PROLOG

362 34 0
                                        

Ada sebuah rahasia umum yang beredar di antara lorong-lorong beton dan riuhnya kantin salah satu kampus bergengsi di Jakarta Selatan. Jika kamu menyebut nama Andika Ari Pradana, hampir semua orang akan memberikan reaksi yang sama: decak kagum, tatapan iri, atau helaan napas mendamba.

Secara visual, Andika adalah definisi nyata dari sebuah anugerah. Pemuda itu memiliki struktur wajah yang unik-rahang tegas dan tinggi badannya memberikan kesan maskulin yang kuat, namun sepasang matanya bulat besar dengan bulu mata lentik, memberikan kesan manis sekaligus lembut secara bersamaan. Paket lengkap itu membuatnya digilai tanpa batasan gender. Baik mahasiswa maupun mahasiswi sering kali sengaja memperlambat langkah hanya untuk melihat Andika berjalan melewati koridor, berharap mendapatkan sekadar anggukan kepala atau senyuman tipis yang mematikan.

Di atas kertas, hidup Andika tampak begitu sempurna. Dia populer, pintar, dan memiliki lingkaran pertemanan yang solid. Namun, jika ada yang bertanya siapa orang paling tidak beruntung dan paling menyedihkan dalam urusan asmara di kampus itu, maka ironisnya, jawabannya adalah orang yang sama: Andika.

Di balik semua pujaan yang ia terima dari orang lain, Andika memilih untuk menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan satu orang. Faisal.

Faisal adalah semesta bagi Andika, sekaligus lubang hitam yang perlahan mengikis kebahagiaannya. Hubungan mereka sudah berjalan selama enam bulan, sebuah angka yang seharusnya cukup untuk membangun fondasi komitmen yang kuat. Namun, bagi Andika, enam bulan itu terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Nyatanya, status sebagai kekasih resmi Faisal tidak pernah membuat Andika benar-benar memiliki cowok itu. Jantung Faisal mungkin berdetak di dekat Andika, tetapi pikiran dan jiwanya masih tertinggal di masa lalu, terkunci rapat pada sosok sang mantan kekasih, Nabila.

Menjadi pacar dari seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya adalah jenis siksaan yang lambat namun mematikan. Andika tahu itu. Dia merasakannya setiap kali Faisal mendadak terdiam di tengah percakapan mereka, menatap kosong ke luar jendela kafe dengan pandangan rindu yang bukan ditujukan untuk Andika. Dia merasakannya setiap kali Faisal secara refleks menarik tangannya menjauh saat mereka tidak sengaja berpapasan dengan teman-teman lama Nabila di area kampus. Dan yang paling menyakitkan, Andika merasakannya setiap kali Faisal memeluknya, karena Andika tahu, di dalam kepala Faisal, pelukan itu mungkin sedang membayangkan tubuh orang lain.

Andika sudah terlalu sering disakiti. Luka-luka kecil itu menumpuk, mengering, lalu robek kembali sebelum sempat sembuh.

Rasel, sahabat terdekat yang sudah menemani Andika sejak hari pertama ospek kuliah, sudah sampai di batas puncaknya. Rasel berkali-kali mencoba menyumpal logika ke dalam kepala Andika yang sedang mabuk asmara. Mulai dari sindiran halus, nasihat penuh empati di malam hari, hingga bentakan kasar di depan muka untuk menyadarkan sahabatnya bahwa dia sedang dihancurkan secara perlahan.

Namun, ya, namanya juga Andika. Ketika hatinya sudah memilih, logikanya mendadak mati total. Setiap kali dinasihati, Andika selalu menutup telinganya rapat-rapat. Diberi tahu pelan-pelan dia tidak mau mendengarkan, dikerasin sedikit oleh Rasel dia malah bersikap bodo amat dan mengeluarkan sejuta alasan demi membela Faisal.

"Faisal cuma butuh waktu, Sel. Dia gak bermaksud kayak gitu," adalah kalimat tameng yang selalu Andika gunakan untuk membohongi dunia, sekaligus membohongi dirinya sendiri.

Andika selalu percaya pada sebuah dongeng fiktif yang ia ciptakan di kepalanya: bahwa kesabaran yang tidak terbatas, cinta yang tulus, dan kehadiran yang selalu ada di setiap detiknya, suatu saat nanti akan mampu menghapus bayangan Nabila dari hati Faisal. Dia dengan sukarela menurunkan standar harga dirinya, bersedia menjadi pilihan kedua, dan mengemis perhatian demi sebuah cinta yang semu. Dia rela menjadi ruang tunggu yang sepi, tempat Faisal singgah sementara ketika dunianya sedang berantakan, sebelum akhirnya cowok itu kembali berlari pulang begitu sang mantan memanggilnya kembali.

Hingga akhirnya, malam itu tiba. Malam perayaan anniversary enam bulan yang seharusnya penuh dengan lilin dan senyuman, justru berubah menjadi awal dari badai yang sesungguhnya. Sebuah kesalahan fatal dari bibir Faisal di sebuah restoran mewah meremukkan seluruh pertahanan yang selama ini Andika bangun dengan susah payah.

Dan seperti biasa, ketika hatinya sudah hancur berkeping-keping dan dunianya terasa runtuh, Andika tidak punya tempat lain untuk pergi. Langkah kakinya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, selalu membawanya kembali ke satu-satunya tempat berlindung yang paling aman dan ramah di dunia: kosan milik Rasel. Satu-satunya sahabat sejati yang, meski selalu mengomel dan memaki kebodohannya, tetap akan membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Andika menumpahkan seluruh air matanya hingga mengering.

TBC

unfinished pastHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora