We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Chapter 1

44 16 0
                                        

Cale Henituse mengira ia akhirnya telah mencapai puncak dari segala impian hidupnya: berengkarnasi menjadi warga biasa di dunia baru yang tenang. Tanpa ada Ancient Power, tanpa ada Dewa Kematian, tanpa ada naga, dan tanpa ada perang antar benua yang merepotkan.

Di kota bernama Gotham ini, ia hanyalah seorang pria muda berambut merah dengan warisan yang cukup untuk membuatnya bersantai di atas tempat tidur empuk hingga usia tua atau setidaknya, itulah rencana awal Cale sebelum malam yang kacau itu terjadi.

Cale mengerjap pelan merasakan pening yang menghantam kepalanya bagaikan dentuman meriam. Sensasi hangat dan berat menindih pinggangnya, sementara rasa pegal yang luar biasa menjalar di seluruh persendian tubuhnya yang lemah. Ketika matanya berhasil menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang pagi, Cale menyadari langit-langit di atasnya bukanlah apartemen mewahnya yang sederhana, melainkan kanopi sutra dari tempat tidur ukuran king-size di sebuah penthouse yang terlewat megah.

Ia menoleh secara perlahan dan napasnya tertahan sejenak. ​Di sampingnya terbaring seorang pria bertubuh kekar dengan rambut hitam berantakan dan rahang tegas. Pria itu tertidur lelap menampilkan tubuh bagian atas yang dipenuhi otot padat serta garis-garis bekas luka yang tampak berbahaya. Cale tidak perlu berpikir dua kali untuk mengenali wajah tersebut. Wajah itu terpampang di setiap papan reklame raksasa Kota Gotham: Bruce Wayne. Miliarder playboy, pemilik Wayne Enterprises dan tampaknya... pria yang baru saja menghabiskan malam yang sangat intens dengannya.

Bagaimana bisa jadi begini? Cale memijat pelipisnya yang berdenyut, mencoba menggali ingatan dari sisa-sisa alkohol semalam. Ia ingat semalam hanya ingin menikmati segelas anggur mahal di bar eksklusif hotel berbintang lima untuk merayakan hidup barunya yang santai. Bruce Wayne tiba-tiba duduk di sebelahnya, berniat menghindari kejaran wartawan dan wanita-wanita kelas atas. Percakapan singkat yang diawali dengan sindiran sinis dari Cale karena terganggu oleh kehadiran sang miliarder justru memicu ketertarikan Bruce. Dari satu gelas anggur berkualitas, berlanjut ke wiski dengan kadar alkohol tinggi, hingga akhirnya ketegangan aneh di antara mereka meledak di dalam kamar penthouse ini.

Ingatan akan sentuhan hangat, deru napas di celah lehernya dan gerakan-gerakan intens semalam membuat wajah Cale memanas sejenak sebelum berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kelelahan.

​"Haaah..." Cale menghela napas panjang meratap dalam hati ini adalah bencana besar. Terlibat dengan figur publik seperti Bruce Wayne adalah hal terakhir yang ia butuhkan jika ingin hidup tenang sebagai warga biasa. Gotham adalah kota yang penuh dengan penjahat gila dan berada di sekitar miliarder seperti ini hanya akan menarik masalah ke arahnya.

Dengan sangat hati-hati Cale menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Setiap kali ia bergerak, tubuhnya yang tak memiliki ketahanan fisik luar biasa itu menjerit kesakitan. Cale menatap pria yang masih tertidur itu dengan tatapan jengkel. Daya tahan tubuh orang ini benar-benar tidak masuk akal.

Cale memungut pakaiannya yang berserakan di atas karpet tebal mengenakannya sesenyap mungkin, lalu merapikan rambut merahnya yang sedikit berantakan. Sebelum melangkah menuju pintu keluar, ia menatap bekas-bekas luka di punggung Bruce Wayne bekas luka yang terlalu presisi untuk sekadar kecelakaan olahraga ekstrem seperti yang sering diberitakan media. Namun Cale memilih untuk tidak peduli rasa ingin tahunya sudah mati bersama keinginannya untuk hidup tenang.

Tanpa meninggalkan catatan, pesan, atau nomor telepon Cale melangkah keluar dari penthouse megah tersebut dan menyusup ke dalam kabut pagi Kota Gotham. Ia bertekad melupakan malam panas itu dan berpura-pura semuanya tidak pernah terjadi.

Sayangnya bagi Cale ia tidak tahu bahwa Bruce Wayne bukanlah tipe pria yang bisa dilupakan begitu saja dan pasti akan mencari siapa pria berambut merah misterius yang berani meninggalkannya begitu saja di pagi hari.

***

POV Bruce

Bruce terbangun saat sinar matahari pagi menembus celah gorden penthouse-nya. Kelopak matanya terangkat perlahan dan refleks terlatihnya sebagai pelindung Gotham langsung bekerja dalam hitungan detik. Sensasi pertama yang merayapi kesadarannya adalah kehampaan di sisi tempat tidur serta sisa aroma anggur merah dan wewangian lembut yang asing.

Ia menoleh ke samping tempat tidur itu sudah kosong, meski sprei yang kusut dan kehangatan yang tersisa menjadi bukti nyata bahwa kejadian semalam bukanlah sekadar ilusi atau efek alkohol. Bruce duduk perlahan mengusap wajahnya yang kasar otot-otot tubuhnya masih merasakan sisa ketegangan dari malam yang tak terduga. Semalam ia berniat melarikan diri sejenak dari panggung sandiwara sebagai miliarder hedonis dan tekanan sebagai Batman. Namun di bar VIP itu ia bertemu dengan seorang pria berambut merah menyala yang menatapnya bukan dengan tatapan pemujaan atau ketakutan melainkan dengan tatapan penuh kebosanan dan sedikit kejengkelan.

Pria itu Cale berbicara dengannya tanpa kepura-puraan, tidak ada niat tersembunyi untuk mendekati kekayaannya dan tidak ada usaha untuk terkesan. Ketidakpedulian yang jujur itu justru menarik Bruce masuk lebih dalam hingga berujung pada malam penuh hasrat yang terlepas dari kendali dinginnya.

Bruce mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar pakaian pria itu sudah tidak ada. Tidak ada catatan di meja samping tempat tidur, tidak ada nomor telepon yang ditinggalkan, dan tidak ada jejak eksplisit selain keheningan. Pria itu benar-benar pergi begitu saja menyelinap keluar seperti seorang profesional atau seseorang yang sangat gigih ingin menghindari keterlibatan lebih jauh dengannya.

Bibir Bruce tertarik membentuk senyum tipis yang jarang terlihat campuran antara geli dan ketertarikan yang membakar. Di kota seperti Gotham hampir semua orang menginginkan sesuatu dari Bruce Wayne, tapi pria ini justru melarikan diri. Ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur dan menekan satu tombol cepat.

"Alfred," panggil Bruce dengan suara berat khas bangun tidur.

"Selamat pagi, Tuan Bruce," sahut suara tenang dan berwibawa dari seberang telepon. "Saya mengasumsikan Anda membutuhkan sarapan ekstra protein pagi ini atau mungkin... rekaman CCTV dari lobi hotel?"

"Periksa CCTV lobi dalam dua jam terakhir," kata Bruce bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela besar yang menampilkan lanskap Gotham yang berkabut. "Cari pria berambut merah, tinggi sedang, berpakaian rapi tapi tampak sangat kelelahan saat keluar."

"Apakah saya perlu menyiapkan berkas latar belakang lengkapnya seperti biasa, Tuan?" tanya Alfred dengan nada datar yang menyimpan kepintaran khasnya.

"Ya. Saya ingin tahu siapa dia, di mana dia tinggal dan apa yang dia lakukan di Gotham," jawab Bruce tegas.

Bruce mematikan sambungan telepon dan menatap keluar jendela. Bekas luka di tubuhnya yang semalam sempat ditatap oleh mata jeli pria itu terasa sedikit hangat. Gotham mungkin kota yang gelap dan penuh kekacauan, tetapi pagi ini Bruce Wayne menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik untuk diselidiki daripada sekadar kriminal jalanan. ​Pria berambut merah itu mengira ia bisa menghilang begitu saja di balik kabut Gotham. Tapi ia lupa Bruce Wayne adalah penguasa bayangan di kota ini.

Tbc..

Maaf ya guys aku bikin cerita lagi padahal ceritaku belum ada yang tamat 🙏.

Possessive Bruce WayneStories to obsess over. Discover now