Aroma kopi hitam tanpa gula dan wangi sisa roti panggang mentega selalu menjadi penanda bahwa hari yang baru telah dimulai di rumah nomor 12. Bagi Inge, ritual pagi hari adalah sesuatu yang sakral. Di usianya yang menginjak tiga puluh enam tahun, dia sangat menghargai keteraturan. Tidak ada tangisan bayi yang memecah keheningan subuh, tidak ada suara dengkur suami yang mengganggu tidurnya, dan tidak ada mainan anak-anak yang berserakan di lantai ruang tengah yang dilapisi tegel abu-abu pudar.
Semuanya rapi. Semuanya berada di bawah kendalinya.
Inge menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Kerutan halus di sudut matanya baru akan terlihat jika dia tersenyum terlalu lebar. Secara keseluruhan, dia menyukai apa yang dia lihat. Kariernya di sebuah agensi periklanan sedang berada di puncak-dia memimpin tim desain grafis yang disegani. Rumah tipe 45 dengan halaman kecil berisi tanaman kuping gajah dan janda bolong ini adalah hasil keringatnya sendiri. Dia mandiri, mapan, dan ... merdeka.
Akan tetapi, kemerdekaan itu selalu memiliki harga yang harus dibayar. Dan bagi Inge, harga itu bernama akhir pekan.
"Inge, anak sepupumu, si Ranti, bulan depan melahirkan anak kedua. Kamu kapan mau bawa calon ke rumah? Usia makin jalan, Nduk. Jangan terlalu milih." Suara ibunya di seberang telepon dua hari lalu kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang tidak bisa dimatikan.
Inge menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan handuk kering. Tekanan sosial untuk wanita lajang seusianya di lingkungan ini seperti kabut tipis, tidak terlihat secara kasat mata, tapi cukup membuat sesak jika dihirup terlalu lama. Tetangga-tetangga sering kali menatapnya dengan pandangan antara kagum dan kasihan. Kagum karena dia bisa membeli mobil dan rumah sendiri, tapi kasihan karena setiap malam minggu, hanya lampu teras dan bayangan dirinya yang menemani rumah besar itu.
"Aku nggak kesepian," gumam Inge pada pantulan dirinya di cermin, lebih seperti sebuah mantra penenang ketimbang sebuah fakta. "Aku cuma lagi menikmati hidup saja."
Pukul setengah delapan pagi, Inge mengunci pintu pagar besi rumahnya. Matahari pagi itu bersinar cukup terik, memantul di atas aspal kompleks perumahan yang sepi karena sebagian besar penghuninya sudah berangkat kerja. Namun, langkah kaki Inge terhenti tepat di samping mobil putih miliknya.
Sebuah truk berwarna kuning tampak terparkir canggung di depan rumah nomor 14-rumah yang berada tepat di sebelah kanan rumahnya. Rumah berdinding putih gading itu sudah kosong selama hampir dua tahun, sejak pemilik lamanya pindah ke luar kota. Rumput liar yang biasanya menjulur kelaparan dari sela-sela pagar rumah itu kini sudah dipangkas rapi.
Dua orang pria berkaus oblong tampak sibuk menurunkan sebuah lemari jati besar dari bak truk. Di dekat pintu pagar yang terbuka, seorang pria lain membelakangi jalan, tampak sibuk memberikan instruksi dengan gestur tangan yang tegas. Pria itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan lengan yang digulung hingga siku.
Inge mengernyitkan dahi. Akhirnya, ada yang menempati rumah itu. Sebagai seseorang yang menyukai ketenangan, ada sedikit rasa cemas yang menyelinap di hatinya. Semoga tetangga baru ini bukan tipe orang yang suka menyetel musik keras-keras di malam hari, atau tipe yang hobi bergosip di depan pagar, batin Inge.
"Pak, hati-hati sudut lemarinya, jangan sampai membentur kusen pintu," suara bariton dari pria berkemeja flanel itu terdengar samar di antara deru mesin truk yang masih menyala.
Inge sempat terpaku selama beberapa detik, mencoba mengingat-ingat apakah dia pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Terasa familiar, tapi otaknya menolak untuk menggali lebih dalam karena jam digital di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu yang mendesak.
Dia menggelengkan kepala, mengusir rasa penasarannya, lalu segera masuk ke mobil. Bunyi "klik" dari sabuk pengaman dan desis AC mobil segera mengembalikan fokusnya pada tumpukan draf desain yang harus dia periksa hari ini. Saat mobilnya perlahan bergerak mundur membelakangi truk kuning tersebut, Inge tidak sempat lagi menengok ke arah rumah nomor 14. Pikirannya sudah terbang jauh ke ruang rapat kantor.
Sore harinya, jalanan ibu kota yang macet membuat Inge baru tiba di rumah menjelang pukul tujuh malam. Langit sudah hitam pekat. Ketika dia memarkirkan mobilnya, suasana di rumah sebelah sudah jauh lebih tenang. Truk kuning yang tadi pagi menutup jalan sudah tidak ada. Lampu teras rumah nomor 14 menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menembus celah-celah pagar.
Inge berjalan lesu ke teras rumahnya sendiri. Bahunya terasa kaku setelah seharian bergelut dengan tenggat waktu. Sambil merogoh tas kerjanya untuk mencari kunci rumah, matanya tanpa sadar melirik ke arah rumah sebelah sekali lagi.
Suasana di sana tampak hidup. Dari balik jendela kaca yang tertutup gorden tipis, Inge bisa melihat siluet beberapa orang yang bergerak di dalam rumah. Ada tawa samar yang terdengar, disusul oleh suara denting sendok yang beradu dengan piring. Kehidupan yang normal, hangat, dan sangat kontras dengan rumah nomor 12 miliknya yang gelap gulita dan dingin.
Inge memasukkan kunci, memutarnya dua kali hingga terdengar bunyi "klek", lalu melangkah masuk. Dia menyalakan lampu ruang tamu satu per satu. Rumahnya menyambutnya dengan keheningan seperti biasa, tapi malam ini, keheningan itu terasa sedikit lebih pekat dari biasanya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian rumah yang longgar, Inge duduk di sofa ruang tengah sambil memandangi ponselnya. Tidak ada pesan pribadi yang penting, hanya grup WhatsApp kantor yang masih sibuk membahas pekerjaan. Dia menatap langit-langit rumahnya, mendengarkan detak jarum jam dinding yang terasa kian nyaring.
Tiba-tiba, rasa lapar menyerang perutnya. Inge berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan mendapati isinya hanya beberapa butir telur, sekotak susu yang hampir habis, dan sisa kue bolu yang dia beli tiga hari lalu.
"Mungkin besok pagi aku harus membuat sesuatu yang manis," gumam Inge pada diri sendiri. Di lingkungannya, ada tradisi tidak tertulis untuk mengantarkan makanan kecil sebagai salam perkenalan kepada tetangga yang baru pindah. Sekaligus, itu adalah alasan yang bagus agar dia tidak dicap sebagai perawan tua yang sombong dan antisosial oleh lingkungan barunya.
Inge memotong sepotong bolu, mengunyahnya pelan di meja makan yang muat untuk empat orang, namun hanya diisi oleh satu kursi yang terpakai. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia menyukai kesendirian ini. Bahwa besok, dia hanya akan mengetuk pintu rumah sebelah, menyerahkan makanan, tersenyum ramah seperlunya, lalu kembali ke dunianya yang aman.
Dia tidak pernah menduga bahwa esok hari, takdir tidak hanya akan mengetuk pintunya, melainkan mendobrak seluruh dinding pertahanan yang telah dia bangun dengan susah payah selama beberapa tahun terakhir.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME, AFTER YOU (SEKUEL PAYLATER)
Romance(Novel ini adalah sekuel dari novel PAYLATER) Hidup mandiri Inge terusik saat Aditya, sang mantan dari masa lalu, pindah ke sebelah rumahnya bersama istri dan dua anaknya. Inge mencoba menjaga jarak, tapi kebaikan Hanum, istri Aditya, meluluhkan din...
