Bab 1

240 21 0
                                        


Pagi di sudut Jalan Ratchadamnoen selalu dimulai dengan ritme yang tenang dan teratur. Sinar matahari hangat merayap pelan dari balik gedung-gedung pencakar langit Bangkok, membiaskan cahaya keemasan pada dinding kaca Jasmine & Bloom. Sebuah toko bunga beraksen kayu klasik yang berdiri anggun di antara deretan bangunan modern.

Di dalam toko, aroma segar mawar, hydrangea, dan tanah basah menyatu indah dengan feromon alami White Jasmine milik Fourth Nattawat. Sang Omega manis itu sedang berlutut di dekat ember-ember seng, memotong tangkai bunga dengan sangat berhati-hati. Ia mengenakan sweter rajut berwarna pastel yang agak kebesaran, dipadukan dengan celemek kain krem yang ternoda sedikit daun kering.

"Ya Tuhan, Fourth! Kamu ini selalu saja datang lebih awal!" suara nyaring Santa Pongsapak memecah keheningan toko. Pegawainya itu melangkah masuk sambil menepuk-nepuk celananya yang berdebu.

"Harusnya bagian memotong tangkai mawar itu tugasku."

Fourth mendongak, menyapu helai rambut blonde lembutnya yang jatuh menutupi dahi. Senyuman manis terbit di wajahnya, membuat mata bulatnya menyipit ramah. "Tidak apa-apa, Phi Santa. Aku bangun lebih awal pagi ini. Lagi pula, mawar-mawar ini harus siap sebelum pesanan hotel diambil pukul sembilan."

"Tapi tetap saja, kamu pemilik tokonya, Fourth. Jangan memanjakanku," kekeh Santa seraya mengikat celemeknya sendiri dan mengambil alih wadah penyiram bunga.

Suasana toko hangat dan penuh kehidupan. Namun, berbanding terbalik dengan ketenangan di Jasmine & Bloom, di luar toko sebuah sedan mewah Maybach bernomor polisi khusus melintas pelan di jalur jalan utama di luar sana.

Di dalam kabin belakang yang kedap suara, atmosfer terasa begitu padat dan menekan. Gemini Norawit duduk bersandar dengan posisi tegap sempurna. Setelan jas hitam custom yang membungkus tubuh atletis setinggi 183 cm itu memancarkan wibawa yang intimidatif. Wajahnya rupawan bergaris tegas, dengan rahang kokoh dan mata cokelat gelap yang dingin bagai danau es.

Feromon Cedarwood bercampur Smoky Leather miliknya memancar tipis, cukup kuat untuk membuat siapa pun di sekitarnya merasa tertekan secara instinktif.

"Tuan Gemini, laporan pengiriman komponen dari pabrik utama sudah rapi. Namun, ada sedikit gangguan dari kelompok pelabuhan mengenai jalur distribusi malam besok," ujar Perth Tanapon dari kursi penumpang depan, menyerahkan sebuah tablet tipis dengan wajah tanpa ekspresi.

"Selesaikan secara bersih, Perth. Aku tidak suka ada kerikil di jalanku," jawab Gemini datar. Suaranya berat, dalam, dan tanpa nada kompromi.

"Baik, Tuan."

Saat mobil terhenti di lampu merah persimpangan Jalan Ratchadamnoen, pandangan Gemini secara refleks terlempar ke luar jendela berfilm gelap. Manik matanya terkunci pada sosok mungil yang sedang tertawa kecil di balik kaca transparan Jasmine & Bloom.

Fourth sedang menyerahkan seikat bunga dibungkus kertas cokelat kepada seorang pelanggan tua, diselingi tawa halus yang membuat pipinya merona manis. Sinar matahari pagi membingkai tubuhnya, membuatnya tampak begitu bersinar di mata sang Alpha.

Gemini tidak bersuara. Jemari tangannya yang mengenakan jam tangan mewah mengetuk-ketuk pelan sandaran tangan.

Ini bukan pertama kalinya Gemini melewati jalan ini. Selama beberapa bulan terakhir, sang CEO yang memimpin Norawit Corporation sekaligus pengendali bisnis persenjataan ilegal di dunia hitam itu sengaja mengambil rute memutar hanya untuk satu hal: memperhatikan sang Omega manis dari jauh.

Gemini tahu segalanya tentang Fourth. Nama, usia, jam operasional toko, hingga fakta bahwa Fourth adalah Pure Omega yang hidup sebatang kara. Di mata Gemini yang terbiasa dengan kejamnya persaingan bisnis dan pertumpahan darah, Fourth adalah antitesis dari dunia hitamnya-begitu murni, lembut, dan tak tersentuh. Sangat berlawanan dengan kegelapan yang mengepung hidup Gemini.

Terlalu indah untuk berada di luar jangkauanku, batin Gemini.

Obsesi yang dipendamnya diam-diam kian membesar setiap harinya. Gemini tidak lagi puas hanya melihat dari balik kaca mobil berfilm gelap. Ia ingin memiliki, menyimpan, dan memastikan Omega manis itu berada di bawah kendalinya secara mutlak.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Sedan mewah itu kembali melaju meninggalkan sudut jalan. Melalui kaca spion samping, mata dingin Gemini terus menatap sosok Fourth sampai bangunan toko bunga itu menghilang di balik tikungan.

Gemini menyandarkan kepalanya, membuang pandangan ke depan dengan binar mata yang penuh ketetapan hati.

"Perth," panggil Gemini tenang.

"Ya, Tuan Gemini?"

"Kosongkan seluruh agenda soreku besok." Gemini memiringkan kepalanya sedikit, bibirnya membentuk garis senyum tipis yang sarat misteri. "Aku ingin membeli bunga."

***

Sampai jumpa di bab selanjutnya....

Bound By ScentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang