"Gue nggak mau turun! Lo semua pada tuli ya?!"
Suara teriakan melengking itu menggema di dalam mobil SUV hitam yang baru saja terparkir di depan gerbang besi tinggi berukuran raksasa. Di atas gerbang tersebut, sebuah plang besar bertuliskan 'Pondok Pesantren Modern Al-Hikmah' seolah menatap tajam ke arah mobil, menyambut siapa saja dengan kesan yang kaku dan mengintimidasi.
Di dalam mobil, seorang gadis berambut highlight pirang-kecoklatan dengan jaket ripped jeans dan makeup tebal tengah meronta-ronta. Namanya Keisha Zefanya. Gadis berusia tujuh belas tahun yang hari ini resmi mengalami hari terburuk dalam hidupnya.
"Keisha, jangan bikin malu Papa!" hardik Hendra-ayah Keisha-dengan suara tegas, melepas sabuk pengamannya. "Ini semua gara-gara ulah kamu! Tertangkap basah balap liar di tengah malam, bikin onar di kafe, dan hampir masuk kantor polisi. Mau jadi apa kamu kalau dibiarin terus?!"
"Ya tinggal biarin aja! Kenapa harus dibuang ke kandang kambing kayak gini sih, Pa?!" Keisha menunjuk-nunjuk gerbang pesantren dengan wajah kesal, matanya sudah berkaca-kaca menahan marah.
Di sebelah ayahnya, sang mama, Ratih, mengusap air matanya sambil menatap putrinya penuhiba. "Keisha sayang... ini demi kebaikan kamu. Mama sama Papa udah angkat tangan. Di sini kamu dibimbing biar jadi anak shalihah. Cuma pesantren ini satu-satunya cara buat nyelametin masa depan kamu."
"Nyelametin masa depan atau nyiksa mental?!" protes Keisha sengit. Dia melipat tangan di dada, membuang muka ke jendela mobil.
Namun, protesan keras itu sama sekali tidak digubris. Pintu mobil di sisi Keisha terbuka dari luar. Seorang wanita paruh baya berhijab rapi-yang belakangan diketahui sebagai pengurus asrama-tersenyum ramah menyambut mereka.
Mau tidak mau, dengan langkah berat, hentakan kaki yang sengaja dikeraskan, serta koper besar bermerk miliknya yang diseret kasar, Keisha akhirnya menginjakkan kaki di tanah pesantren.
Bruk!
Keisha sengaja menjatuhkan kopernya dengan keras di paving blok halaman pondok, menarik perhatian beberapa santriwati yang sedang lalu-lalang mengenakan gamis hitam dan jilbab panjang. Bisik-bisik langsung terdengar di antara mereka.
"Wah, anak baru tuh. Gayanya kayak preteli motor." "Astagfirullah, rambutnya dicat terang banget..." "Anak siapa sih? Kayaknya sultan banget bawa koper segede gaban."
Keisha mendengus sinis, menatap tajam para santri yang berbisik hingga mereka buru-buru menunduk. IH, NYEBELIN BANGET! Baru juga semenit, gue udah pengen kabur, batinnya merutuk.
Setelah proses administrasi yang singkat dan penuh perdebatan alot antara ayahnya dan pengurus pondok, kedua orang tua Keisha akhirnya berpamitan.
"Ingat pesen Papa, jangan bikin ulah. Handphone dan dompet elektronik kamu ditahan pihak pondok selama tiga bulan pertama!" ucap papanya sebelum masuk kembali ke dalam mobil.
"Pa! Jangan tinggalin aku di sini, Pa! Pa-!"
Vroom...
Mobil SUV itu melaju meninggalkan halaman pesantren, membawa serta satu-satunya jalur penghubung Keisha dengan dunia luar. Keisha berdiri mematung di bawah terik matahari, menatap gerbang yang kini sudah ditutup rapat.
Di sekitarnya, suara santri melantunkan ayat suci Al-Qur'an dari kejauhan bercampur dengan suara angin pesantren yang sejuk. Tapi bagi Keisha, tempat ini sama sekali tidak menenangkan. Tempat ini adalah neraka.
Tiba-tiba, sebuah deheman tegas terdengar dari belakangnya.
"Ehem."
Keisha menoleh dengan malas. Di hadapannya kini berdiri seorang pria muda berpeci hitam, mengenakan baju koko putih bersih dan sarung batik rapi yang disampirkan elegan. Pria itu menatapnya tenang, sorot matanya tajam namun memancarkan wibawa yang membuat nyali Keisha mendadak menciut setengah detik.
"Selamat datang di Pondok Pesantren Al-Hikmah, saudari Keisha Zefanya," ucap pria itu dengan suara bariton yang adem namun bernada instruktif. "Atribut pakaian mencolok dan rambut berwarna seperti itu melanggar aturan mutlak pondok. Silakan ikuti saya ke kantor pengasuh sekarang."
Keisha terpaku. Belum sempat dia membalas ucapan sok mengatur itu, pria di depannya sudah berbalik jalan lebih dulu.
Sialan, batin Keisha mendengus. Baru juga masuk, udah ketemu cowok sok kegantengan yang bakal jadi musuh utama gue.
JE LEEST
GARIS TANGAN SANG USTADZ
Romantiek"Hidupku dulu diatur oleh deru knalpot racing dan malam-malam liar tanpa arah. Tapi semesta punya cara lain untuk menjinakkan pemberontak sepertiku dengan membuangku ke tempat paling asing: Pondok Pesantren Al-Hikmah." Bagi Keisha Zefanya, mengenaka...
