Postingan Instagram Zee Pruk + lagu 'My Stubborn Heart' - Kanegi = mood nulis balik lagi
Jarum jam dinding di apartemen nomor 201 sudah menunjuk ke angka dua pagi. Detik demi detiknya terdengar begitu nyaring, bersaing dengan suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela.
NuNew masih duduk tegak di sofa. Matanya menatap kosong ke arah layar televisi yang sudah menampilkan rolling credits dari film ketiga yang ia tonton malam ini hanya untuk membunuh sepi.
Di atas meja makan yang terletak tidak jauh dari sofa, sepiring nasi goreng kepiting, makanan kesukaan Zee, sudah mendingin.
Uap hangatnya telah lama hilang, menyisakan gumpalan minyak yang mulai mengeras di pinggiran piring.
NuNew tahu dia bodoh. Sangat bodoh. Seharusnya dia sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu. Besok pagi pukul tujuh, dia memiliki jadwal pemotretan penting yang membutuhkan stamina penuh.
Namun, sebuah pesan singkat dari Zee yang masuk ke ponselnya pada pukul sembilan malam tadi menahannya untuk tetap terjaga.
Hia Zee: "Nu, hari ini Hia capek banget. Banyak masalah. Boleh mampir tempatmu sebentar nanti? Hia butuh cerita."
Hanya karena satu kalimat itu, NuNew rela menelepon ibunya untuk membatalkan janji makan malam keluarga yang sudah direncanakan sejak minggu lalu. Hanya karena sebaris pesan itu, NuNew berdiri di depan kompor selama satu jam, memastikan bumbu nasi gorengnya pas, demi menyambut pria yang ia cintai dalam diam.
Namun, hingga dini hari, bel pintu apartemennya tidak kunjung berbunyi. Tidak ada ketukan. Tidak ada pesan susulan yang memberi tahu apakah pria itu jadi datang atau tidak. NuNew menghela napas panjang, dadanya terasa sesak.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena hawa dingin AC, ia meraih ponselnya di atas meja. Jari-jarinya dengan hafal membuka aplikasi Instagram, lalu mengetikkan nama akun seorang model wanita di kolom pencarian. Wanita itu adalah sosialita sekaligus model yang satu tahun terakhir ini dikejar oleh Zee mati-matian.
NuNew menahan napas saat membuka Instastory terbaru milik wanita itu yang diunggah tiga jam lalu. Di sana, terpajang foto segelas anggur dengan latar belakang bioskop VIP yang mewah. Wanita itu menulis caption singkat: "Thank you for tonight." NuNew tidak perlu menebak siapa yang menemaninya.
Di sudut foto yang sedikit remang, samar-samar terlihat sebuah jam tangan perak dengan desain maskulin yang sangat NuNew kenali. Jam tangan berharga fantastis yang baru dibeli Zee bulan lalu.
Zee mengabaikan janjinya karena wanita itu tiba-tiba memberikan celah. Zee melupakan NuNew yang terjaga menunggunya, karena "tujuan utamanya" mendadak memberi lampu hijau setelah berminggu-minggu bersikap dingin.
NuNew tersenyum getir. Setitik air mata lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi layar ponsel.
"Aku ini apa buat Hia?" bisiknya pada sunyinya ruangan. Pertanyaan yang tidak pernah berani ia suarakan di depan orangnya langsung.
Bagi Zee, NuNew adalah pelarian yang paling aman. Pola ini sudah berulang selama hampir dua tahun, dan NuNew selalu menjadi "rencana cadangan" terbaik yang pernah Zee miliki.
Zee hanya akan mengingat jalan menuju apartemen nomor 201 jika duniaya di luar sana sedang hancur.
Jika wanita incarannya menolak teleponnya, Zee akan berlari ke hadapan NuNew untuk mencari validasi bahwa dirinya masih berharga. Jika Zee bertengkar dengan wanita itu, NuNew adalah orang pertama yang akan menampung air matanya.
NuNew tahu posisinya hanyalah sebuah persinggahan yang nyaman. Tempat di mana Zee membuang semua lelah dan ego yang terluka, sebelum keesokan harinya ia kembali bersih, kembali memakai pakaian terbaiknya, dan kembali berlari mengejar wanita yang sama.
YOU ARE READING
My Stubborn Heart
RomanceCinta yang dimiliki Nunew untuk Zee terlalu kuat untuk pudar, tapi terlalu sepihak untuk bersama.
