Mangkunegaran bagai dunia lain di tengah rumit dan kakunya pemerintahan Jawa. Setelah para pendatang menyatakan kedudukan mereka setara atau bahkan lebih tinggi dari pribumi, rakyat memerlukan jaminan, sekadar posisi yang membuat mereka bisa berjalan di tanahnya sendiri.
Untuk mempertahankan daulat kerajaannya, Adipati Mangkunegaran menyusun kebijakan baru. Sistem turun temurun tentang posisi yang melibatkan keturunan raja dan bangsawan dihapuskan. Prajurit diangkat dari golongan rakyat untuk mengaburkan nepotisme, serta meminimalisir adanya campur tangan asing, baik di ranah politik maupun kepentingan sipil.
Salah satu kebebasan lain tentu pada pusat keseniannya yang telah kondang sejak didirikan beberapa tahun yang lalu. Kini tempat itu menjadi kiblat kesenian Jawa yang paling dipuja dan digandrungi.
"Pernahkan Raden pergi ke Surakarta?" Perempuan berkebaya putih bertanya di sebelah Wira. Mereka duduk di dalam ruang dokar seluas dua manusia dewasa dengan sedikit jarak.
"Beberapa kali aku diutus kesana," jawab Wira yang tengah asik mengamati jalanan yang dilewatinya.
"Raden pernah mendatangi pusat kesenian di sana?"
Wira menggeleng. "Jika aku dikirim untuk bertugas, tak kulakukan hal lain kecuali tugasku." Ia menoleh ke arah gadis itu. "Kali ini adalah pengecualian."
"Kenapa pengecualian? Apa perjodohan kita membuat Raden merasa sungkan?"
Wira tersenyum tipis. "Perjodohan ini adalah tugasku."
Gadis itu menunduk, lantas memalingkan wajahnya keluar. Ditatapnya rimbun pepohonan di tepi jalan. Begitu gelap, dingin, dan sunyi. Mengetahui bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan, terkadang hatinya pun sedingin tawa angin malam itu.
Mendekati arah tujuan mereka, gelap itu perlahan samar. Sunyi perlahan redup, berganti riuh yang menyeruak.
Turun di tanah lapang yang menjadi lokasi pagelaran, Wira diarahkan menuju asal keramaian itu. Orang-orang dari banyak golongan sudah memenuhi lapangan. Semua pandangan tertuju pada panggung setinggi dua meter yang terlihat paling mencolok. Obor-obor berkobar di tepian panggung dan tepi lapangan, begitu terang, megah, dan meriah.
Saat ini pagelaran wayang sudah dimulai. Siluet lakon beradu adegan di balik kelir yang tinggi dan lebar. Permukaan kelir itu berhias deretan gunungan wayang dan dekorasi kain yang menggantung dari atas ke kanan kirinya. Mirip seperti pagelaran ketoprak pada umumnya, namun ini pagelaran paling megah yang pernah Wira datangi.
Putri Kadipaten mengajak Wira duduk di area depan, dekat dengan barisan penabuh gamelan di pinggir panggung. Mereka bersila di atas rumput dan hanya beralaskan selop masing-masing.
"Orang-orang yang datang kemari kebanyakan adalah orang-orang berpengaruh. Mereka datang dari tempat yang jauh," ucap Putri Kadipaten.
Wira mengangguk-angguk di sebelahnya. Masih sibuk mengamati kemeriahan panggung dan mencoba menerima riuh yang berisik. Ia merasa canggung. Hal seperti itu menurutnya terlalu heboh dan berlebihan untuk sekadar hiburan.
Setelah penampilan wayang ditutup dan dalang mengakhiri ceritanya, seru-seruan penonton mereda. Suara gamelan yang mulanya bersahut-sahutan perlahan hening satu persatu. Semua orang diam. Dibiarkan angin mengambil alih sesaat hingga kain-kain di atas panggung melambai. Lambaian ramah. Lambaian selamat datang untuk bintang tamu malam ini.
Tak lama kemudian, gamelan kembali dimainkan, namun lebih lirih. Diikuti gerakan seorang perempuan berkebaya hitam yang berjalan dengan lenggak-lenggoknya. Gerakannya halus. Tangannya yang lentik dan tubuhnya yang ramping bagai pohon terbawa angin.
Satu.. dua.. tiga. Setiap inci gerakan tangannya dihitung dengan teliti. Langkah kaki dijaga dengan hati-hati. Agar tidak salah melangkah. Agar tidak kacau. Kadang ia bergerak sangat pelan dengan musik yang lirih. Kadang tiba-tiba berlari dengan musik yang berisik. Selendang merah yang terikat di pinggangnya bagai daun-daun kering yang setia pada pohon yang rapuh.
Setiap detik tarian itu bagai sebuah cerita. Tentang pohon yang tumbuh perlahan, lalu tumbang perlahan. Serta angin sebagai belahan jiwa yang membunuhnya dengan hati-hati.
Setelah penari itu berlarian memutar dengan terhuyung-huyung, ia berhenti di tengah panggung. Tangannya meraih rambut yang diikat membulat tanpa sanggul, diurainya sembari perlahan duduk dan bersimpuh.
Seperti pohon yang akhirnya mati, tubuh rampingnya luruh ke lantai bersama selendang merah yang tak lagi melambai. Ia membungkuk ke lantai, sebagai sebuah penutup dan salam perpisahan.
Suasana hening tak berangsur lama. Atmosfer yang kosong kemudian pecah oleh tepuk tangan penonton. Siul-siulan terdengar. Perempuan penari yang terkapar di atas panggung lantas bangkit dan berhenti bersandiwara. Wajahnya yang semula sayu dan pilu menjadi sangat bergairah.
"Orang-orang memanggilnya Roro. Dia penari terbaik kami. Yang dibawakannya kini sedikit berbeda. Biasanya ia suguhkan tari-tari asmara bersama para penari laki-laki. Ini kali terakhirnya naik ke panggung, jadi Roro ingin mengucapkan salam perpisahan."
"Aku sedikit tersentuh." Wira yang sempat terlarut dalam suasana kini menoleh ke arah gadis di sebelahnya. "Kudengar kau sendiri yang mengurus paguyuban ini. Kau menyiapkannya dengan sempurna."
Gadis itu tersenyum tipis, tetap dengan wibawanya. "Peran perempuan cukup terbatas. Hanya di tempat ini perempuan mengambil alih dan diakui. Maksudku, aku senang Raden menyukainya."
Wira kembali mendongak ke atas panggung. Perempuan penari yang baru saja bersolek ria, saat ini sudah duduk di barisan para pesinden. Beberapa lakon pria mengambil alih panggung dengan drama mereka. Tembang-tembang kembali terdengar dan tabuhan gamelan kembali berisik, namun Wira tak lagi terganggu oleh suasana itu. Ia hanya menunggu kapan penari itu mendapatkan perannya lagi.
Menjelang tengah malam, pertunjukan itu diakhiri. Para penonton berbondong-bondong pergi dengan rombongan dan kereta kudanya. Para petugas telah menutup panggung, mematikan sebagian obor, dan menurunkan kelir. Memang lapangan itu harus segera disterilkan untuk tempat berlatih para prajurit legiun esok pagi.
Saat semua petugas sibuk membereskan latar, putri Kadipaten memeluk erat penari berkebaya hitam yang ditemuinya di belakang panggung.
"Raden menyukainya?"
"Sangat!" seru putri Kadipaten pada gadis bernama Roro itu.
Roro mengurai pelukan mereka. "Aku tidak menyangka lima tahun berlalu begitu saja. Benar, kan? Sudah lima tahun kita mengepakkan sayap di dunia ini."
Roro adalah gadis yang pertama kali bergabung menjadi bagian dari paguyuban Sekar Mayang setelah putri kadipaten mendirikannya. Di samping itu, mereka juga masih memiliki ikatan saudara dari trah priyayi di Surakarta. Kesuksesannya itu tidak lain karena putri kadipaten mendukungnya.
"Aku akan sangat merindukanmu, Roro."
"Aku juga." Roro memegang kedua tangan Putri Kadipaten. "Mari kita bertemu di Yogyakarta."
Putri Kadipaten tersenyum. "Tentu saja."
~~~°°°°~~~
VOUS LISEZ
The Moon Never Sets
Fiction HistoriqueSemenjak Belanda menanamkan pengaruhnya di tanah Jawa, Mataram terpecah menjadi empat kerajaan dengan beragam kepribadiannya. Di tengah ketegangan antara Ngayogyakarta yang menolak campur tangan orang asing dan Surakarta yang hampir sepenuhnya tundu...
