1. Agus

1 0 0
                                        

Pagi ini aku bangun dengan sedikit enggan karena membayangkan siapa yang akan aku temui setelah ini. Sosoknya menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Mulai warung kopi sampai kafe tempat nongkrong para eksekutif muda bergaji dua digit. Belum pernah ada fenomena seperti ini. Dimana ada seorang rakyat biasa yang dikenal oleh anak-anak sampai orang dewasa.
Dia terkenal karena perbuatannya membuat hukum seolah terbelah dua. Satu sisi membenarkan perbuatannya, tapi di sisi lain menuntutnya agar dihukum mati.
Di mataku, dia hanyalah seorang pembunuh berantai paling berbahaya. Bukan karena kekejamannya, tetapi karena masyarakat luas justru berpihak padanya. Bukan tidak mungkin perbuatannya akan memicu sosok-sosok lain seperti dirinya di masa depan.
Saat ditangkap, ia sama sekali tidak melakukan perlawanan, juga tidak mau wajahnya ditutup saat Polisi mengadakan konferensi pers. Bahkan ia tersenyum saat jaksa penuntut membacakan deretan perbuatan kejamnya. Mirisnya, sorak sorai tepuk tangan masyarakat yang antusias menghadiri persidangan turut menggema seolah mengagungkan perbuatan kejinya. Hakim akhirnya memutuskan agar sidang dilakukan secara tertutup.
Dunia memang sudah gila.
Sesampainya di penjara, Kepala Penjara langsung mengantarkanku ke ruangan interogasi. Negara memintaku menemui penjahat itu karena statusku sebagai dosen kriminologi paling dikenal di negri ini. Hukum negara ini sedang bingung. Karena tekanan masyarakat luas yang menuntut agar ia dibebaskan dari segala tuntutan.
Suara pintu terbuka, dan sosok penjahat keji itu duduk di hadapanku dengan santai. Badannya tinggi dan sangat atletis. Harusnya bisa dengan mudah melumpuhkan beberapa polisi yang meringkusnya. Tapi ia tidak melawan. Bahkan terkesan menunggu untuk ditangkap. Wajahnya tegas, sorot matanya cerdas. Tapi ada kesuraman di baliknya. Sorot mata khas seseorang yang tega menghabisi nyawa orang lain.
"Selamat pagi, Prof." sapanya tenang.
"Pagi. Tolong perkenalkan nama anda." jawabku menatapnya lekat-lekat.
"Nama saya Agus. Pembantai para koruptor."

#Hari2NamaAgus
#KomunitasAksaraTanpaNama
#ARKPublisher #EventATN2026

 Hymne For a KillerStories to obsess over. Discover now