1. hujan,

188 49 8
                                        

Hujan turun terlalu deras malam ini, mengetuk kaca jendela lantai lima belas seolah meminta izin untuk masuk.

Renjun memijat pelipisnya yang berdenyut. Ruang kantor sudah kosong sejak dua jam yang lalu. Hanya bunyi dengung pendingin ruangan dan ketukan keyboard-nya yang mengisi keheningan. Ia membenci lembur, tetapi ia lebih membenci perasaan bersalah jika meninggalkan pekerjaannya setengah jalan.

Ia melirik jam di sudut layar komputernya.

Pukul 23:15.

Waktunya pulang.

Renjun merapikan mejanya, memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas, dan mematikan lampu ruang kerjanya.

Koridor kantor yang panjang dan remang-remang selalu memberinya sedikit perasaan tidak nyaman jika malam sudah larut. Sunyi yang terlalu pekat. Namun, langkah kakinya yang bergema di atas karpet tebal tiba-tiba terhenti ketika ia melihat sosok yang berdiri di dekat deretan lift.

Sosok itu bersandar santai pada dinding marmer dingin. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk sempurna, kontras dengan wajahnya yang tenang dan tanpa ekspresi. Matanya terpejam, tetapi begitu Renjun mengambil satu langkah lagi, mata itu terbuka.

Jeno.

"Sudah selesai?" Suara Jeno berat, tenang, dan entah bagaimana selalu berhasil menyapu bersih rasa cemas di dada Renjun.

Renjun menghela napas panjang, senyum kecil tanpa sadar terukir di bibirnya. "Kamu sudah menunggu lama? Kenapa tidak bilang kalau mau jemput? Aku bisa turun lebih cepat."

"Baru sepuluh menit," jawab Jeno santai. Ia melangkah mendekat, lalu tanpa meminta izin, mengambil alih tas kerja dari tangan Renjun. Gerakannya begitu natural, seolah tas itu memang miliknya.

"Lagi pula, kalau aku menelepon, Kakak pasti akan panik dan malah membuat kesalahan di laporan akhir. Aku tahu Kakak tidak suka diganggu kalau sedang fokus."

Renjun terkekeh pelan. Ia tidak bisa membantah. Jeno selalu tahu kebiasaannya.

"Terima kasih," gumam Renjun, membiarkan rasa lelahnya sedikit memudar. Ia menekan tombol lift untuk turun ke area parkir.

Ting.

Pintu lift terbuka. Mereka melangkah masuk ke dalam ruang logam yang sempit itu. Cahaya lampu lift menyorot wajah Jeno dari atas, mempertegas garis rahangnya yang tajam. Renjun bersandar di dinding lift, diam-diam memperhatikan pria yang lebih muda darinya itu. Jeno selalu terlihat begitu terstruktur, terkendali. Tidak ada satu pun hal tentang Jeno yang terlihat impulsif.

"Kamu tidak kedinginan?" tanya Renjun tiba-tiba, menyadari sesuatu.

Jeno menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Tidak. Kenapa?"

"Di luar hujan deras sekali sejak jam sembilan tadi," kata Renjun. Ia melirik bahu kemeja Jeno. "Tapi bajumu benar-benar kering."

Jeno terdiam selama satu detik. Hanya satu detik, sebelum senyum tipis yang sangat lembut muncul di wajahnya.

Tangan besarnya terulur, merapikan poni Renjun yang sedikit berantakan karena kelelahan.

"Aku memakai payung dari parkiran, Kak," jawab Jeno tenang, suaranya mengalun seperti melodi yang menenangkan. "Dan aku membawakan makanan. Aku tahu Kakak belum makan malam karena sibuk mengurusi revisi dari Pak Johan."

Mata Renjun sedikit melebar.

"Tunggu, dari mana kamu tahu revisiku dari Pak Johan?"

Jeno menatap mata Renjun. Tatapannya dalam, seolah mengunci seluruh atensi pria yang lebih tua itu. Ibu jari Jeno mengusap pelan pipi Renjun, sentuhan yang begitu hangat dan penuh afeksi.

"Kakak sendiri yang mengeluhkannya di telepon siang tadi. Lupa?" Jeno tertawa pelan. "Kakak kalau sudah stres memang suka melupakan banyak hal."

Renjun mengerjap.

Benarkah ia mengeluhkannya di telepon?

Ia mencoba mengingat-ingat. Kepalanya terlalu penuh dengan data dan angka sepanjang hari. Mungkin saja ia memang mengatakannya.

Lagipula, ini Jeno. Jeno tidak mungkin berbohong tentang hal sepele seperti itu.

Kalau Jeno bilang begitu, berarti memang begitu.

"Maaf," Renjun tersenyum canggung, rasa bersalah menyusup kecil di hatinya karena sudah lupa. "Terima kasih sudah mengingatkan, dan terima kasih sudah menjemput."

"Tidak perlu minta maaf untuk hal-hal kecil," bisik Jeno.

Pintu lift terbuka di lantai basement. Udara dingin langsung menyapa kulit, dan Renjun merasa sepenuhnya aman berjalan di samping Jeno menuju mobil.

Ia tidak menyadari bahwa di ujung koridor lantai lima belas yang baru saja mereka tinggalkan, kamera CCTV mengarah tepat ke meja kerjanya, kamera yang akses rekamannya telah dipantau secara langsung (dan real-time) sejak pukul tujuh malam dari sebuah ponsel pintar di saku celana Jeno.

Jeno tidak pernah menunggu hanya sepuluh menit.

Namun untuk malam ini, membiarkan Renjun menyandarkan kepala di bahunya selama perjalanan pulang adalah satu-satunya hal yang penting baginya.

We Were Never Normal - NORENStories to obsess over. Discover now