Matahari sore mulai tenggelam di balik ukiran wajah para Hokage, membiaskan warna jingga keemasan yang perlahan meredup.
Di gerbang utama Konoha, angin berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai daun gugur serta rambut merah muda seorang gadis.
Jalan setapak di hadapannya kini lengang. Punggung anak laki-laki berbaju oranye yang baru saja melambaikan tangan dengan cengiran khasnya itu sudah sepenuhnya hilang ditelan jarak.
Naruto telah pergi bersama Jiraiya, mengejar janji untuk menjadi lebih kuat. Sementara Sasuke, dia sudah lebih dulu pergi menembus kegelapan.
Gadis itu berdiri membeku di garis perbatasan desa. Di sampingnya, berdiri seorang pria jangkung dengan rambut perak yang berkibar pelan tertiup angin, menatap lurus ke jalanan kosong di depan mereka.
Sakura menunduk. Bayangan dirinya sendiri yang selalu menangis di belakang punggung kedua rekannya mendadak berputar di kepalanya.
"Aku... selalu saja berdiri di belakang mereka," bisik Sakura. "Menjadi beban. Hanya bisa berteriak memanggil nama mereka saat bahaya datang."
Kakashi diam, mendengarkan tanpa memotong. Masker kainnya menyembunyikan ekspresi wajahnya, tetapi mata kirinya yang redup menatap sang murid.
"Aku memang telah berlatih dengan Tsunade-sama," lanjut Sakura, mengepalkan tangannya erat. "Tapi..."
Tangan Kakashi bergerak naik, menepuk bagian atas kepala Sakura pelan, seperti yang biasa dilakukannya. Sakura mendongak, menatap Kakashi dengan sedikit lesu.
"Jangan lupakan bahwa aku masih di samping mu, aku cukup senggang untuk melatih satu-satunya murid ku yang tersisa."
Mendengar itu, raut wajah Sakura berubah, mata Sakura berbinar penuh harap. Sebelumnya, Kakashi telah melatih Sasuke secara khusus, kini Sakura mendapatkan kesempatan itu.
Melihat binar di mata Sakura, Kakashi tak bisa menahan senyumnya, tangannya yang masih berada di atas kepala Sakura bergerak, mengusap rambut merah mudanya yang terasa lembut.
"Hanya jika kau tidak kelelahan setelah berlatih dengan Tsunade-sama."
"Tentu!"
Setelah pembicaraan itu, Kakashi benar-benar langsung melatih Sakura, ia telah memeriksa elemen dasar Sakura dan merasa ada satu jutsu yang dapat ia fokuskan pada Sakura selain hanya latihan sederhana seperti taijutsu atau melawan dengan memakai kunai.
Kakashi bisa mengajarkan pertahanan dengan teknik tanah, sehingga Sakura yang baru saja diajarkan menghancurkan tanah dari Tsunade, kini Sakura bisa membentuk tanah sebagai pertahanan.
"Tsunade-sama melatihmu untuk melepaskan chakra dan menghancurkan tanah di bawah kakimu demi menghasilkan daya hancur. Tapi bertarung bukan cuma soal merusak," ujar Kakashi seraya merapatkan kedua telapak tangannya dalam satu segel tangan. "Doton: Doryūheikō!"
Tanah di hadapan Kakashi bergetar. Sebuah dinding batu kokoh terangkat dari dalam tanah, membentang tinggi melindungi Kakashi dari pandangan Sakura.
"Kau harus belajar mengendalikan dan memadatkan struktur tanah tersebut," suara Kakashi terdengar dari balik dinding batu sebelum ia melompati dinding itu dan mendarat santai di depannya. "Dengan begitu, ketimbang hanya meremukkan tanah untuk menyerang, kau bisa mengalirkan chakramu untuk membentuk tanah itu menjadi tameng instan, seorang ninja medis harus bisa berlindung dengan baik, kan?"
Kakashi mulai mengarahkan bagaimana cara membuat dinding itu ketika Kakashi menghilangkannya dan berhadapan langsung dengan Sakura.
Pengarahan dari Kakashi tentunya cukup mudah di pahami oleh Sakura, namun ia belum bisa melakukannya dengan sempurna, bahkan setelah beberapa kali mencoba, bahkan pada awalnya Sakura gagal melakukannya.
YOU ARE READING
Next Chapter[✓]
FanfictionBagian terbaik dari sebuah kisah biasanya ada pada masa depan
![Next Chapter[✓]](https://img.wattpad.com/cover/414987401-64-k673676.jpg)