PROLOG

33 10 0
                                        

Keheningan di kamar berukuran empat kali empat meter itu selalu terasa paling mencekik.

​Bagi Sheiza Seraphine, rumah bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang sidang tanpa akhir. Selama tujuh tahun-sejak usianya sepuluh tahun-setiap sudut rumah ini seolah mengutuk keberadaannya. Bentakan Damian sang ayah, serta tatapan dingin nan penuh kebencian dari kedua abangnya, Lorenzo dan Jemian, menjadi melodi harian yang mengikis jiwanya perlahan-lahan.

​"Pembunuh."

​Satu kata itu terus bergaung di dada Sheiza. Sebuah label yang disematkan oleh orang-orang terdekatnya sejak tragedi kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Ibunya, Aruna. Sheiza telah mencoba segalanya: menjadi murid berprestasi di sekolah, selalu mengalah, menunduk pasrah saat menjadi sasaran bullying Serena di koridor kelas, dan menanggung rasa bersalah yang teramat berat.

Ia berusaha memendam semua di usianya yang masih 16 tahun. Namun, tepat hari ini usianya 17 tahun, benteng pertahanan itu runtuh. Sheiza tidak sanggup lagi menahan semuanya, energinya habis. Enam tahun ia memendam semua rasa sakit itu, jiwanya sudah terlalu lelah untuk menjadi sasaran tembak terus menerus.

Di depan cermin, air mata Sheiza terus berjatuhan, jemari yang penuh luka itu gemetar. Air matanya membasahi permukaan lantai saat kesadarannya perlahan meredup menuju kegelapan bawah sadar.

​"Gue udah nggak sanggup... tolong..." bisik Sheiza lirik, menyerahkan sisa-sisa kendali tubuhnya.

​Dari sudut tergelap jiwanya, sosok yang selama belasan tahun hanya diam mengamati akhirnya melangkah ke depan.

​Shia Seraphine.

​Tatapan mata di balik pantulan cermin itu berubah drastis dalam sekejap. Binar ketakutan dan keputusasaan milik Sheiza surut sepenuhnya, berganti dengan kilatan mata yang dingin, tajam, dan tidak tersentuh. Bahu yang tadinya bungkuk menahan beban kini tegak penuh percaya diri.

​Shia menarik napas panjang, meresapi dinginnya udara malam melalui paru-paru tubuh itu. Ia mengambil selembar sticky note dan pulpen hitam dari meja, lalu menggoreskan tulisan dengan guratannya yang tegas tepat di atas kaca cermin:

​"Tidur yang nyenyak, Sheiza. Mulai detik ini, biar gue yang bikin mereka bayar setiap tetes air mata lu."

Shia menyunggingkan senyum tipis yang penuh intimidasi. Pelindung itu telah mengambil alih kemudi, dan dunia di luar kamar tidak akan pernah siap menghadapinya.

The Host & The ProtectorStories to obsess over. Discover now