang.
"Soo-ah..."
Ia harus menemukannya.
Sebelum terlambat.
Sebuah suara terdengar dari belakang.
"Tae-jun!"
Ia berbalik.
Seorang prajurit berlari menghampirinya.
"Barisan sebelah kiri membutuhkan bantuan!"
Tae-jun mengangguk.
"Aku ke sana."
Ia berlari.
Tidak lama kemudian, suara tembakan terdengar dari sisi kiri.
DOR!
Tae-jun menunduk.
Peluru melintas di atas kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
When I Returned to You
Romance⚠️dilarang plagiat ⚠️murni dari pikiran sendiri Pada abad ke-19, sebuah perang besar mengubah segalanya. Ribuan nyawa melayang di medan perang, meninggalkan kota-kota yang hancur dan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Di antara begitu ba...
