Bab 1 - Tiga Bulan yang Terlalu Singkat

8 0 0
                                        

Kailin tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang awalnya hanya datang sebagai orang biasa, suatu hari bisa meninggalkan ruang yang begitu besar dalam ingatannya.

Awalnya, Christo bukan siapa-siapa.

Bukan seseorang yang setiap hari ia pikirkan.

Bukan seseorang yang ia tunggu pesannya.

Bukan pula seseorang yang ia bayangkan akan menjadi bagian dari cerita hidupnya.

Mereka hanya dua orang yang kebetulan saling mengenal.

Kemudian berbicara.

Kemudian semakin sering berbicara.

Kemudian menjadi dekat.

Dan tanpa Kailin sadari, hampir tiga bulan berlalu begitu saja.

Tiga bulan.

Waktu yang sebenarnya tidak terlalu lama.

Namun cukup untuk membuat seseorang terbiasa dengan kehadiran orang lain.

Cukup untuk membuat sebuah nama terasa familiar.

Cukup untuk membuat notifikasi dari satu orang tertentu terasa berbeda dari notifikasi lainnya.

Dan cukup untuk membuat kehilangan terasa jauh lebih menyakitkan ketika semuanya berakhir.

---

Pertama kali Kailin benar-benar memperhatikan Christo adalah ketika mereka sedang berada di dekat sungai.

Sungai itu tidak terlalu besar.

Airnya mengalir melewati bebatuan dan pepohonan yang tumbuh di sepanjang tepian. Pada sore hari, tempat itu biasanya terasa sepi. Hanya ada suara air, suara dedaunan yang tertiup angin, dan sesekali suara orang yang lewat dari kejauhan.

Kailin menyukai tempat itu.

Ia sering datang ke sana ketika ingin menenangkan pikirannya.

Kadang hanya duduk.

Kadang memainkan ponsel.

Kadang memandangi air tanpa melakukan apa pun.

Hari itu, Christo kebetulan berada di sana.

Ia duduk beberapa meter dari Kailin.

Tidak banyak bicara.

Hanya melempar batu-batu kecil ke sungai sambil sesekali memperhatikan air yang beriak.

Kailin awalnya tidak terlalu peduli.

Sampai sebuah batu kecil yang dilempar Christo memantul dan jatuh tidak jauh dari tempat Kailin duduk.

Kailin menoleh.

Christo langsung mengangkat tangannya.

"Sorry."

Kailin hanya mengangguk.

"Gapapa."

Setelah itu kembali hening.

Seharusnya percakapan mereka selesai sampai di sana.

Tapi beberapa menit kemudian Christo kembali bertanya.

"Kamu sering ke sini?"

Kailin menoleh.

"Kadang."

"Sendirian?"

"Iya."

Christo mengangguk.

Kemudian kembali menatap sungai.

"Senja yang Tak Lagi Sama"Stories to obsess over. Discover now