We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

HATE

3 0 0
                                        

hai guys...

sejujurnya cerita ini sudah lama aku rancang, meski baru jadi 3 bab wkwk

senang rasanya aku akhirnya punya keberanian untuk publish cerita ini...

jujur aku ngga berharap banyak yang baca karena cerita ini hanya untuk sekedar menguji keberanianku dan mengasah cara menulisku yang masih amatir itu wkwk.

sekian.

selamat membaca.

# Bab 1 - Selingkuh

Seharusnya Nika mendengarkan apa kata pria yang tinggal di seberang apartemen pacarnya-ralat, sekarang sudah jadi mantan.

Flashback on.

Pagi itu, seperti kebiasaannya di akhir pekan, Nika berniat mengejutkan pacarnya dengan sarapan yang sudah ia beli di jalan. Namun rencana itu tidak pernah sampai pada tujuannya.

"Mbak, saran saya mending nggak usah masuk. Daripada Mbak-nya sakit hati."

Nika baru saja hendak mengisi pin sandi unit apartemen pacarnya ketika sebuah suara terdengar dari belakang punggungnya. Ia membalikkan badan, penasaran siapa yang berbicara. Ternyata tetangga seberang-seorang pria yang belum pernah benar-benar ia perhatikan sebelumnya.

Alisnya menyerngit. Ia tidak mengerti maksud pria itu. Memangnya pacarnya sedang apa?

"Maksud Mas-nya apa, ya?" tanyanya, berusaha terdengar tenang meski rasa penasaran mulai menjalar.

Pria di seberangnya menghela napas pelan. Terlihat dari wajahnya yang sempat menunduk lalu tegak kembali, seolah menimbang apakah ia perlu mengatakan ini atau tidak.

"Pacar Mbak kayaknya selingkuh, makanya saya sarankan nggak usah masuk."

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa basa-basi. Nika ingin percaya, tapi jauh di dalam hatinya ia lebih memilih percaya pada pacarnya. Rasa percaya itu, yang selama ini menjadi fondasi hubungan mereka, kini berubah menjadi amarah.

"Mas kalau ngomong jangan sembarangan, pacar saya nggak mungkin gitu. Kalau apa yang Mas bilang nggak benar, jatuhnya jadi fitnah, dosa Mas."

Pria itu malah tertawa pelan mendengarnya, tawa yang terdengar lebih seperti rasa iba daripada mengejek.

"Kalau Mbak nggak percaya ya sudah, orang saya lihat sendiri semalam Mas-nya pulang bawa cewek."

Telinga Nika memanas. Amarah yang tadi tertahan kini nyaris meluap. Ia tidak sanggup lagi mendengar lebih jauh.

"Haduh, terserah Mas aja deh. Saya nggak percaya apa kata Mas."

Ia mengucapkannya sambil melanjutkan mengisi pin. Pintu unit apartemen terbuka, dan Nika melangkah masuk lalu membanting pintu cukup keras-pelampiasan dari kekesalan yang belum sepenuhnya ia pahami sumbernya.

Ruang tamu di dalam berantakan, baju berserakan di mana-mana. Matanya menangkap sesuatu yang janggal-ada baju perempuan di antara tumpukan itu. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lift, rasa takut mulai menjalar di dadanya. Jangan-jangan yang dikatakan pria tadi benar.

"Sayang?" panggilnya, tapi hening menjawab. Pintu kamar tertutup rapat. Ia menduga pacarnya sedang tidur-wajar saja, pikirnya, ini masih pagi, dan pacarnya memang jarang bangun pagi di akhir pekan.

Biasanya, kalau pacarnya tidur di jam seperti ini, Nika akan membangunkannya sambil bercanda. Kali ini langkahnya lebih pelan, tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu kamar perlahan.

Dan di sanalah semuanya berhenti sesaat.

Pacarnya memang sedang tidur-tapi tidak sendiri. Seorang perempuan tidur di sebelahnya, di bawah selimut yang sama. Cahaya pagi yang menembus tirai jendela menyinari keduanya dengan jelas, tanpa ampun, seolah sengaja menunjukkan semuanya pada Nika tanpa ruang untuk keraguan. Nika berdiri mematung di ambang pintu. Ia tidak tahu berapa lama ia berdiri di situ, tangannya masih mencengkeram gagang pintu, dingin dan berkeringat sekaligus. Ada bagian dari dirinya yang berharap ini semua cuma mimpi buruk yang akan hilang begitu ia berkedip.

LOVE AND HATEStories to obsess over. Discover now