HIKAYAT SANG DASAMUKA
Cast : Raja Ragendra Wisesa (Jeno), Putera Harsajana (Haechan), Putera Mahawira (Mark)
Genre : AU, Alternate Universe, Historical fiction, BL, Fiksi
Setting : Kerajaan
⛔ DISCLAIMER ⛔
Kisah ini merupakan karya fiksi dan adaptasi alternatif yang terinspirasi dari epos Ramayana. Alur, karakter, hubungan antartokoh, serta akhir cerita telah diubah sepenuhnya untuk kepentingan fiksi.
Cerita ini bukan representasi dari kisah Ramayana asli maupun tafsir keagamaan tertentu. Beberapa nama, latar, dan peristiwa sengaja diubah dan dikembangkan dengan kebebasan kreatif penulis.
Mohon membaca dengan pikiran terbuka dan memahami bahwa kisah ini adalah interpretasi fiksi.
NOHYUCK STORY
BAB 1
Syahdan, sebermula maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat besar dan makmur, Negeri Mantili namanya. Adapun raja di dalam negeri itu tengah mengadakan sebuah sayembara yang amat gilang-gemilang. Barang siapa diantara segala raja-raja dan anak raja yang dapat menarik busur pusaka dewata, maka dialah yang akan disandingkan dengan putera kesayangan baginda, Putera Harsajana namanya.
Hatta, di antara beribu-ribu tenda pesanggrahan yang berdiri di padang itu, berdirilah seorang lelaki bertubuh tegap dengan selubung kain hitam menutupi kepalanya. Parasnya elok, namun rahangnya mengeras laksana baja. Dialah Raja Ragendra Wisesa, penguasa Negeri Langkapuri yang masyhur akan keberingasannya, datang menyamar sekadar hendak melihat keramaian.
"Ampun, Tuanku. Patik memohon agar Tuanku jangan terlalu lama berdiam di tempat terbuka ini. Jikalau ada yang mengenali wajah Tuanku, niscaya akan gemparlah seluruh padang ini," sembah Patih Maruta, orang kepercayaan Sang Raja, seraya menundukkan wajahnya.
Ragendra mendengus pelan, seulas senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Apakah yang engkau takutkan, hai Maruta? Adakah di antara manusia-manusia fana di padang ini yang sanggup menandingi kesaktianku? Aku hanya hendak melihat, seindah apakah Putera Harsajana itu hingga membuat pangeran-pangeran bodoh ini rela meninggalkan kerajaannya."
"Ampun, Tuanku. Kabar yang berhembus mengatakan bahwa Putera Harsajana itu parasnya bagaikan bulan purnama di hari keempat belas, suci dan tiada bandingannya di atas muka bumi ini," balas Maruta perlahan.
"Cih, hanya omong kosong belaka," gumam Ragendra.
.
.
.
Kelakian, tatkala matahari sepenggalah naiknya, berbunyilah nafiri dan canang bertalu-talu. Maka keluarlah seorang pemuda dari balik tirai sutra peraduan, diiringi oleh inang pengasuh dan hulubalang. Pemuda itu mengenakan pakaian kebesaran dari sutra keemasan, dengan rambut kelam yang jatuh membingkai wajahnya.
Seketika itu juga, alam seakan berhenti berputar bagi Ragendra. Angin berhenti berhembus, dan riuh rendah suara manusia di padang itu senyap di telinganya. Mata elang sang raja terpaku pada sosok Harsajana. Paras itu sungguh elok, namun bukan sekadar elok yang membuat dada Ragendra bergemuruh. Ada sorot mata yang redup namun menyimpan keteguhan pada netra kecokelatan sang putera.
"Maruta," panggil Ragendra, suaranya kini tertahan di kerongkongan.
"Hamba, Tuanku," jawab sang patih, kebingungan melihat junjungannya yang tiba-tiba mematung.
"Apakah mataku telah dibutakan oleh sihir? Ataukah dewa-dewa di kayangan telah menjatuhkan separuh dari jiwa mereka ke dunia ini? Lihatlah dia, Maruta. Lihatlah pandangan matanya."
"Benarlah seperti yang patik katakan, Tuanku. Putera Harsajana amatlah rupawan."
Ragendra mencengkeram gagang kerisnya erat-erat, bukan karena amarah, melainkan karena getaran aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Selama ini hatinya membeku di atas singgasana Langkapuri, namun dalam sekejap mata, bongkahan es itu luruh.
Maka bersabdalah pembawa acara sayembara, mengundang satu per satu pangeran untuk maju ke tengah gelanggang. Berpuluh-puluh anak raja mencoba mengangkat busur pusaka yang teramat besar itu, namun jangankan menarik tali busurnya, mengangkatnya dari tanah pun tiada yang kuasa.
Ragendra yang melihat itu berniat melepaskan selubungnya. Ia hendak melangkah maju, hendak merengkuh busur itu dan membawa Harsajana pulang ke negerinya malam ini juga.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, majulah seorang pemuda berwajah teduh dan berpakaian putih bersih.
"Siapakah gerangan pemuda kaku itu?" tanya Ragendra, rahangnya mengetat melihat pemuda itu melangkah dengan penuh percaya diri.
"Ampun, Tuanku. Itulah Putera Mahawira dari Negeri Ayodya. Kabarnya, ia adalah pangeran yang paling lurus hatinya, yang hidupnya hanya diabdikan pada darma dan aturan dewa," jelas Maruta.
Ragendra menatap tajam tatkala Mahawira mengangkat busur itu dengan mudahnya. Suara kayu busur yang ditarik hingga patah bergema di seluruh penjuru.
Sorak-sorai meledak.
Mahawira telah memenangkan sayembara.
Pandangan Ragendra beralih pada Harsajana. Sang Putera jelita itu menundukkan wajahnya, menerima takdirnya untuk disandingkan dengan pemenang, tanpa senyum, tanpa bantahan. Hati Ragendra mendidih melihatnya.
"Ia tidak menatap Harsajana sebagai seorang manusia, Maruta," desis Ragendra, matanya menyala-nyala dipenuhi amarah yang tertahan.
"Pemuda Ayodya itu memandangnya hanya sebagai piala kemenangan. Sebagai bukti dari darmanya yang agung."
"Sudahlah takdirnya demikian, Tuanku. Sayembara telah usai," bisik Maruta cemas, mencoba menarik lengan junjungannya untuk mundur.
Ragendra tidak beranjak. Matanya tak lepas sedetik pun dari sosok Harsajana yang kini melangkah menghampiri Mahawira. Angin berhembus kencang, menyingkap sedikit selubung hitam sang Raja Langkapuri.
"Dengarkan sumpahku ini, Maruta," titah Ragendra dengan suara yang berat dan penuh getar kelam.
"Biarlah hari ini pemuda Ayodya itu membawa tubuhnya. Namun kelak, aku sendiri yang akan memastikan, hati dan jiwanya akan menjadi milikku. Akan kurebut dia, bukan sebagai piala, melainkan sebagai rajaku. Meski harus kubakar seluruh Ayodya dan kucabar para dewa di langit, Harsajana akan bertakhta di Langkapuri bersamaku."
Maka pada hari itu, di tengah sorak-sorai perayaan cinta yang palsu, bermulalah sebuah obsesi dan sumpah setia dari seorang Raja yang kelak akan mengubah takdir ketiga anak manusia tersebut.
TBC
Cerita ini sebenarnya sudah aku buat sebelum Belenggu Sawarga. Selama ini, cerita ini selalu aku simpan rapi di dalam draf. Ada banyak hal yang membuatku takut untuk mengeluarkannya, tetapi hari ini akhirnya aku memberanikan diri.
Cerita ini tidak untuk dijadikan pembenaran ataupun pemahaman tertentu. Jika ada bagian yang dirasa kurang berkenan, silakan sampaikan melalui kolom komentar. Aku akan mempertimbangkannya dan, jika diperlukan, menghapus cerita ini selamanya.
Terima kasih sudah membaca dan menghargai ceritaku. 🤍
