Preman Pasar dan Si Murid Teladan

32 3 0
                                        

Kelas 9 SMP adalah masa-masa di mana seorang cowok merasa dirinya adalah penguasa dunia. Dengan gaya sok badboy, celana sedikit di-skoder, dan aura urakan, aku merasa paling keren. Jarak usia dua tahun dengan anak kelas 7 sama sekali bukan masalah-bagi mereka, aku adalah senior yang harus ditakuti.

Sialnya, sistem sekolah kami dibagi dua sesi. Aku masuk pagi (pukul 07.00 sampai 12.15), sementara anak-anak kelas 7 kebagian sesi siang (pukul 13.00 sampai 17.00). Masalahnya sepele tapi bikin emosi: urusan patungan beli kipas angin buat kelas.

Anak-anak kelas 9 sudah beres urusan setoran, tapi giliran ditagih ke anak-anak kelas 7 sesi siang, ampun deh susahnya minta ampun. Kayak menagih utang ke rentenir profesional.

Karena hari itu aku piket nagih dan malas bolak-balik, aku putuskan buat nongkrong dulu di sekolah nungguin mereka masuk. Begitu gerombolan cowok kelas 7 datang, aku langsung cegat mereka di depan kelas. Satu per satu kucatat namanya yang sudah bayar, sambil sesekali melontarkan nada bicara yang sengaja dibuat sok mengintimidasi.

Di antara kerumunan itu, ada satu cewek yang dari tadi mandangin aku sinis banget. Matanya tajem, seolah mau menelan aku hidup-hidup. Namanya Novi. Dari gerak-geriknya aja keliatan banget kalau dia tipe siswi teladan yang jijik sama preman sekolah sepertiku.

"Najis banget tu orang, belagak jing. Siapa sih dia?" bisiknya-tapi cukup kencang buat kudengar.

Aku menoleh, menatapnya remeh. "Kenapa? Iri?"

"Woi, maksud lu apaan mintain duit patungan udah kayak malakin pasar?!" maki Novi, suaranya naik satu oktaf karena emosi.

"Bukan urusan lu," jawabku santai. "Anak-anak lu ditagihin udah kayak orang ngutang ke debt collector. Susah amat bayar."

Bukannya ciut, cewek itu malah kepancing darah tingginya. Tanpa diduga, sebuah buku tebal melayang lurus ke arah kepalaku! Bugh!

Aku sempat kaget, tapi gengsi cowok urakan langsung ngambil alih. Aku cuma mendengus, megang kepala yang kena timpuk, lalu cabut begitu saja bareng temanku sambil membawa uang kas yang sudah terkumpul. Sialan juga nih anak, batinku dalam hati. Kecil-kecil cabe rawit.

Lemparan Buku, Benturan Cinta [END]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora