We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

terlahir

1 0 0
                                        

​...malam itu di rumah sederhana kami, terlahir seorang bayi cantik, tangisan dan juga tubuhnya membuat ibu juga bapak ku tersenyum manis menatap nya.

​Saat mbah dukun beranak mengusap peluh di kening ibu, nenek-ibu dari ibuku-datang tergopoh-gopoh dari dapur sembari membawa selembar kain hangat yang sudah ia hangatkan di atas tungku perapian.

​Nenek memeluk ibu erat-erat sebelum beralih menggendong adikku dengan kedua tangannya yang gemetar karena haru. Di telinga bayi itu, nenek membisikkan doa-doa penuh air mata, samaa seperti dulu ia membisikkan doa doa tulus padaku, seolah merapal perisai agar cucu kecilnya ini tidak harus merasakan kerasnya hidup seperti yang ia dan ibu lalui.

​Dan malam itu, di bawah temaram lampu pelita, aku melihat mamah memeluk adik ku dengan hangat seolah menyambutnya ke dunia.

beberapa tahun pun berlalu, keluarga kami menjalankan kehidupan dengan tenang dan penuh kegembiraan,semua kebutuhan ku dan adikku terpenuhi, bahkan bisa di bilang berkecukupan.

namun.... beberapa bulan setelah aku menginjak umur 10 tahun,keluargaku mengalami kesulitan ekonomi, bapak yang harus resign dari tempat kerja, mamah yang sedang hamil, membuat bapak ku frustasi dan bingung.ditambah tekanan dari mamah yang membuat nya semakin terpuruk.

saat melihat itu entah kenapa di umur ku yang menginjak 10 tahun aku bisa merasakan betapa sakitnya melihat bapak terdiam di teras dengan tatapan nya yang lurus ke depan.

aku berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya dan tertidur, walaupun aku tidak begitu mengerti apa yang sedang ia fikirkan,tapi aku bisa merasakan kesedihan dari sorot matanya.

namun beberapa hari berlalu bapak mendapat tawaran pekerjaan di sebuah toko bangunan, hari itu dengan semangat ia menyampaikan kepada mamah.

"mah, bapak dapet kerja" ucapnya dengan riang

mamah tersenyum gembira begitu pun aku yg mengintip di ambang pintu.

"alhamdulillah pak akhirnya, makasih ya allah"

saat itu sedikit demi sedikit kebutuhan kami mula membaik,mamah yang mulai berjualan dan bapak yang bekerja sebagai supir di toko tersebut,dengan pekerjaan bapak dan usaha tabung gas yang mamah dirikan kecil-kecilan itulah yang bisa menyekolahkan ku juga adik adik ku sampai sekarang.

7 tahun berlalu..

"raya sini kamu!! " raya terbangun dari tidur lalu menghampiri sang kakak

"apa sih?"

"tadi teteh kan suruh beli gula,tapi kenapa kamu malah beli garem? balik lagi sana!"

raya memutar bola matanya lalu mengambil garam yang dipegang sang kakak "ya bentar"

aku tersenyum melihat ekspresi raya yang sangat menggemaskan, namun senyuman tersebut tertahan kala teriakan sang adik yang balik menyuruh jaki adik mereka yang masih berumur 6 tahun untuk menukar garam ke warung.

"JAKI DISURUH SI TETEH TUKER GAREM KE WARUNG"

aku melotot lalu berteriak "RAYAAA!!!!!"

"TETEH BERISIK"

"TEH ADA APA SIH? MASIH PAGI LOH INI"

aku tersenyum saat mamah dan bapak menatapku.

"maaf hehehe" ucapku diakhiri dengan senyum manis


Melihat keributan kecil ini, aku kembali diingatkan... bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu di ukur dari kemewahan. Kadang, ia cukup ditemukan dalam suara tawa dan kehangatan sederhana di rumah.

...
"kebahagiaan tidak selalu di ukur dari kemewahan"~otoo

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 10 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SADARStories to obsess over. Discover now