Angin mengibas seluruh pakaianku , topi tua pemberian ayah pun hampir terbang namun bisaku tangkap dengan cepat. Kaki mulai turun ke permukaan tanah, kapal itu membawaku ke perjalanan baru.
Di depan mata terlihat seorang pria menunggu ku dengan sepeda ontel tua miliknya, ia melambaikan tangan seperti memberitahu "bahwa aku yang akan menjagamu di sini". Langkahku perlahan datang kepadanya, semakin dekat aku melihat ternyata wajah nya terlihat lebih tua dariku. "Kamu suruhan ayahku?" aku bertanya untuk membuka obrolan kepada pria itu.
"Iya, oh ya perkenalkan aku Dimas Dermaputra" Dimas mengulurkan tangan nya lalu ku membalasnya "salam kenal Dimas, aku Jaya Laksana". Dimas adalah tipikal pria yang topiknya tanpa batas, mereka mengobrol sepanjang jalan kota Tangga Arung
Dimas sengaja memutarkan setir sepedanya ke arah jalan lebih dekat dengan tepi sungai "Jay, kamu suka udara air sungai ga?".
Jaya menjawab perlahan "o-iya aku suka sekali, udara sungai membuatku sedikit lebih tenang seperti rileks alami".
"Mau menepi? Kita nikmati sebentar udaranya" ujar Dimas, Jaya pun mengiyakan ucapan Dimas.
"Aaaakhhhh lega nya udara di sini ya" teriak Dimas sambil menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas sungai.
Ia menatapku dan bertanya "Jay, lu beneran campuran orang filipina?".
"e e iya, kenapa Dimas?" ia pun mendekat kan wajahnya ke wajahku, ekspresi nya penuh semangat dan terlihat bakal ada ribuan pertanyaan datang.
"Aku orang miskin di sini, ga pernah tau dunia luar seperti apa? aku penasaran filipina negara seperti apa? apa sama dengan di sini Jay?" -Dimas Dermaputra
aku bingung ingin jawab apa, benar adanya aku pernah tinggal di filipina selama beberapa tahun, gimana ya
"Begini Dimas, filipina itu negara yang sedikit maju. Di sana banyak makanan khas yang enak enak serta budaya yang ga kalah jauh." -Jaya Laksana
"Salah satu nya?" -Dimas Dermaputra
"Adobo , kalo di sini ga beda jauh dengan ayam kecap tetapi rasa bumbu khas nya yang membedakan". -Jaya Laksana
"Enak ya di sana, di sini walau ada ayam kecap aku cuma mampu beli ceker rebus". -Dimas Dermaputra
"Ceker? Apa itu,dim?". -Jaya Laksana
"Kaki ayam". -Dimas Dermaputra
"Lain kali aku traktir ayam kecap, mau dim?" -Jaya Laksana
"Hahaha ga perlu Jay, ga usah mengasihani begitu" -Dimas Dermaputra
Alih alih Jaya menjawab, Dimas malah mengalihkan topik.
"Kamu pasti jago bahasa filipina kan Jay. Sebutkan satu kalimat dong Jaya, aku mau dengar langsung" -Dimas Dermaputra
Karena suasana nya agak canggung, Jaya pun ikut mengalihkan pembicaraan.
"Tara, ipagpatuloy natin ang ating paglalakbay" - Jaya Laksana
Dimas makin mengerutkan kan dahinya, rasa penasaran itu makin intens.
"apa artinya Jay???" , Jaya pun melangkah ke sepeda ontel milik Dimas "Ayo lanjutkan perjalanan kita".
"Jay, serius artinya apa? belum dijawab sudah minta lanjut perjalanan, yang bener aja kamu" -Dimas Dermaputra
Jaya tertawa geli mendengar pertanyaan polos Dimas, aku pun mendekat kan diri kembali padanya lalu membisikkan "itu artinya".
Dimas sedikit mencerna apa yang baru saja terjadi, ia pun paham walau sedikit telat menyadari konteksnya. "oh itu paham, ya sudah ayo lanjut antar kamu".
Kami berdua pun kembali jalan menyusuri jalan tepi sungai, sesekali Dimas membunyikan lonceng sepeda ontel nya untuk mencairkan suasana.
Aku sampe ke tempat yang akan ku tinggali selama di sini, di kota Tangga Arung ini walau di sepanjang jalan tadi si "Suruhan" ga hapal alamatku, aneh bukan?
Ternyata ayahku sengaja cari yang terpinggir, ayah ga pernah bohong soal perkataan nya.
"Mau aku bantu bersih-bersih Jay?" ujar Dimas, aku pun menoleh sekitar "banyak yang kotor ya, seperti nya aku tidak mampu membersihkan seorang diri. Bisakah aku meminta tolong padamu?"
"baik lah, aku pergi dulu ya ke toko alat pembersih dekat sini" -Ujar Dimas yang mulai mengayuh sepeda ontel nya dan pergi menjauh
aku pun membersih kan apa yang bisa di bersihkan dahulu, debu debu itu menyebalkan. Ayah aku lah yang membuat aku seperti ini, yah walau ada "Suruhan" namun sedikit "tidak nyaman" juga kan?
Dimas datang membawa peralatan pembersih dari pel, sapu, kain lap, sabun-sabunan dan lainnya. Kami berdua pun mengerjakan sesi pembersihan ini dan berlangsung selama 2 jam tanpa henti, kita di pojok ruangan terduduk lelah, kepala aku dan dia saling bersandar, nafas kami terengah-engah.
Dimas pun berdiri perlahan-lahan dengan posisiku yang masi sangat amat lelah, ia mengulurkan tangan nya padaku "mau beli es krim bersama? aku traktir".
aku mengangguk perlahan "iya, mau" , kami berdua berjalan kaki ke toko es krim yang berjarak 5 rumah dari sini.
"Jay, mau tau tempat yang nyaman untuk nikmati es krim ini?" -Dimas Dermaputra
"euh, di mana?" tanganku langsung di tarik nya, kita sedikit berlari
"tapi jangan ngeluh cape ya, oke?" -Dimas Dermaputra
"eee eee eehhh!!! aku belum setuju Dimas" -Jaya Laksana
"pokoknya nurut aja, kalo cape aku gendong" -Dimas Dermaputra
Aku pun melepas paksa genggaman tangan Dimas, aku berbalik arah pelan dari nya. Ia pun memohon padaku seperti ini hari akhir, tidak tega melihatnya, aku pun menuruti kemauan Dimas tetapi dengan satu syarat "gendong aku" ujar Jaya Laksana
di tepi jurang kita berdua duduk, kaki kami bergelantungan lalu di depan mata disungguhi bentangan cahaya langit sore dengan udara sungai yang menghembus cepat.
"benar katamu, makan es krim di sini sangat nyaman" -Jaya Laksana
"Hah, hah, iyahhh, hah sangat nyaman" -Dimas Dermaputra
Aku bersandar di bahu Dimas, memberi nya es krim tambahan "terengah-engah banget kamu, ini makan punya ku"
Dimas mendorong perlahan tanganku yang menyondongkan es krim kepada nya "tidak usah, es krim itu hak milikmu. Lagian ini keputusan ku untuk bawa kamu ke sini, omong-omong ga sia sia kan kelelahan ini diganti suasana senyaman ini, Jay?"
"Ang ambiance na ito ay kasing-komportable mo."
(Kota ini senyaman dirimu)-arti
-Jaya Laksana
Dimas menoleh perlahan, ia menjauhkan sandaran aku padanya lalu memegang kedua bahu ku "apa artinya , Jay?"
aku berdiri perlahan dan membentangkan kedua lengan lalu berteriak "aku suka kota ini!!" lalu menoleh Dimas yang masi terduduk, aku mengasih senyuman sedikit padanya.
ESTÁS LEYENDO
Tangga Arung
Ficción GeneralTidak ada karakter lain hanya berfokus di sudut pandang karakter utama
