Happy Reading Guys🖤🤍
Pagi itu, udara Bangkok terasa lengket oleh sisa-sisa embun malam dan polusi kota yang mulai sibuk.
Di sebuah halte bus kawasan Sukhumvit, seorang pemuda berambut hitam legam dengan potongan mullet rapi tampak mengetuk-ngetukan ujung sepatu sneakers-nya ke trotoar dengan tidak sabar.
Keenan, mahasiswa semester dua jurusan Bisnis Internasional yang juga seorang idol di bawah agensi menengah, mendengus pelan sambil melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya. Sudah sepuluh menit lewat dari jadwal seharusnya, dan batang hidung bus kota yang ia tunggu sama sekali tidak kelihatan.
"Sialan. Kalau tahu begini aku tadi naik taksi online saja." gerutu Keenan pelan, merapatkan jaket oversized hitam yang ia kenakan untuk menutupi sebagian wajahnya, menghindari perhatian orang-orang yang mulai lalu-lalang.
Sialnya lagi, ponselnya kehabisan baterainya tepat saat ia ingin mengecek aplikasi transportasi.
"Sialan. Kenapa harus sekarang?!"
Dengan terpaksa, Keenan memutuskan untuk meninggalkan halte dan mencari kafe terdekat demi secangkir iced americano dan tempat mengisi daya ponsel.
Beberapa blok dari halte, ia menemukan sebuah kafe minimalis dengan kaca jendela besar yang masih sepi pengunjung, setelah memesan minumannya dan mengisi daya ponselnya selama sepuluh menit.
Keenan melangkah keluar dengan tergesa-gesa karena kelas pagi pertamanya akan segera dimulai dalam waktu setengah jam.
Niatnya ingin berjalan cepat, namun takdir sepertinya punya rencana lain.
Brukk!
Langkah lebar Keenan membentur sesuatu yang keras bagaikan dinding beton, benturan itu membuat cangkir kopi kertas di tangan kirinya nyaris tumpah, sementara ponsel di tangan kanannya terlepas dan hampir mencium lantai seandainya tangan kekar seseorang tidak dengan sigap menangkap bahunya.
"Ah, Sialan!" maki Keenan spontan, refleks mendongak dengan alis menukik tajam.
"Kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul-"
Kalimat tajam itu mendadak tertelan di tenggorokan begitu manik matanya beradu pandang dengan sosok di hadapannya.
Pria itu jauh lebih tinggi darinya, berdiri dengan postur tegap yang dibalut setelan jas hitam tailored buatan Italia tanpa dasi, memperlihatkan kerah kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian atas.
Garis wajahnya tegas, rahangnya tajam seolah dipahat oleh seniman terbaik, dengan sepasang mata kelam yang memancarkan aura dominasi mutlak.
Usianya mungkin sekitar pertengahan tiga puluhan, memancarkan pesona pria matang yang berbahaya sekaligus mematikan.
Nathaniel-atau yang lebih akrab disapa Nathan di dunia gelap maupun terang-terdiam sejenak.
Pria itu menatap lurus pemuda di pelukannya.
Alih-alih marah karena bajunya nyaris ketumpahan kopi atau karena baru saja dibentak, sudut bibir Nathan justru terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang nyaris tak kasat mata.
Keenan, yang merasa canggung karena jarak mereka terlalu dekat, segera menghempaskan tangan Nathan dari bahunya lalu mundur dua langkah. Ia merapikan jaketnya dengan gerakan salah tingkah, meski wajahnya tetap memasang ekspresi galak khasnya.
YOU ARE READING
Marking You
General FictionSemoga suka ya, author mikirin alurnya dulu baru up ya🙂↕️🙏🏻 #🔞⚠️
